Dampak Perceraian bagi Ibu dan Anak
ยทwaktu baca 3 menit

Perceraian bukanlah sesuatu yang mudah diputuskan dalam sebuah hubungan pernikahan. Ya, tidak ada yang ingin pernikahan berakhir dengan perceraian. Namun, perpisahan dengan cara ini kerap dijadikan jalan keluar pasangan yang tidak menemukan solusi atas permasalahan hubungan rumah tangga mereka.
Setiap pasangan memiliki alasan perceraian masing-masing. Mulai dari punya riwayat mengalami kekerasan fisik, masalah finansial, pasangan meninggalkan rumah bertahun-tahun tanpa alasan yang jelas dan alasan lainnya. Tentunya, apa pun alasan perceraian bisa menimbulkan sejumlah dampak jangka pendek maupun panjang. Tak hanya bagi para ibu, tapi bisa berdampak pula pada anak.
"Kalau kita lihat risiko dan dampak perceraian pada perempuan dan anak ini sangat beragam. Ada kerentanan ekonomi keluarga hingga mengganggu kesehatan jiwa. Ini yang perlu kita pertimbangkan bila terjadi perceraian," ujar Direktur Keluarga, Perempuan, Anak, Pemuda dan Olahraga Kementerian PPN/Bappenas, Woro Srihastuti, dalam webinar 'Advokasi Hasil Pengawasan Pemenuhan Hak Pengasuhan Anak pada Orang Tua Tunggal, Berkonflik, dan Bercerai' yang diselenggarakan Komisi Perlindungan Anak Indonesia beberapa waktu lalu.
Lantas, seperti apa dampak perceraian pada perempuan dan anak menurut Bappenas?
Dampak Perceraian pada Ibu dan Anak
1. Kerentanan Ekonomi Keluarga
Pendapatan keluarga berkurang sehingga mempengaruhi kesejahteraan dan keberlangsungan hidup, terutama bagi istri yang tidak bekerja dan anak
Anak berpotensi tidak mendapatkan pemenuhan kebutuhan dasarnya secara optimal
2. Risiko Pengasuhan
Berpisahnya orang tua akan memunculkan pola pengasuhan yang berbeda bagi anak
Meningkatnya risiko penelantaran dan bagian-bagian anak
Risiko pengalihan pengasuhan anak pada keluarga atau kerabat selain orang tua, khususnya jika ibu terpaksa bekerja untuk menjadi kepala keluarga
Anak berisiko kehilangan role model yang baik dari orang tuanya sehingga dapat berisiko pada pola perilakunya
3. Interaksi sosial
Risiko munculnya ketidakadilan gender melalui stigmatisasi terhadap perempuan yang bercerai (perempuan atau istri kerap menjadi pihak yang disalahkan dalam kasus perceraian konotasi negatif 'janda' di masyarakat)
Anak korban perkawinan anak berisiko menarik diri dari pergaulan dan sulit beradaptasi
Melemahnya bonding dengan keluarga berdampak pada perilaku berisiko pada anak
4. Risiko mengalami tindak kekerasan
Dampak perceraian akan berdampak pada penurunan resiliensi anak, sehingga anak beresiko mengalami berbagai tindakan kekerasan, baik secara verbal, fisik, maupun seksual
Status sebagai perempuan bercerai berpotensi untuk menjadi korban berbagai bentuk kekerasan, seperti perundungan dan pelecehan seksual
5. Anak sebagai objek perselisihan
Anak berisiko menjadi objek dalam perkara perebutan hak asuh dan pembagian aset atau harta kepada orang tua yang bercerai hal ini akan menyebabkan anak menjadi tidak nyaman
6. Kesehatan jiwa bagi perempuan dan anak
Trauma pada perempuan dan anak khususnya pada perceraian akibat adanya tindak kekerasan
Perasaan tertekan, merasa bersalah, sedih berkepanjangan akan berdampak pada penurunan kesehatan anak dan juga prestasi belajar di sekolah
Dampak psikologis pada perempuan: stres, merasa bersalah, cemas, takut, dan tidak bahagia
Oleh sebab itu, Moms, bila perceraian adalah jalan keluar terbaik menurut Anda dan pasangan, pastikan beberapa hal di atas agar risiko-risiko buruk yang mungkin terjadi dapat dicegah.
