Kumparan Logo

Karbohidrat Tetap Penting, Bahkan untuk Penderita Obesitas!

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dokter Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi Metabolik dan Diabetes, dr. Waluyo Dwi Cahyono, SpPD-KEMD, FINASIM, dalam acara Health Talk by Halodoc.  Foto: Eka Nurjanah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dokter Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi Metabolik dan Diabetes, dr. Waluyo Dwi Cahyono, SpPD-KEMD, FINASIM, dalam acara Health Talk by Halodoc. Foto: Eka Nurjanah/kumparan

Menghindari karbohidrat sering dianggap sebagai cara paling cepat untuk menurunkan berat badan, terutama bagi orang dengan obesitas. Tak sedikit yang memilih menghilangkan nasi, roti, atau sumber karbohidrat lain secara total. Tapi benarkah tubuh tidak membutuhkan karbo sama sekali?

Dalam acara Health Talk by Halodoc Peluncuran Klinik Digital Halofit, di Jakarta Pusat, Rabu (15/10), Dokter Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi Metabolik dan Diabetes, dr. Waluyo Dwi Cahyono, SpPD-KEMD, FINASIM, memaparkan bahwa penderita obesitas tidak boleh makan karbohidrat adalah mitos.

“Karbo itu tetap perlu ya, kenapa? Karena glukosa yang bisa digunakan ke otak itu dari karbo bukan dari protein,” ucap dr. Waluyo.

Penderita Obesitas Tetap Butuh Karbohidrat

Ilustrasi karbohidrat. Foto: arrowsmith2/Shutterstock

Karbohidrat adalah sumber energi utama bagi tubuh, terutama untuk otak. Menghilangkan karbohidrat sama sekali justru bisa berdampak buruk pada fungsi otak dan metabolisme secara keseluruhan. dr. Waluyo juga mengingatkan bahwa keberhasilan diet bukan tentang menghindari total, melainkan mengatur komposisi dan jumlah asupan karbohidrat secara bijak.

“Kalau badannya sudah bagus, kecil atau mungkin kurus, tapi otaknya nggak berkembang, untuk apa? Jadi tujuannya adalah mencegah komplikasi-komplikasi kronik, terutama kardiovaskuler, ginjal, atau yang lain yang menyertai,” imbuhnya.

Dokter Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi Metabolik dan Diabetes, dr. Waluyo Dwi Cahyono, SpPD-KEMD, FINASIM, dalam acara Health Talk by Halodoc. Foto: Eka Nurjanah/kumparan

Menurutnya, kenaikan kadar gula darah pun bukan dipengaruhi oleh jam makan, melainkan jumlah dan jenis karbohidrat yang dikonsumsi. Baik pagi, siang, atau malam, jika porsinya berlebihan, gula darah tetap akan naik. Oleh karena itu, disiplin terhadap pola makan dan gaya hidup menjadi kunci utama, bukan sekadar membatasi satu jenis zat gizi.

“Jam berapa pun ya akan naik dia. Kalau makannya banyak. Kenapa ada orang yang berat badannya terus kurus, lalu jadi naik lagi, itu tergantung komitmennya dia,” kata dr. Waluyo.

Jadi, yang terpenting adalah mengatur jumlah dan jenis karbohidrat yang dikonsumsi, bukan menghindarinya sama sekali. Dengan pemahaman yang tepat, usaha menjaga berat badan bisa menjadi lebih realistis dan aman.

kumparan post embed