Kata Ahli soal Risiko Stunting Sejak Kehamilan
·waktu baca 2 menit

Stunting masih menjadi masalah kesehatan utama yang menyerang banyak anak di dunia. Menurut data Riset Dasar Kesehatan (Riskesdas) 2018 yang dilakukan Kemenkes, prevalensi anak di bawah lima tahun yang mengalami stunting di Indonesia mencapai 30,8 persen. Artinya, sekitar 1 dari 3 balita di Tanah Air menderita stunting, Moms.
Ya, stunting sering kali dikaitkan dengan anak bertubuh pendek pada usia balita karena mengalami gagal tumbuh. Padahal, menurut Dokter Spesialis Anak, IPDA dr. Harun Albar, M.Kes., Sp.A, stunting juga bisa terjadi sejak masa kehamilan yang artinya ada kaitannya dengan masalah kesehatan ibu.
Penjelasan soal Risiko Stunting Sejak Masa Kehamilan
“Bisa saja saat 6 bulan kehamilan asupan gizi ibu kurang bagus, sering sakit, maka bayi bisa lahir dalam keadaan stunting,” jelas dr. Harun dalam acara Product Launching and Press Conference yang diadakan Mothercare pada Senin (20/6) di Novotel, Cikini, Jakarta.
Bila ibu hamil mengalami kekurangan nutrisi kronis (lebih dari 6 bulan) dan akut (di bawah 6 bulan) maka bayi berisiko stunting. Selain itu, ibu mungkin juga mengalami masalah kesehatan seperti infeksi berulang yang bisa menular atau mempengaruhi bayi di dalam kandungan, sehingga menghambat tumbuh kembangnya.
“Infeksi selama kehamilan menyebabkan asupan energi dan nutrisi terbagi antara ibu, anak, dan untuk membentuk antibodi melawan penyebab infeksi. Akhirnya, ibu hamil dan bayi kekurangan nutrisi yang kemudian menyebabkan stunting saat lahir,” lanjut dr. Harun.
Dokter yang berpraktik di RSIA Brawijaya itu juga menyebutkan, stunting merupakan adanya gangguan tumbuh kembang pada anak akibat kekurangan asupan gizi. Namun perlu dipahami, stunting bukan hanya soal tinggi badan anak yang di bawah standar tetapi juga menyangkut fungsi kognitif anak yang menurun.
Stunting pada anak akan menimbulkan dampak baik dalam jangka pendek maupun panjang. Misalnya, si kecil akan mudah sakit sehingga angka kematian anak pun meningkat dalam jangka pendek. Sementara dampak jangka panjang yang sangat terlihat adalah tinggi badannya tidak bisa meningkat dan cenderung obesitas.
“Jangka panjangnya tinggi badan tidak meningkat, asupan nutrisinya anak justru membuat dia obesitas karena sudah tidak bisa tumbuh tinggi tapi menyamping. Anak juga bisa mengalami sindrom metabolik seperti diabetes, dan bahkan penurunan kesehatan reproduksi,” pungkas dr. Harun.
***
