Dokter: Kebutuhan Vitamin D Anak Tidak Cukup Hanya dari Makanan Saja

Vitamin D menjadi salah satu nutrisi penting untuk mendukung pertumbuhan dan kesehatan tulang anak. Namun, kebutuhan vitamin D ternyata masih belum terpenuhi pada sebagian anak di Indonesia.
Berdasarkan riset PubMed yang melibatkan total 5.870 anak dan remaja usia 6 bulan hingga 19 tahun, ditemukan bahwa sekitar 33 persen mengalami hipovitaminosis D. Studi tersebut juga menyebutkan bahwa data ini menunjukkan masalah kekurangan vitamin D masih perlu menjadi perhatian di Indonesia.
Kondisi ini bisa terjadi karena berbagai faktor, termasuk kurangnya paparan sinar matahari dan rendahnya konsumsi makanan yang menjadi sumber vitamin D, seperti ikan, kuning telur, dan susu.
Menurur Dokter Spesialis Anak yang juga expert kumparanMOM, dr. Reza Abdussalam, Sp.A, kekurangan vitamin D pada anak tidak selalu disadari orang tua. Padahal, vitamin D berperan dalam membantu tubuh menyerap kalsium dan fosfor yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tulang.
"IDAI merekomendasikan suplementasi vitamin D tanpa harus ada pengecekan kadar darah dan tanpa memandang jenis makanan yang dikonsumsi," jelas dr. Reza saat dihubungi kumparanMOM, Rabu (9/9).
Kekurangan Vitamin D Bisa Berdampak pada Anak
Vitamin D yang tidak tercukupi dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Salah satu kondisi yang paling dikenal adalah rakitis, yaitu gangguan pertumbuhan tulang pada anak yang dapat membuat tulang menjadi lunak dan lemah.
dr. Reza juga menjelaskan bahwa kekurangan vitamin D juga dapat mengganggu pertumbuhan tulang, kelemahan otot, hingga keterlambatan tumbuh gigi dan berjalan. Karena itu, mencukupi kebutuhan vitamin D menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung kesehatan anak sejak dini.
Berapa Kebutuhan Vitamin D untuk Anak?
Menurut dr. Reza, suplementasi vitamin D dapat diberikan pada anak dengan dosis:
Bayi usia 0–12 bulan: 400 IU per hari
Anak di atas 1 tahun hingga dewasa: 600 IU per hari
Rekomendasi dosis tersebut juga sejalan dengan pedoman Kementerian Kesehatan yang mencantumkan kebutuhan vitamin D harian sebesar 400 IU untuk bayi hingga usia 12 bulan dan 600 IU untuk anak di atas 1 tahun.
"Suplementasi menjadi cara yang paling pasti untuk memberikan asupan vitamin D yang terukur dan konsisten. Berbeda dengan sumber alami yang dipengaruhi banyak faktor, suplemen membantu memastikan kebutuhan vitamin D anak tetap terpenuhi setiap hari," ujar dokter yang praktik di RS Brawijaya Antasari ini.
Meski suplementasi dapat membantu memenuhi kebutuhan vitamin D, orang tua tetap perlu memperhatikan dosis dan kondisi masing-masing anak. Untuk anak dengan kondisi kesehatan tertentu, kebutuhan vitamin D bisa berbeda sehingga pemberiannya sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter.
