Curhat para Ibu: Hidup Makin Berat, tapi Anak Harus Tetap Berpegang pada Nilai
·waktu baca 3 menit

Kondisi Jakarta dan sejumlah kota besar lain yang mengalami kerusuhan akibat aksi demonstrasi beberapa hari terakhir menyisakan rasa waswas bagi banyak orang, termasuk para ibu.
Namun situasi ini bukan hanya tentang kerusuhan di jalan, tapi juga tentang bagaimana menjelaskan pada anak-anak kenapa para pemimpin negeri yang seharusnya melindungi, justru kerap menunjukkan sikap tamak dan jauh dari rakyat. Sebab akar dari kerusuhan tersebut adalah ketidakmampuan para pemimpin menjalankan amanah rakyat.
Dian Fath, seorang ibu 2 anak, mengaku sedih sekaligus marah melihat keadaan sekarang.
“Sebagai ibu, rasanya sedih dan capek banget lihat keadaan sekarang. DPR dan pemerintah kok kayak nggak mikirin rakyat. Mereka maunya tambah tunjangan, hidup mewah, padahal kita di bawah ini susah banget. Harga beras naik, minyak naik, susu buat anak aja kadang mikir-mikir,” ujarnya kepada kumparanMOM, Sabtu (30/8).
Meski marah, ia juga mengaku khawatir jika demo berujung rusuh. Namun di sisi lain, ia memahami mengapa banyak orang turun ke jalan. “Karena rakyat udah capek banget, nggak kuat,” tambah ibu yang tinggal di Tangerang ini.
Harapannya sederhana: harga bahan pokok yang stabil, gaji guru dan UMR naik, akses kesehatan yang mudah, serta beban pajak yang tidak semakin mencekik. Ia juga minta sekolah swasta disubsidi juga agar biayanya lebih terjangkau.
“BPJS atau rumah sakit jangan ribet, kalau anak sakit harusnya gampang berobat tanpa dipersulit. Jangan kebanyakan pajak! Gila banget pemerintah semua dipajakin,” kata Dian.
Nilai-nilai kejujuran dan anti-keserakahan juga ia tanamkan pada anak-anaknya. Dian memilih olahraga sebagai medium. “Dari olahraga, mereka belajar sportivitas, kerja sama, disiplin. Kalau kalah jangan ngambek, kalau menang jangan sombong. Itu melatih mereka biar nanti nggak gampang curang dan sehat jasmani rohani,” tuturnya.
Senada dengan Dian, ibu lainnya, Ayunda, mengaku prihatin melihat sikap pemerintah dan DPR yang dianggap arogan serta minim empati.
“Sangat disayangkan melihat kelakuan ‘karyawan rakyat’ tapi tidak pro-rakyat, terlebih in this economy harga sembako melambung naik. Sedih sekali melihat pernyataan-pernyataan satir dan arogan itu,” kata Ayunda, yang juga ibu 2 anak.
Ia menyoroti betapa beratnya kondisi rakyat kecil, yang bahkan untuk makan tiga kali sehari dengan lauk layak saja sulit. “Saya harap pemerintah bisa terbuka matanya, jangan berfoya-foya di tengah kesulitan rakyat, karena kalian hidup dari pajak yang telah kami bayarkan,” ujar ibu yang tinggal di Jakarta Selatan ini.
Harapannya sederhana: harga sembako stabil, tidak ada lagi kejadian beras oplosan, dan pejabat berhenti mengeluarkan pernyataan yang memperkeruh suasana. “Minimal statement dari para pemangku jabatan tidak menambah keruh dan kegaduhan. Itu saja,” kata Ayunda.
Untuk anak-anaknya, Ayunda menanamkan nilai tauhid dan adab sejak dini. Menurutnya, kejujuran, kerja keras, rasa cukup, dan kesabaran adalah kunci agar anak tidak tumbuh menjadi sosok yang tamak. Ia juga menekankan pentingnya nilai Pancasila yang bukan sekadar teks upacara, melainkan panduan hidup.
Di tengah kekacauan, suara ini menjadi pengingat: meski kecewa dan lelah, sebagai ibu, kita tetap berpegang pada harapan. Harapan agar pemerintah kembali berpihak pada rakyat, dan agar anak-anak tumbuh menjadi generasi yang jujur, adil, serta tidak mengulang kesalahan para pemimpin hari ini.
