Kenali Tanda-tanda Awal KDRT pada Pasangan dan Anak
·waktu baca 3 menit

Laporan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) naik 32,15% sepanjang tahun 2019-2023. Semula, setidaknya ada 11.783 kasus pada 2019 dan naik menjadi 17.366 kasus di 2023.
Psikolog klinis dewasa dari Rumah Dandelion Nadya Pramesrani menyebut, perilaku KDRT erat kaitannya dengan masalah pola pikir dan kepribadian. Sering kali pasangan yang punya kecenderungan KDRT telah menunjukkan tanda-tandanya.
Nah Moms, untuk mencegah kondisi itu semakin memburuk, penting untuk mengenali tanda-tanda awal KDRT pada pasangan. Pahami juga bahwa KDRT bukan hanya kekerasan fisik, namun juga termasuk kekerasan seksual dan psikologis.
“Biasanya hal ini (KDRT) dilakukan seseorang ke pasangannya untuk mendapatkan kekuasaan secara tidak adil atau mempertahankan kendali orang tersebut. KDRT dapat terjadi dalam hubungan suami - istri, orang tua - anak, juga antar saudara,” kata Orissa saat dihubungi kumparanMOM.
Tanda Kecenderungan Pasangan KDRT
Ada beberapa kecenderungan perilaku yang mengarah pada kekerasan dalam rumah tangga. Kecenderungan ini umumnya semakin lama dapat menjadi semakin intens.
1. Controlling behavior, yaitu pelaku cenderung mengawasi dan membatasi kegiatan, pakaian atau orang yang boleh ditemui.
2. Kecemburuan yang berlebih dan menjadi posesif.
3. Mengisolasi pasangan dari lingkungan sosialnya. Tujuannya agar korban bergantung pada pelaku.
4. Agresi verbal, yakni pelaku cenderung mudah mengkritik, mengejek, mengancam serta mengeluarkan kata-kata yang menjatuhkan dan merendahkan harga diri pasangan.
5. Agresi fisik yaitu awalnya minor misalnya mendorong, mencengkeram.
6. Pelaku KDRT cenderung menyangkal kekerasan yang dilakukannya
7. Menganggap kekerasan biasa saja atau berdalih dengan menyalahkan korban. Atau menyatakan kekerasan dilakukan demi kepentingan korban.
Tanda-tanda KDRT pada Anak
Bukan hal mudah bagi korban untuk lepas dari jerat KDRT, termasuk jika anak juga sudah ikut menjadi korban. Tapi sebagai pihak luar, misalnya kerabat, guru sekolah, atau tetangga, ada beberapa tanda KDRT pada anak yang bisa terlihat. Orissa menyebut, tanda-tanda kekerasan pada anak bisa bersifat fisik, perilaku, dan emosional.
Penting pula untuk menyadari bahwa tanda-tanda ini mungkin tidak selalu KDRT, namun merupakan indikasi. Beberapa tanda di antaranya:
-Tanda Fisik: Luka/cedera fisik yang tidak dapat dijelaskan. Sering terjadi seperti memar, terbakar, patah tulang hingga mata hitam.
-Tanda Perilaku: Anak jadi takut pulang ke rumah, pakai pakaian yang tidak sesuai. Contoh korban memakai baju lengan panjang atau celana saat cuaca panas untuk menutupi cedera. Kemudian menjadi terlalu agresif atau sebaliknya, menarik diri dari lingkungan sosial.
-Tanda Emosi: Anak tampak cemas, takut, sering menangis, mood swings, rendah diri, putus asa, hingga punya pikiran bunuh diri.
KDRT Mempengaruhi Perilaku Anak
Orissa menegaskan, perilaku KDRT bisa sangat mempengaruhi anak-anak. Anak yang mengalami KDRT memiliki tingkat kecemasan dan ketakutan yang tinggi. Hal itu membuat mereka terlalu berhati-hati dalam lingkungan sosial, sulit bersantai dan menikmati waktu bermain.
“Mereka mungkin menarik diri, menunjukkan tanda-tanda depresi dan kurang berminat bermain bersama. Anak juga mungkin menjadi terlalu agresif, terlalu pasif, atau sulit percaya pada orang lain, sehingga menghambat dirinya untuk membangun interaksi pertemanan yang positif,” ujar Orissa.
Orissa mengatakan, korban mungkin terlibat dalam permainan fantasi sebagai mekanisme pertahanan diri. Hal itu membuat mereka tampak terputus dari kenyataan.
KDRT merupakan sumber toxic stress. Paparan hormon stres dalam waktu lama dapat mempengaruhi perkembangan otak dan merusak fungsi dalam berbagai cara:
-Mengganggu koneksi sirkuit otak dan secara ekstrim menghasilkan perkembambangan otak yang lebih kecil.
-Menekan respons kekebalan tubuh, sehingga lebih sering sakit atau ada masalah kesehatan yang bisa membuat sering absen dari sekolah ataupun aktivitas lainnya.
-Menghambat perkembangan otak yang bertanggung jawab untuk fungsi kognitif, belajar dan mengingat. Kondisi ini mengakibatkan kesulitan belajar dan penurunan performa akademis.
