Kumparan Logo

Kapan Sebaiknya Ibu Hamil Mengambil Cuti Bersalin?

kumparanMOMverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ibu hamil bekerja. (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu hamil bekerja. (Foto: Thinkstock)

Banyak ibu hamil yang memilih bekerja hingga hari-hari menjelang persalinan. Dengan demikian, waktu bersama si kecil setelah melahirkan bisa lebih lama. Namun, tidak semua ibu sependapat dengan hal itu, Moms. Banyak juga ibu hamil yang mengambil cuti ketika usia kehamilannya memasuki bulan ke delapan. Alasannya untuk menjaga kesehatan fisiknya agar siap sebelum melahirkan.

Sebuah penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan terhadap beberapa dokter yang sedang hamil membuktikan, para dokter yang melakukan kegiatannya sambil berdiri selama 65 jam seminggu, sama sehatnya dengan ibu rumah tangga yang sedang hamil. Padahal, porsi kegiatan ibu rumah tangga biasanya lebih kecil.

Namun, penelitian lain menyebutkan, ibu hamil yang bekerja di luar dan mengharuskannya berdiri sepanjang waktu sebaiknya mengambil cuti melahirkan saat usia kehamilannya 28 minggu. Bila masih giat bekerja di usia kehamilan lebih dari 28 minggu, maka hal ini bisa memicu timbulnya berbagai komplikasi. Apalagi jika ia memiliki anak yang harus diasuh. Kelelahan yang berlebihan merupakan salah satu kondisi yang bisa mengancam kehamilan.

Karenanya, sebuah asosiasi medis di Amerika Serikat menganjurkan, para ibu bekerja yang karena jenis pekerjaannya terpaksa lebih dari 4 jam sehari, sebaiknya mulai mengambil cuti begitu kehamilannya menginjak minggu ke-31. Namun, ahli lain menyebut jika saran tersebut terlalu "keras". Menurutnya, kapan mengambil cuti, tergantung pada masing-masing ibu hamil. Jika merasa tidak bermasalah, ibu hamil bisa menentukan sendiri waktu yang tepat untuk mulai cuti.

Ilustrasi ibu hamil bekerja. (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu hamil bekerja. (Foto: Thinkstock)

Berapa pun lamanya ibu bekerja, cobalah mengurangi beban fisik dan stres yang sering timbul. Caranya:

1. Pakailah baju dalam yang dapat menopang kehamilan Anda. Misalnya stagen khusus yang dapat menopang perut besar.

2. Jika pekerjaan menuntut Anda berdiri dalam waktu yang lama, letakkan salah satu kaki di atas bangku kecil atau tumpukan buku tebal dengan lutut agak ditekuk. Sikap tubuh seperti ini bisa mengurangi tekanan pada punggung.

3. Selingi pekerjaan Anda dengan istirahat. Jika Anda bekerja sambil duduk, cobalah meregangkan dengan cara duduk sambil meluruskan kedua kaki.

4. Perbanyak istirahat ketika sedang tidak bekerja. Selain itu, kurangi aktivitas fisik. Misalnya mengangkat beban yang berat, menarik, mendorong atau memanjat sesuatu.

Ilustrasi ibu hamil bekerja. (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu hamil bekerja. (Foto: Thinkstock)

5. Dengarkan kata hati Anda. Beristirahatlah jika Anda merasa lelah. Atau mintalah izin pulang lebih cepat bila Anda merasa sangat lelah.

6. Hindari daerah dengan asap rokok. Asap rokok bukan hanya buruk bagi kesehatan janin Anda, namun juga membuat Anda cepat merasa lelah.

7. Hindari temperatur yang sangat dingin atau panas, karena pembuluh darah sangat peka pada saat hamil.

8. Hindari bebauan cairan kimia, karena dapat mempengaruhi kesehatan janin.

9. Jangan sekali-kali menunda keinginan untuk buang air kecil, sebab bisa mengakibatkan infeksi pada kandung kemih. Paling tidak, buang air kecil setiap 2 jam sekali.

Ilustrasi ibu hamil bekerja. (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu hamil bekerja. (Foto: Thinkstock)

10. Usahakan agar perjalanan Anda menuju dan pulang dari kantor tidak terlalu melelahkan.

11. Di atas semua itu, ingatlah bahwa tidak ada pekerjaan yang lebih berharga dilakukan oleh ibu hamil dibanding menjaga kesehatan janinnya. Karenanya pertimbangkan secara matang setiap tindakan Anda agar tidak menyesal di kemudian hari.