Kumparan Logo

Dokter Paru Ingatkan Bahaya Asap Rokok Dalam Ruangan

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dokter Paru Ingatkan Bahaya Asap Rokok Dalam Ruangan. Foto: REUTERS/Eric Gaillard
zoom-in-whitePerbesar
Dokter Paru Ingatkan Bahaya Asap Rokok Dalam Ruangan. Foto: REUTERS/Eric Gaillard

Moms, apakah Anda menyadari bahwa asap rokok di dalam ruangan sama berbahayanya dengan polusi udara di luar ruangan? Selain itu, asap rokok juga merupakan polutan udara nomor satu di ruangan.

Hal itu diungkap Guru besar Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. Agus Dwi Susanto SpP(K) dalam diskusi kesehatan tentang akibat polusi udara yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa (8/8).

"Sumber dalam ruangan yang paling banyak adalah asap rokok dari keluarga, jadi orang-orang di rumah yang merokok jadi nomor satu polusi udara di dalam ruangan," ucap Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tersebut.

Dokter Agus memaparkan, berdasarkan riset di RS Persahabatan 2017, anak-anak yang tinggal di rumah dengan orang tua yang merokok memiliki risiko gejala pernapasan seperti batuk, sakit tenggorokan dan sesak nafas yang jauh lebih tinggi dibanding anak yang di rumahnya tidak ada perokok.

"Dengan munculnya gejala pernapasan tersebut, terbukti bahwa nilai ambang batas kualitas udara di dalam rumah bisa lebih buruk bahkan sama dengan kualitas udara di luar ruangan yang di atas normal," imbuh Dokter Agus.

Dokter Agus mengatakan, mengukur kualitas udara di dalam ruang bisa menggunakan parameter yang disarankan WHO yaitu PM 2,5 dengan nilai standar nol sampai 15 mikrogram per meter kubik.

Apabila nilai ambang batas di atas 30 mikrogram per meter kubik, maka akan muncul gejala iritasi, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan dapat memengaruhi fungsi paru-paru.

"Dampak polusi dalam ruangan itu sama dengan luar ruangan, risiko-risiko penyakitnya sama sepanjang kadarnya memang berbahaya, juga yang terpenting adalah mengukur kualitas udara di dalam ruang parameter yang paling bagus memakai parameter PM 2,5, kalau di bawah nilai standar WHO 15 mikrogram," kata Dokter Agus.

Dokter yang juga tergabung dalam organisasi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) itu juga menyebut, apabila nilai parameter kualitas udara di dalam ruangan baik, maka risiko iritasi maupun pernapasan tidak akan muncul. Dokter Agus mengingatkan agar orang tua memiliki alat ukur terutama jika tinggal di daerah polutan yang tinggi.

kumparan post embed

Kualitas udara di dalam rumah bisa dijaga dengan memakai AC atau pendingin ruangan dengan mode recirculate. Dengan mode itu, sirkulasi udara bisa berputar dengan baik.

Orang tua juga bisa menggunakan air purifier untuk menjaga kualitas udara dan membersihkan udara dalam rumah dari asap rokok hingga asap dari masakan.

Ia juga menyarankan untuk menanam beberapa jenis tanaman dalam ruangan yang dapat menyerap polutan seperti lidah buaya atau tanaman lainnya. Selain juga memastikan ventilasi udara jangan terlalu terbuka jika rumah berada di daerah dengan polutan tinggi.