Kumparan Logo

Cara Hadapi Balita Ngamuk

kumparanMOMverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
ilustrasi balita menangis seperti mengamuk Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi balita menangis seperti mengamuk Foto: Shutterstock

Moms, apa yang biasanya Anda lakukan saat balita menangis keras, menjerit-jerit hingga membentak-bentak seperti orang sedang mengamuk? Malu, panik atau kesal? Memang bisa campur-aduk ya, rasanya. Apalagi bila si kecil ngamuk di tempat umum yang membuat Anda pun jadi tontonan.

Tapi ketahuilah, Moms, amukan si kecil yang juga sering disebut tantrum, merupakan hal yang wajar dilakukan oleh balita khususnya usia 2 hingga 3 tahun. Hal ini dijelaskan oleh Dr. Sharon Fried Buchalter dalam buku Children Are People Too.

Dr.Sharon juga menjelaskan, untuk bisa menghadapi amukan balita kita perlu terlebih dulu mengenali penyebab atau jenis tantrumnya. Pasalnya, beda penyebab akan beda juga cara menghadapinya, Moms.

Jenis tantrum ada 2; tantrum aktif dan tantrum pasif. Tantrum aktif lalu terbagi lagi menjadi tantrum protes dan tantrum sosial. Sementara tantrum pasif terbagi menjadi tantrum merengek dan tidak kooperatif.

Berikut, penjelasan dan cara menghadapinya:

ilustarsi balita mengamuk Foto: Shutterstock

Tantrum Aktif

  1. Tantrum Protes

Tantrum protes terjadi saat balita marah karena tidak bisa memperoleh hal yang diinginkannya.

Misal saat ia ingin satu mainan yang dilihatnya di mal. Rasa marah lalu mendorong anak menangis, menjerit, menghentak-hentakkan kaki atau menendang hingga melakukan hal yang bisa membahayakan seperti menjatuhkan diri atau menghantamkan kepalanya ke tembok!

Bila ini yang terjadi, coba beri anak ruang atau kesempatan untuk meluapkan emosinya. Tapi tetap awasi ya, Moms! Pastikan anak tetap aman dan selamat. Bila anak mulai melakukan hal-hal yang berbahaya, segera bertindak.

Anda juga bisa memberi anak pelukan atau membisikkan kata-kata yang menenangkan, tapi jangan kabulkan permintaan anak hanya untuk membuatnya berhenti mengamuk. Cobalah bersikap konsiten! Bersabar saja. Sikap anak akan berubah setelah amarahnya reda.

  1. Tantrum Sosial

Tantrum sosial terjadi bila anak marah (dengan seseorang) namun tidak tahu bagaimana harus mengatasi perasaannya itu. Akhirnya, ia bertindak agresif seperti memukul atau menendang!

Bila ini yang terjadi, jangan hukum atau marahi anak ya, Moms! Bantulah anak dengan 'menawarkan' kata-kata yang dapat mengekspresikan perasaannya. Misalnya, "Isya kesal karena mainan kamu diambil Deo?" atau "Kamu marah, ya? Karena Mbak Asih menutup jendelanya?" Dengan begini anak akan merasa dipahami.

Setelah amukannya reda, Anda dapat menjelaskan pada anak bahwa perbuatannya (memukul, menendang, menyakiti orang lain) tidak bisa diterima. Tapi tetap tunjukkan bahwa Anda selalu menyayanginya.

ilustrasi balita mengamuk Foto: Shutterstock

Tantrum Pasif

  1. Tantrum Merengek

Tantrum merengek terjadi saat balita merasa tidak puas atas suatu hal atau kondisi, namun tidak bisa mengatasi perasannya tersebut.

Akhirnya, ia ngambek atau 'mengganggu' Anda dengan pertanyaan yang bertubi-tubi, terus-menerus mengulangi kalimatnya dan mungkin dengan nada yang tidak enak.

Bila ini yang terjadi, hindari langsung menasihatinya. Percuma Moms, saat tantrum seperti ini, si kecil tidak akan mendengarkan nasihat Anda. Lebih baik, tunggu sampai anak berhenti merengek dan jelaskan padanya bahwa apa yang ia lakukan itu tidak baik.

Anda juga perlu mencoba lebih mengenali keinginan dan kebutuhan anak. Saat berpergian misalnya. Kenali kapan anak merasa lelah atau lapar agar bisa menjadwalkan kegiatan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya.

  1. Tantrum Tidak Kooperatif

Tantrum tidak kooperatif terjadi saat balita merasa tidak suka saat diminta melakukan sesuatu.

Misalnya saat diminta naik ke atas panggung, mencoba suatu kegiatan atau 'sekadar' menyalami kerabat yang baru dijumpainya. Sayangnya anak belum dapat mengatasi rasa tidak suka atau keengganannya tersebut, hingga ia malah mengamuk.

Bila ini yang terjadi, cobalah menenangkan diri Anda sendiri. Bila perlu, menjauh sebentar dari si kecil. Ini lebih baik daripada Anda terpancing untuk memarahinya.

Bila sudah tenang, Anda bisa memberi anak pilihan. Misalnya saat anak tidak mau mandi. Coba beri pilihan, "Arung mau mandi pakai gayung atau shower, Sayang?" Ini membuat balita merasa punya kendali dan akan cenderung bekerjasama dengan Anda.

Tapi jangan lupa untuk juga menurunkan harapan ya, Moms. Sebaiknya kita tidak berharap balita selalu mau melakukan apa-apa yang Anda minta. Orang tua juga perlu memerhatikan keinginan mereka.

kumparan post embed