Kumparan Logo

Ini Risiko Sunat Terlalu Dini pada Bayi

kumparanMOMverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Ilustrasi sunat pada bayi Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sunat pada bayi Foto: Shutterstock

Sunat atau khitan pada bayi semakin banyak dilakukan dan dipilih oleh orang tua. Sebut saja misalnya, artis Zaskia Adya Mecca. Pada Maret tahun lalu, ia dan sang suami, Hanung Bramantyo, memutuskan putra keempatnya langsung disunat walau belum berusia satu minggu.

Keputusan Zaskia dan Hanung untuk menyunat anaknya dari sejak bayi didasarkan pada pengalaman anak ketiganya yang pernah mengalami fimosis. Fimosis adalah kondisi di mana kulup penis melekat pada kepala penis, sehingga tidak dapat ditarik ke belakang melewati kepala penis. Hal ini umum terjadi pada anak berusia dua hingga enam tahun.

Namun, alasan atau hal yang jadi pertimbangan orang tua lain menyunat bayinya bisa saja berbeda dengan Zaskia. Mulai dari alasan religius hingga alasan kesehatan. Apakah Anda termasuk yang mempertimbangkannya, Moms?

Bila ya, Anda sebaiknya memikirkannya kembali masak-masak. Pasalnya, menurut riset terbaru, menyunat anak saat masih bayi justru bisa membahayakan nyawa si bayi.

Sindrom kematian mendadak bayi belum diketahui penyebab pastinya Foto: Shutterstock

Ya Moms, berdasarkan laporan IFL Science, para peneliti dari Inggris mengklaim bahwa sunat pada bayi laki-laki adalah salah satu faktor risiko penyumbang yang besar timbulnya sindrom kematian mendadak bayi (sudden infant death syndrome/ SIDS).

Hasil riset yang dipublikasikan di bioRxiv ini, Eran Elhaik, peneliti dari University of Sheffield, menduga bahwa kehilangan banyak darah saat penyunatan pada bayi laki-laki memiliki korelasi dengan SIDS.

"Seorang bayi hanya memiliki darah sebanyak sekitar 325 mililiter, dan saat penyunatan dia bisa kehilangan antara 29,5 hingga 59 mililiter," ujar Elhaik.

Ia menjelaskan, jika dibandingkan dengan manusia dewasa, kehilangan volume darah tersebut bisa disamakan dengan dua hingga empat kali donor darah.

"Karena volume darah berkurang, tekanan juga akan menurun dan jantung harus bekerja lebih keras, yang dapat menyebabkan serangan jantung bagi bayi yang jantungnya masih belum berkembang sempurna atau memiliki suatu kelainan," paparnya.

Ilustrasi Bayi Laki-laki Foto: Unsplash

Dalam riset ini, Elhaik mempelajari data kejadian SIDS dan sunat bayi di 15 negara berbeda. Dari hasil olah data ditemukan adanya korelasi kuat antara SIDS dengan sunat bayi. Selain itu, Elhaik juga menemukan bahwa sunat bayi adalah cara menghitung terbaik dalam menilai SIDS di dalam data.

"Sunat bayi adalah salah satu faktor risiko penyumbang besar bagi SIDS dan juga penyakit lainnya. Sunat bayi harus segera dihentikan dan ditangguhkan hingga kemudian hari," tegas Elhaik.

Meski begitu, sebenarnya temuan Elhaik ini masih merupakan korelasi, bukan penyebab. Jadi diperlukan riset lanjutan untuk bisa membuktikan klaim bahwa sunat bayi laki-laki menyebabkan SIDS. Nah bagaimana menurut Anda, Moms?

embed from external kumparan