Kumparan Logo

Dampak Perceraian Orang Tua pada Psikologis Anak

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
 Anak melihat orang tua bertengkar.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Anak melihat orang tua bertengkar. Foto: Shutterstock

Perceraian rasanya bukan jadi titik akhir yang diharapkan oleh pasangan suami istri. Meski begitu, ada kalanya perpisahan mungkin jadi keputusan terbaik saat perdebatan rumah tangga tak lagi mendapatkan titik temu.

Ya Moms, perceraian tak hanya berdampak pada relasi suami istri. Lebih dari itu, anak-anak juga bisa merasakan dampaknya karena kedua orang tua tak lagi hidup bersama.

Dikutip dari Verywell Family, beberapa anak mungkin akan mengalami stres bila harus menghadapi kenyataan orang tuanya yang berpisah. Penelitian menemukan, anak-anak bisa mengalami masa paling sulit dalam satu atau dua tahun pertama setelah perceraian. Mereka cenderung mengalami kesulitan, ada perasaan marah, cemas dan sulit percaya dengan orang lain.

Dampak pada Anak dari Perceraian Orang Tua

Ilustrasi anak bersedih karena perceraian orang tua Foto: Shutterstock

Bagi anak yang usianya masih kecil, mungkin saja ada perasaan khawatir ia tidak akan mendapatkan kasih sayang yang sama dari kedua orang tuanya. Sementara bagi anak-anak di usia sekolah dasar mungkin khawatir bahwa perceraian adalah kesalahan mereka. Mereka mungkin takut telah melakukan atau berasumsi bahwa mereka telah melakukan kesalahan.

Sementara pada remaja, efek perceraian mungkin membuat mereka sangat marah. Mereka akan menyalahkan salah satu orang tua atas keputusan tersebut.

Namun, dalam keadaan yang ekstrim, seorang anak mungkin merasa lega dengan perpisahan tersebut. Sebab, perceraian berarti lebih sedikit pertengkaran, lebih sedikit stres dan lebih sedikit bahaya.

Dampak lain pada anak akibat perceraian orang tua, yaitu:

-Masalah Kesehatan Mental

Ilustrasi perceraian Foto: Shutterstock

Perceraian dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mental pada anak dan remaja. Terlepas dari usia, jenis kelamin, dan budaya, anak-anak dari orang tua yang bercerai berisiko mengalami masalah psikologis.

Perceraian dapat memicu gangguan penyesuaian pada anak. Penelitian juga menemukan bahwa tingkat depresi dan kecemasan lebih tinggi terjadi pada anak-anak yang orang tuanya bercerai.

-Masalah Perilaku

Anak-anak dari keluarga yang bercerai mungkin mengalami banyak masalah eksternal. Misalnya saja, gangguan perilaku, hingga perilaku impulsif. Anak-anak juga mungkin mengalami lebih banyak konflik dengan teman sebayanya setelah orang tua bercerai.

-Prestasi Akademik yang Buruk

Ilustrasi anak sedih, murung, trauma. Foto: FAMILY STOCK/Shutterstock

Banyak anak dari orang tua yang bercerai mengalami masalah akademis. Namun, sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2019 menunjukkan, anak-anak dari keluarga yang bercerai cenderung mengalami kesulitan di sekolah jika perceraian tersebut terjadi secara tidak terduga.

Meski begitu, dampak perceraian pada anak dapat diminimalisasi bila orang tua bisa meyakinkan si kecil dan menerapkan co-parenting yang baik. Dengan begitu, anak tidak akan merasa kehilangan kasih sayang dari salah satu orang tua.

Ingat, ada mantan suami atau istri, namun tidak ada mantan anak atau orang tua. Jadi, pastikan si kecil tetap dapat kasih sayang dari kedua orang tuanya, ya.

kumparan post embed