Kumparan Logo

Gen Alpha Hidup di Era Gadget yang Serba Instan, Benarkah Jadi Nggak Sabaran?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak main gadget/HP. Foto: T.Photo/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak main gadget/HP. Foto: T.Photo/Shutterstock

Anak-anak Gen Alpha tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat. Video pendek, game online, hingga berbagai informasi bisa diakses hanya dalam hitungan detik. Kondisi tersebut membuat anak terbiasa mendapatkan sesuatu dengan cepat.

Tak heran jika kemudian muncul anggapan bahwa anak Gen Alpha cenderung lebih tidak sabaran. Namun, benarkah kebiasaan menggunakan gadget menjadi penyebabnya?

Psikolog Pendidikan, Madeline Jessica, M.Psi, Psikolog, menjelaskan bahwa anggapan tersebut ada benarnya, tetapi gadget bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi kemampuan anak dalam mengelola diri.

Ilustrasi orang tua main gadget saat bersama anak. Foto: Sorapop Udomsri/Shutterstock

"Gen Alpha memang tumbuh di era digital, di mana hampir semua hal bisa didapat dengan cepat (mulai dari video pendek seperti di TikTok/ Reels, beberapa game online dengan hadiah instan, hingga informasi yang tersedia hanya dalam hitungan detik,” ucap Madeline kepada kumparanMOM, Jumat (31/7).

Menurutnya, kondisi dan lingkungan tersebut membuat anak lebih terbiasa dengan konsep instant gratification atau kepuasan yang diperoleh secara instan. Meski begitu, bukan berarti semua anak Gen Alpha pasti tumbuh menjadi pribadi yang tidak sabaran.

Kemampuan untuk menunggu, mengendalikan diri, dan mengelola keinginan merupakan keterampilan yang berkembang seiring bertambahnya usia. Kemampuan tersebut juga sangat dipengaruhi oleh pola asuh dan pengalaman anak sehari-hari.

Orang Tua Perlu Ajarkan Anak Mengelola Emosi

Ilustrasi kedekatan orang tua dan anak. Foto: LightField Studios/Shutterstock

Madeline menjelaskan, ada tiga hal penting yang menjadi fondasi dalam pengasuhan anak, yaitu batasan yang jelas, orang dewasa yang mampu mengelola emosinya dengan baik, serta lingkungan yang membuat anak merasa aman dan nyaman.

Anak membutuhkan batasan agar memahami mana perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Di sisi lain, orang tua juga perlu belajar tetap tenang ketika menghadapi emosi anak. Sebab, anak belajar mengelola emosinya dari cara orang tua merespons ketika mereka sedang marah, kecewa, atau menghadapi masalah.

Selain itu, rasa aman secara emosional juga penting agar anak berani belajar, mencoba hal baru, dan menghadapi berbagai tantangan.

Ilustrasi anak sedih, murung, trauma. Foto: Thanes.Op/Shutterstock

Dalam teori psikologi, kombinasi antara kehangatan dan batasan yang konsisten dikenal sebagai authoritative parenting. Pola asuh ini disebut dapat membantu anak mengembangkan regulasi emosi, kemandirian, rasa percaya diri, hingga kemampuan bersosialisasi.

"Jadi, anak tidak membutuhkan orang tua yang lebih keras, tetapi orang tua yang hangat, konsisten, dan mampu menjadi tempat yang aman bagi mereka,” tegas Madeline.

Bagaimana Orang Tua Menghadapi Anak Gen Alpha?

Menurut Madeline, yang perlu diubah bukan nilai-nilai dasar dalam pengasuhan, melainkan cara orang tua mendampingi anak di tengah lingkungan yang sudah berbeda.

Kebutuhan dasar anak pada dasarnya tetap sama seperti generasi sebelumnya, yaitu merasa dicintai, dipahami, aman, serta memiliki batasan yang jelas. Yang berubah adalah lingkungan tempat anak tumbuh.

-Saat anak sedang marah atau kecewa

Ilustrasi anak marah. Foto: Shutterstock

Orang tua bisa membantu anak menenangkan diri terlebih dahulu sebelum memberikan nasihat. Aturan juga tetap perlu dibuat dengan jelas dan konsisten, tetapi disampaikan dengan empati.

-Orang tua dapat memberikan lebih banyak pengalaman nyata kepada anak

Seperti bermain bersama, membaca buku, mengobrol tanpa distraksi gadget, hingga melibatkan anak dalam aktivitas sehari-hari. Pengalaman sederhana tersebut dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk melatih kesabaran, kemampuan berpikir, serta regulasi emosinya.

“Gen Alpha membutuhkan orang tua yang mampu menjadi tempat yang aman, memberikan arahan yang konsisten, dan mendampingi mereka menghadapi tantangan dunia yang terus berubah,” pungkasnya.

kumparan post embed