Cara Hadapi Si Kecil yang Suka Memukul Diri Sendiri seperti Anak Tasya Kamila

Tingkah laku anak balita memang tak dapat diprediksi. Terkadang, bisa saja si kecil bersikap lucu nan menggemaskan. Namun, tiba-tiba ia juga bisa membuat orang di sekitarnya geleng-geleng kepala dan elus dada alias menahan sabar. Apalagi, anak usia balita biasanya belum bisa bicara dengan lancar. Sehingga, ia masih sulit mengungkapkan apa yang dirasanya itu.
Namun, biasanya balita akan mengekspresikan sesuatu yang dirasanya lewat tindakan. Misalnya saja, memukul dirinya sendiri. Kondisi inilah yang kini tengah dirasakan oleh mantan penyanyi cilik sekaligus ibu dari satu anak, Tasya Kamila.
Ya Moms, anak laki-lakinya, Arrasya Wardhana Bachtiar akhir-akhir ini kerap menunjukkan emosinya dengan tindakan fisik, yaitu memukul wajahnya sendiri. Sebagai seorang ibu, menurut Tasya, hal ini wajar dialami karena si kecil juga sedang dalam proses tumbuh kembang dan belajar banyak hal. Namun, saat melihat anaknya mengulang sikapnya itu, Tasya selalu berusaha untuk memberikan pemahaman kepada sang anak.
"Kita lagi sama-sama berlatih nih gimana caranya supaya kalau Arr marah enggak mukul-mukul (baik dirinya atau orang lain). Aku jelasin ke Arr kalau marah bolehnya pukul bantal/sofa saja. Pelan-pelan dia sudah mulai bisa nahan diri (kalau inget). Beginilah hari-hariku sebagai mom of a toddler, ada tips-tips enggak nih bunddd supaya mamanya sabar menghadapi Arr yang lagi hobi marah-marah?" tulis Tasya Kamila dalam salah satu unggahannya itu.
Penyebab dan Cara Hadapi Anak Balita Suka Memukul Diri Sendiri
Moms, perlu Anda pahami bahwa kebiasaan memukul diri sendiri seperti yang dialami anak Tasya Kamila rupanya adalah hal yang wajar dialami anak balita. Mengutip Todays Parent, sekitar 1 dari 4 balita akan memukul dirinya sendiri di wajah atau kepala pada saat-saat tertentu. Memukul kepala sendiri sering kali dilakukan balita mulai usia 6 bulan dan memuncak di usia 18-24 bulan. Lalu, apa alasan mereka melakukan hal tersebut?
Umumnya, si kecil melakukan hal tersebut karena merasa sedang frustasi. Sama seperti anak Tasya Kamila, sebagian besar anak yang memukul dirinya sendiri mengalami emosi yang kuat namun tidak tahu bagaimana untuk meluapkannya secara verbal.
Sebagai orang tua, Anda pun diharapkan dapat membantu anak untuk mengenali serta melabeli emosi. Misalnya dengan mengatakan "kamu sepertinya sedang bersedih’" atau “Ibu tahu kamu sedang marah". Setelah itu ajari dirinya strategi meredakan emosi yang lebih sehat.
Anak Balita Frustasi
Adapun saat anak mulai memukul-mukul kepalanya sendiri karena frustasi, cobalah untuk melindungi kepalanya dengan tangan Anda, Moms. Lalu, perlahan baringkan tubuhnya ke pelukan. Tuntun ia mengambil dan membuang napas perlahan agar lebih rileks. Setelah balita tenang, Anda bisa bicara baik-baik bahwa yang ia lakukan bisa menyakiti tubuhnya.
Cari Perhatian
Selain itu, anak suka memukul diri sendiri bisa jadi karena ia sedang mencari perhatian Anda atau orang di sekitarnya, Moms. Saat memukul, si kecil cenderung merasa puas dan ada kebutuhan sensoriknya yang terpenuhi.
Anda pun boleh mengabaikannya jika tidak berbahaya bagi balita. Sebaliknya, jika Anda panik berlebihan, hal ini akan membuat anak merasa berhasil dan akan melakukannya lagi di lain waktu.
Sakit
Memukul diri sendiri juga bisa berarti si kecil sedang kesakitan. Ya Moms, ini bisa menjadi salah satu cara anak untuk mengalihkan rasa nyeri, misalnya rasa sakit saat tumbuh gigi atau infeksi telinga. Untuk itu, selalu perhatikan si kecil lebih detail ya, Moms. Karena bisa jadi ia sedang memberi pesan kepada Anda bahwa dirinya merasa sakit.
Tanda Gangguan Perkembangan Anak
Meski kebanyakan alasannya tidak perlu dikhawatirkan, memukul diri sendiri bagi balita juga bisa berarti serius dalam beberapa kasus. Perilaku itu bisa merupakan pertanda gangguan neurodevelopmental seperti autisme atau attention deficit-hyperactivity disorder (ADHD).
Terutama jika kebiasaan itu diikuti keterlambatan kemampuan berbahasa, mengepakkan lengan, dan ia tidak tertarik berkomunikasi dengan orang tua atau teman sebaya. Apabila anak Anda mengalaminya, segera bawa anak ke dokter.
