Dokter: Anak Laki-laki Juga Perlu Vaksin HPV
·waktu baca 2 menit

Kanker leher rahim sering disebut sebagai “silent killer” karena gejalanya hampir tidak terlihat pada tahap awal. Banyak perempuan bahkan tidak menyadari dirinya terinfeksi HPV, virus penyebab utama kanker ini.
Padahal, jika virus menetap, risiko berkembang menjadi kanker leher rahim bisa muncul 15–20 tahun kemudian. Oleh karena itu, pencegahan dan deteksi dini menjadi kunci utama untuk melindungi kesehatan perempuan sejak usia muda.
Kemudian hal lain yang perlu digarisbawahi adalah, vaksin HPV tidak hanya untuk anak perempuan, Moms. Anak laki-laki juga perlu mengikuti vaksinasi HPV sebelum aktif berhubungan seksual. Simak penjelasannya sampai akhir, ya!
Dokter Spesialis Anak, Prof. DR. Dr. Soedjatmiko, Sp.A (K), menjelaskan, banyak perempuan yang tidak menyadari dirinya terinfeksi HPV karena 70-90 persen kasus tidak menimbulkan gejala dan kadang-kadang virus bisa hilang sendiri dalam 1–2 tahun. Namun, sekitar 5–10 persen virus menetap di tubuh, terutama di leher rahim, tanpa menimbulkan keluhan apa pun.
“Yang tadi kalau dengan kemoterapi, dengan radiasi akan dapat rambut rontok, kurus, akan tidak bisa puncung meninggal,” kata Prof. Soedjatmiko di Jakarta Selatan, Senin (17/11).
Pentingnya Vaksin HPV dan Skrining Dini untuk Pencegahan Kanker Leher Rahim
Karena itulah, pencegahan sejak dini sangat penting. Anak perempuan sebaiknya sudah mendapatkan vaksin HPV sebelum usia 15 tahun, minimal satu kali.
Selain itu, tes skrining seperti Pap smear menjadi langkah penting untuk mendeteksi sel-sel abnormal di leher rahim pada tahap awal, ketika kanker belum menunjukkan gejala. Dengan skrining dini, risiko berkembangnya kanker leher rahim dapat diminimalkan.
Prof. Soedjatmiko juga menekankan bahwa virus HPV bisa menular ke laki-laki, meski angka infeksinya memang lebih sedikit dibandingkan perempuan. Pencegahan melalui vaksinasi dan edukasi sejak dini menjadi kunci untuk melindungi generasi muda dari risiko penyakit serius ini.
“Virus pada leher rahim perempuan bisa menularkan pada laki-laki, tapi angka studinya memang pada laki-laki lebih sedikit,” tutupnya.
