Ibu Alami Trauma Usai Melahirkan, Mengapa Bisa Terjadi?

12 Mei 2022 9:03
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ibu Alami Trauma Usai Melahirkan, Mengapa Bisa Terjadi? (40055)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu setelah melahirkan mengalami trauma. Foto: Thinkstock
Melahirkan bagi para ibu bukanlah proses yang mudah dan tidak terlupakan. Merasakan luar biasanya proses kontraksi dan mengejan, atau luka jahitan setelah menjalani operasi caesar. Dari situlah, tak sedikit juga ibu yang mengalami trauma usai persalinan.
ADVERTISEMENT
Menurut Australasian Birth Trauma Association, birth trauma atau trauma lahir adalah kondisi yang dialami ibu selama dan setelah melahirkan. Trauma ini bisa bersifat fisik, emosional, dan psikologis. Trauma kelahiran ini tidak hanya terjadi saat persalinan, tetapi bisa berlanjut beberapa waktu setelah melahirkan.
Bagi Anda yang sudah pernah melahirkan, mungkin familiar dengan rasa takut dan tidak berdaya. Tetapi jika setelah melahirkan masih terus-terusan merasa rasa bersalah, kaget, atau mengalami serangan panik, bisa jadi Anda mengalami trauma lahir. Namun jangan khawatir karena Anda tidak sendirian. Ya Moms, diperkirakan 1 dari 3 wanita yang melahirkan dapat mengalami trauma ini.

Mengapa Trauma Lahir Bisa Terjadi?

Dikutip dari laman Pregnancy, Birth & Baby, banyak wanita yang menganggap melahirkan sebagai pengalaman traumatis dan emosional. Berikut adalah beberapa faktor yang menyebabkan trauma kelahiran bisa terjadi:
Ibu Alami Trauma Usai Melahirkan, Mengapa Bisa Terjadi? (40056)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi trauma pada ibu usai melahirkan. Foto: Shutter Stock
- Melahirkan tidak sesuai dengan rencana dan harapan
ADVERTISEMENT
- Mengalami persalinan yang sulit atau mengalami komplikasi
- Persalinan dengan intervensi, seperti dibantu forsep atau operasi caesar darurat
- Anda atau bayi menderita luka setelah melahirkan (luka bekas jahitan caesar atau memar)
- Bayi membutuhkan perawatan intensif setelah lahir
- Bayi lahir mati
- Tidak mendapatkan perawatan dan dukungan pada saat kelahiran dan sesudahnya
- Trauma pada persalinan sebelumnya
Faktor-faktor di atas dapat semakin diperparah apabila seseorang pernah mengalami trauma lain dalam kehidupannya, seperti kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan seksual.

Apa Dampak dari Wanita yang Mengalami Trauma Lahir?

Ibu Alami Trauma Usai Melahirkan, Mengapa Bisa Terjadi? (40057)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu trauma berkepanjangan setelah melahirkan. Foto: Shutter Stock
Ternyata, efek pada setiap orang bisa berbeda-beda tergantung cara dia menghadapi traumanya. Bahkan, pada beberapa orang membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
ADVERTISEMENT
NCT UK melansir, salah satu dampaknya adalah ibu akan merasa kesulitan menjalin ikatan dengan bayinya. Sebab, setiap melihat si kecil bisa membangkitkan trauma yang mereka alami. Hal ini juga ternyata bisa berdampak pada hubungan dengan pasangan.
Beberapa gejala psikologis seperti baby blues juga umumnya dialami setelah lahiran. Namun, apabila kondisi ini masih terjadi dua minggu atau lebih setelah persalinan dan tidak mendapatkan penanganan dari tenaga profesional, dikhawatirkan ibu mengalami gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Kondisi PTSD ini bisa terjadi berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan hingga bertahun-tahun.
Gejala PTSD yang perlu diwaspadai adalah pikiran sulit fokus, mengalami mimpi buruk, berkeringat terus-terusan, menghindari melihat tayangan proses persalinan, hingga berpikir semua dokter jahat, atau terus menganggap bayinya terluka selama proses kelahiran.
ADVERTISEMENT

Bagaimana Mengatasi Trauma Kelahiran?

Jika Anda atau orang terdekat mengalami trauma lahir, maka sangat penting untuk mencari bantuan sedini mungkin. Beberapa cara yang bisa membantu mengatasi persoalan ini adalah:
- Bicarakan dengan bidan atau dokter kandungan sesaat setelah persalinan untuk membicarakan perasaan Anda
- Minta dukungan dari suami, keluarga maupun keluarga terdekat
- Apabila diperlukan bisa menjalani terapi atau pemberian obat-obatan sebagai metode pengobatan. Namun, jangan lupa untuk tetap berkonsultasi dengan dokter atau tenaga ahli ya, Moms.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020