Cerita Ibu: Lahir Prematur, Kemampuan Motorik Bayi Saya Terlambat

7 April 2022 19:23
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi bayi belum bisa merangkak karena keterlambatan perkembangan motorik. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi belum bisa merangkak karena keterlambatan perkembangan motorik. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Ibu mana yang tak ingin bisa hamil dan melahirkan dengan lancar. Namun terkadang, ada beberapa kendala yang bisa dialami ibu hamil, salah satunya adalah melahirkan bayi prematur atau lahir di bawah usia kandungan 37 minggu.
ADVERTISEMENT
Seperti kisah Sisca yang harus melahirkan ketika usia kandungannya baru memasuki 32 minggu. Tak mudah proses bersalin yang dijalaninya, karena selain harus dilakukan lewat operasi caesar, ia melahirkan dalam kondisi sedang positif COVID-19. Anak pertamanya itu lahir dengan berat badan rendah yakni 2.250 gram.
Anak Sisca yang lahir prematur kini sudah menginjak usia 13 bulan. Semakin beranjak besar, ternyata ia menyadari bayinya tidak mau merangkak dan belum bisa duduk sendiri. Padahal, milestone bayi bisa merangkak dan duduk sendiri berlangsung antara usia 6-9 bulan.
Akhirnya ia pun memutuskan untuk membawa bayinya ke dokter dan disarankan untuk melakukan fisioterapi pediatrik. Saat ini, Sisca sedang berusaha fokus untuk mengajak anaknya belajar sesuai usia perkembangannya.
ADVERTISEMENT
Nah Moms, cerita Ibu Sisca yang dibagikan lewat akun Instagram @kumparanMOM ini mendapat respons dari followers. Banyak yang memberikan semangat, dan ada juga followers membagikan kisah yang mirip dengan yang dialami Sisca.
"Peluk bunda sisca semangat yaa," tulis pemilik akun @vitha_novitha11.
"Omongan org yg julid gausah didengerin bunda.... Bikin sakit hati, tutup kuping rapat2 untuk org yg suka julid...," kata akun @ershalianaa.
"Semangat bunda, semoga si buah hati bisa secepatnya mengejar segala kemampuan berdasarkan usianya.. Tuhan tidak akan membiarkan selamanya bunda dalam kesedihan.. semangat ya bunda.. GBU," tulis pemilik akun @artieyuniartie.
Ya Moms, bayi lahir prematur seperti anak Sisca memiliki risiko lebih tinggi mengalami berbagai masalah kesehatan, karena tumbuh kembangnya di dalam kandungan belum mencapai titik maksimal. Untuk mengetahui kenapa bayi prematur memiliki risiko mengalami gangguan motorik, simak penjelasan dokter berikut ini.
ADVERTISEMENT

Penjelasan Dokter soal Terlambatnya Gangguan Motorik pada Bayi Prematur

Ilustrasi kemampuan motorik bayi. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kemampuan motorik bayi. Foto: Shutter Stock

Penyebab Bayi Alami Gangguan Motorik

Penelitian menunjukkan bayi lahir saat usia kehamilan antara 32-36 minggu berisiko lebih tinggi mengalami keterlambatan dalam perkembangan motorik, kognitif, dan bahasa daripada yang lahir cukup bulan. Bayi prematur pun membutuhkan waktu lebih lama untuk mengembangkan keterampilan-keterampilannya itu, Moms.
Tapi, selain lahir prematur, sebenarnya ada beberapa faktor lainnya yang membuat bayi bisa mengalami keterlambatan motorik.
"Bayi yang lahir prematur (kurang dari 37 minggu usia kehamilan) memang punya risiko akan mengalami gangguan perkembangan, terutama hingga usia kandungan 36 bulan. Motoric delay bisa disebabkan banyak faktor, antara lain kelahiran prematur, penyakit infeksi ibu selama kehamilan, atau pun penyakit-penyakit yang dialami bayi setelah lahir seperti cerebral palsy (keadaan otak tidak berkembang semestinya), dan gizi buruk," kata Dokter Spesialis Anak, dr. Naomi Riahta, SpA, M.Ked(Ped) kepada kumparanMOM, Rabu (6/4).
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Gangguan motorik ini juga terjadi karena pertumbuhan organ tubuh bayi lahir prematur biasanya belum matang atau sempurna. Hal ini bisa berpengaruh pada perkembangan otaknya, karena perkembangan sel saraf di otak baru terjadi pada usia kehamilan 34-36 minggu.
Ilustrasi foto USG. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi foto USG. Foto: Shutter Stock
Lantas, apakah gangguan motorik bisa dideteksi sejak kehamilan?
"Motoric delay tidak bisa dideteksi dari dalam kandungan. Tapi beberapa faktor risiko terjadinya motoric delay bisa diprediksi dari dalam kandungan dengan USG. Misal, bayi dengan kelainan kromosom seperti down syndrome yang sering mengalami motoric delay, itu sudah bisa terdeteksi sejak dari kandungan," jelas dokter yang praktik di RS JMC Jakarta Selatan.

Orang Tua Perlu Berikan Stimulasi

Ketika sudah mengetahui risiko-risiko yang mungkin dialami ketika bayi lahir prematur, sebaiknya orang tua juga mempersiapkan dengan matang soal rencana tumbuh kembangnya. Ternyata, salah satu penyebab bayi prematur mengalami keterlambatan motorik karena kurangnya pemberian stimulasi.
ADVERTISEMENT
"Stimulasi sangat penting bagi tumbuh kembang anak, baik dalam kemampuan motorik maupun kemampuan berbahasa dan sosialnya. Motoric delay juga bisa disebabkan karena kurangnya stimulasi dari orang tua. Sehingga penting bagi tiap orang tua untuk melakukan stimulasi bagi anak sejak dini," ujar dr. Naomi.
Beberapa stimulasi yang bisa dilakukan orang tua misalnya menelungkupkan bayi untuk melatih kekuatan ototnya. Dengan cara ini, diharapkan bayi sudah mampu mengangkat kepala sendiri ketika tengkurap pada usia 2 bulan.
Ketika usia sudah 1 tahun seperti balita Ibu Sisca, Anda bisa mengajaknya bernyanyi atau membacakan dongeng untuk melatih kemampuan bahasanya.

Segera Konsultasi ke Dokter

Ilustrasi bayi sedang terapi untuk melatih kemampuan motorik. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi sedang terapi untuk melatih kemampuan motorik. Foto: Shutter Stock
Perkembangan setiap bayi memiliki kecepatan yang berbeda-beda dan keunikan tersendiri. Namun ternyata, masih sering terjadi kasus orang tua tidak menyadari bayinya mengalami keterlambatan perkembangan motorik dan gangguan lainnya.
ADVERTISEMENT
Padahal, sangat penting untuk skrining perkembangan si kecil, sehingga gangguan dapat dideteksi lebih dini dan dicarikan solusinya. dr. Naomi pun menyarankan orang tua untuk lebih sering mencari informasi atau membaca buku KIA Kemenkes. Karena sudah banyak akses untuk mencari tahu informasi perkembangan sesuai usia anak, termasuk bagaimana cara menstimulasinya.
"Pada kasus ini, orang tua sudah sangat tepat memeriksakan anaknya ke dokter dan mengikuti saran dokter untuk menjalankan terapi. Tetapi, peran orang tua di rumah untuk melakukan stimulasi setiap hari sesuai saran terapis juga sangat penting," tutup dr. Naomi.
=====
Yuk, baca lebih banyak #CeritaIbu yang inspiratif di Instagram @kumparanmom. Atau ingin ikut berbagi cerita? Bisa, Moms! Kirimkan saja cerita Anda lewat DM Instagram @kumparanmom.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020