Kumparan Logo

Kenapa Anak Takut Bertemu Orang Baru?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ibu memeluk anak yang takut bertemu orang baru. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu memeluk anak yang takut bertemu orang baru. Foto: Shutter Stock

Anak yang tadinya ceria tiba-tiba menjadi histeris saat bertemu orang baru membuat ibu dan ayah khawatir. Tak jarang, si kecil juga memilih untuk bersembunyi di balik punggung ibu alih-alih menyalami orang yang ditemuinya. Apakah si kecil juga seperti itu, Moms?

Ya, rupanya hal ini sangat wajar terjadi pada anak-anak, bahkan bayi. Mengutip Healthline, kondisi ini disebut dengan stranger anxiety atau kecemasan saat bertemu orang asing yang membuatnya sulit untuk beradaptasi.

Kecemasan terhadap orang asing merupakan tahap perkembangan normal yang sering dimulai sekitar usia bayi 6-8 bulan. Hal ini biasanya memuncak di usia balita 12 dan 15 bulan dan kemudian mulai berkurang secara bertahap saat emosi si kecil kian berkembang. Namun, tak jarang juga anak-anak yang lebih besar mengalami hal yang sama karena sifatnya yang pemalu, Moms.

Dikutip dari Raising Children, beberapa anak yang mengalami kecemasan sosial mengalami tanda fisik seperti, gemetar, keringat dingin, wajah memerah, mual, hingga sakit perut.

Lantas, apa yang bisa dilakukan orang tua agar si kecil tidak takut saat bertemu orang baru?

Tips Agar Anak Tidak Takut saat Bertemu Orang Baru

Ilustrasi anak menangis saat bertemu orang baru Foto: Shutterstock

Kenalkan pada lingkungan sejak dini

Moms, mengenalkan anak pada lingkungan sosial sejak dini dapat membantunya mudah beradaptasi di kemudian hari. Hal ini bisa dilakukan dengan mengenalkan anak pada anggota keluarga lain seperti kakek, nenek, om, dan tante.

Jangan dipaksa

Meski penting melatih rasa percaya diri anak sejak dini, namun, ada baiknya juga agar ibu dan ayah tidak memaksa anak. Jika si kecil ketakutan hingga menangis histeris, sebaiknya segera gendong anak dan bawa ia ke tempat yang lebih tenang.

Validasi perasaan anak

Hindari untuk melabeli anak dengan kata “penakut” atau “pemalu” saat ia tidak berani menyalami orang lain. Tapi, terima perasaan anak dan katakan bahwa itu wajar saja terjadi. Bilang padanya “ibu paham perasaan kamu, nak, tidak apa-apa kamu bisa mencobanya lagi di lain waktu saat sudah siap, ya.”

kumparan post embed