Kumparan Logo

Ibu Hamil dengan Lupus Berisiko Komplikasi, Ini Cara Jaga Kehamilan Tetap Sehat!

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ibu Hamil dengan Lupus Berisiko Komplikasi, Ini Cara Jaga Kehamilan Tetap Sehat! Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ibu Hamil dengan Lupus Berisiko Komplikasi, Ini Cara Jaga Kehamilan Tetap Sehat! Foto: Shutterstock

Penyakit lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) bisa dialami siapa saja, termasuk ibu hamil. Saat ibu hamil mengalami lupus, apakah bisa berbahaya bagi kesehatan maupun perkembangan janinnya?

Perlu dipahami, penyakit lupus adalah suatu gangguan sistem kekebalan yang terjadi di dalam tubuh. Penyakit ini termasuk ke dalam penyakit autoimun yang menyebabkan sel-sel tubuh rusak dan mengalami peradangan.

Sederhananya, penyakit lupus adalah kondisi di mana tubuh memproduksi antibodi secara berlebih, Moms. Pada keadaan normal, antibodi berfungsi untuk melindungi tubuh dari berbagai zat asing yang dapat menyebabkan penyakit.

Namun, pada orang dengan penyakit lupus, antibodi yang dimilikinya justru menyerang sel-sel tubuhnya sendiri. Sehingga, mereka lebih mudah mengalami penyakit infeksi dan peradangan, yang diakibatkan sel sehat diserang oleh antibodi.

Komplikasi Kehamilan pada Ibu Hamil dengan Lupus

Ilustrasi penyakit lupus. Foto: Shutterstock

Dikutip dari WebMD, ibu hamil dengan lupus akan berisiko mengalami komplikasi kehamilan, termasuk melahirkan prematur. Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat selama 10 tahun terakhir, menemukan ibu hamil dengan lupus berisiko dua kali lipat melahirkan bayi secara prematur. Di sisi lain, pertumbuhan janin juga dapat terhambat.

Hasil audit sejumlah rumah sakit juga menemukan bahwa wanita dengan SLE empat kali lebih mungkin membutuhkan transfusi darah. Selain itu, mereka juga 15 kali lebih mungkin mengalami gagal ginjal selama persalinan.

"Meskipun ada upaya [perawatan] menyeluruh bertahun-tahun, tetap ada risiko besar mengalami komplikasi pada ibu dan janin," tulis peneliti dalam jurnal yang diterbitkan RMD Open, 25 April 2023.

Penelitian juga menemukan bahwa wanita dengan lupus memiliki penyakit penyerta lainnya. Ibu hamil dengan lupus juga tiga kali lebih mungkin mengalami komplikasi seperti preeklamsia, gangguan hati, pembuluh darah perifer, dan lainnya.

Bagaimana dengan janinnya? Hasil penelitian mengungkapkan bayi di dalam kandungan 8 persen lebih berisiko mengalami hambatan selama pertumbuhannya, dan 15 persen berpotensi lahir secara prematur.

"Studi kamu menunjukkan bahwa morbiditas (tingkat kesakitan) janin dan ibunya bisa lebih tinggi pada pasien dengan SLE, dibandingkan dengan yang tidak," tulis kesimpulan penelitian tersebut.

Menjaga Kehamilan Tetap Sehat Meski Punya Riwayat Lupus

Ilustrasi ibu hamil dengan lupus harus makan sehat. Foto: Thinkstock

Meski begitu, jangan khawatir karena wanita dengan lupus juga tetap bisa menjalani kehamilan secara normal, dan melahirkan bayi yang sehat. Dilansir laman Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, kehamilan tetap bisa berjalan baik selama penyakit lupus terkendali.

Kondisi Anda mungkin akan mengalami naik turun, terutama pada trimester pertama atau kedua. Namun, bila mendapatkan penanganan dan pengobatan yang tepat, maka risiko buruk bisa diantisipasi.

Makanya, disarankan agar membicarakannya dulu berbulan-bulan sebelum merencanakan program hamil dengan dokter Anda. Sebab, penyakit lupus ini setidaknya harus remisi (terkendali dengan atau tanpa obat) selama enam bulan sebelum hamil. Sebab, kehamilan bisa meningkatkan risiko masalah kesehatan lain bila mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti kortikostreroid. Makanya, penting untuk memastikan lupus dikendalikan, serta mengonsumsi nutrisi yang baik selama program hamil.

Dan jangan khawatir juga karena Anda sebenarnya tetap dapat melahirkan bayi yang sehat kok, Moms! Cukup jarang bayi dilahirkan dengan kondisi lupus, atau disebut neonatal lupus.

Dalam beberapa kondisi, bayi memang bisa lahir dengan neonatal lupus dan mungkin mengalami ruam kulit, masalah hati, atau kadar sel darahnya rendah. Bila bayi mengalaminya, dalam jangka panjang si kecil bisa mengembangkan cacat jantung serius. Tapi pada kebanyakan bayi yang mengalaminya, lupus neonatal ini bisa hilang dengan sendirinya setelah tiga sampai enam bulan setelah dilahirkan.

Begitu juga dengan menyusui. Setelah melahirkan, ibu bisa menyusui seperti biasa. Tetapi, penting untuk membicarakannya dengan dokter, terutama bila Anda masih harus mengonsumsi obat-obatan untuk mengontrol lupus Anda. Bila tidak memungkinkan menyetop obat-obatan tersebut, Anda bisa mendiskusikan opsi lainnya agar kebutuhan nutrisi bayi tetap bisa terpenuhi.