Dampak Body Shaming pada Anak yang Perlu Orang Tua Waspadai

21 Agustus 2021 16:06
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi anak sedih, anak stres, anak jadi korban bully. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak sedih, anak stres, anak jadi korban bully. Foto: Shutterstock
Menggunakan fisik anak sebagai bahan candaan bisa jadi terbilang hal biasa untuk sebagian orang tua. Misalnya, ketika orang tua memberikan panggilan seperti si gendut, si pesek, atau si hitam pada anaknya. Tanpa sadar, saat itu Anda sedang melakukan body shaming pada si kecil.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) melalui laman resminya menjelaskan bahwa body shaming termasuk jenis bullying verbal yang dapat mempermalukan orang lain.
Body shaming adalah perilaku mengkritik atau mengomentari kondisi fisik orang lain dengan tujuan melecehkan, menghina, atau meledek. Hal ini termasuk mengejek bentuk tubuh yang gendut, kurus, pendek, atau tinggi.
Menurut Kemen PPPA, perilaku body shaming dapat memberikan dampak buruk pada anak-anak dan perlu diwaspadai oleh orang tua seperti berikut ini:

4 Dampak Buruk Body Shaming pada Anak

1. Kecemasan sosial
Ilustrasi anak cemas. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak cemas. Foto: Shutter Stock
Ketika anak diintimidasi di depan umum, respons alaminya adalah menghindar atau diharuskan untuk bisa menempatkan diri dalam situasi tersebut. Ini dapat membuat anak akhirnya mengisolasi dirinya dari dunia luar dan menghindari interaksi sosial, karena selalu merasa takut dan malu akan diintimidasi.
2. Depresi
Anak yang mendapat body shaming akan merasa tidak percaya diri, kesepian dan mengasihani dirinya sendiri. Nah, hal ini dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan mental seperti depresi pada anak.
3. Gangguan makan
Anak menolak makan. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Anak menolak makan. Foto: Shutter Stock
Anak-anak mungkin mengalami body shaming karena bentuk tubuhnya yang dianggap terlalu besar atau terlalu kurus. Pada akhirnya mereka akan mengalami gangguan makan, yaitu percaya bahwa dengan mengontrol asupan makanan dapat mengubah bentuk tubuhnya. Sehingga mereka akan terhindar dari body shaming.
4. Menarik diri
Bukan cuma malu, korban body shaming biasanya akan lebih sering menarik diri dari keramaian untuk dapat menenangkan dirinya. Menurut studi Journal of Behavioral Medicine, ada banyak perubahan sikap yang akan terjadi pada korban body shaming, misalnya mudah tersinggung, pendiam, malas makan, hingga depresi.
Jadi, jangan pernah melakukan body shaming ke anak dengan memanggil si kecil dengan bentuk fisiknya, ya. Pastikan juga, anak bersikap terbuka jika ia mendapatkan body shaming dari temannya atau orang lain.
Penulis: Hutri Dirga Harmonis