Cara Bijak Beri Tahu Anak Ngeprank Tanpa Menyakiti Orang Lain
·waktu baca 3 menit

Semakin berkembangnya zaman, internet kini bisa diakses oleh siapa saja termasuk anak-anak. Tak hanya digunakan sebagai salah satu metode belajar, internet juga kerap dimanfaatkan anak-anak untuk mencari tahu permainan kekinian. Salah satu yang cukup sering terdengar adalah mereka mengerjai teman-temannya atau prank.
Perasaan Fear of Missing Out (FOMO) membuat anak-anak kerap menyampaikan lelucon atau melakukan tantangan irasional, lalu diunggah ke media sosial untuk mendapatkan perhatian dari pengikutnya.
Banyak anak memahami bahwa mengerjai atau memberikan lelucon dapat mempermalukan seseorang. Apalagi, anak yang sedang berusaha mencari jati dirinya bisa bersikap seperti orang dewasa. Dalam dunia nyata pun anak-anak yang lemah cukup sering dikerjai, diejek bahkan dilecehkan. Maka dari itu, orang tua perlu mengajari bagaimana anak melakukan prank yang aman dan tidak menyakiti orang lain.
“Jika yang di-prank benar-benar marah, anak harus berhenti karena sudah terlalu jauh. Tapi berbeda, jika mereka bersenang-senang dengannya,” kata pendiri platform parenting DivaMoms.com, Lyss Stern, dikutip dari Today.
Cara Bijak Beri Tahu Anak Cara Prank yang Tepat
Peran orang tua sangat penting dalam mengawasi dan memberi tahu dampak dari melakukan prank yang dilakukan tanpa perhitungan. Sebab, tidak semua prank dapat diterima oleh target sasarannya. Ini adalah beberapa hal yang bisa Anda lakukan:
1. Diskusikan Prank yang Benar
Pertama, Anda perlu mengajari anak tentang kapan prank boleh dilakukan dan seperti apa cara terbaiknya. Penting juga ajari kapan lelucon itu menjadi tidak lucu dan justru menyinggung orang yang dikerjai. Anda bisa memberikan contoh prank yang aman terlebih dahulu.
2. Jangan Larang Semua Bentuk Prank
Dilansir Kids News, tidak semua bentuk prank buruk kok, Moms. Prank juga bisa menyenangkan selama dilakukan dengan cara yang benar. Bahkan ketika si kecil melakukannya terhadap keluarganya sendiri, maka prank bisa membangun rasa percaya antara anak dan orang tua.
Namun aturan yang perlu diingat adalah apakah lelucon yang mereka lakukan bisa membuat semua orang tertawa. Jika jawabannya tidak, maka prank tersebut tidak perlu dilakukan lagi.
3. Bedakan Prank untuk Mengerjai atau Menindas
Selain itu, beri pemahaman ke anak untuk berpikir apakah prank yang dilakukan hanya untuk mengerjai temannya atau justru mengintimidasi. Jika hanya lelucon tanpa mengejek seseorang dan dapat membuat semua orang tertawa, berarti prank boleh-boleh saja dilakukan.
Namun apabila prank memiliki tujuan jelas untuk mempermalukan atau mengejek orang lain, maka larang anak untuk melakukannya. Ajari mengapa penting bagi anak untuk menggunakan rasa empati sebelum melakukan prank.
4. Tidak Semua Perlu Diunggah ke Media Sosial
Tak sedikit anak yang ingin mengunggah momen prank ke media sosial. Namun perlu dipahami mungkin tidak semua target sasarannya ingin momen tersebut dilihat oleh banyak orang, sekalipun hasilnya tidak memalukan dan berbahaya. Ada baiknya tanyakan dulu kepada orang yang di-prank apakah boleh momen tersebut diunggah ke media sosial atau tidak.
