Kumparan Logo

Kenapa Bayi Suka Mengisap Jari?

kumparanMOMverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bayi Isap Jempol PTR Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Bayi Isap Jempol PTR Foto: Shutterstock

Moms, pernahkah Anda mendapati bayi Anda memasukkan jarinya ke dalam mulut? Ya, kondisi seperti ini memang umum terjadi, tapi tak jarang membuat beberapa ibu merasa cemas. Salah satunya karena takut takut kebiasaan ini akan berlanjut hingga si kecil beranjak dewasa.

Meski begitu, Anda sebenarnya tak perlu panik berlebihan ketika mendapati bayi mengisap jarinya, Moms. Sebab, hal ini wajar terjadi pada semua bayi. Bahkan, dr. Citra Amelinda, SpA(K), M.Kes., IBCLC, Dokter Spesialis Anak sekaligus konsultan menyusui mengatakan bahwa bayi suka mengisap jari karena refleks alamiahnya yang bahkan terkadang dapat terlihat saat di dalam kandungan melalui pemeriksaan USG.

"Mengisap jari sebenarnya mempunyai manfaat untuk bayi. Seperti memberikan rasa nyaman, tenang, senang, dan aman, terutama saat mau tidur atau stres kepisah orang tuanya," kata dr. Citra dalam Kulwap 'Kelas Pendampingan Kesehatan bersama JCDC' beberapa waktu lalu.

Bayi Isap Jempol Foto: Shutterstock

Laman resmi Mouth Healthy pun menyatakan hal senada. Kondisi bayi yang suka mengisap jarinya itu umumnya terjadi karena mereka ingin menenangkan dirinya dan hal ini juga membantu mereka agar bisa tertidur pulas.

Sementara, dikutip dari Mayo Clinic, penyebab bayi suka mengisap jarinya karena ia memiliki refleks alami untuk menyusu dan hal ini akan membantu bayi menyusu dari payudara dengan mudah. Tindakan mengisap sendiri memiliki peran biologis karena memungkinkan bayi memperoleh makanan, kenyamanan fisik, dan keamanan. Selain itu, kondisi ini biasanya terjadi ketika mereka merasa lelah, lapar, bosan, sakit, atau bahkan kesal.

"Tidak apa-apa (bayi suka mengisap jari) selama masih dalam batas wajar," ujar dokter yang praktik di Siloam Hospitals Purwakarta, Jawa Barat ini.

Bayi Isap Jempol Foto: Shutterstock

Kendati demikian, Anda tetap harus memantau apakah kebiasaan ini berlanjut atau tidak hingga usia anak agak besar. Sebab, dikhawatirkan kondisi ini dapat mempengaruhi susunan gigi mereka. Umumnya, kebiasaan tersebut akan berhenti dengan sendirinya di usia sekitar 2-4 tahun.

"Bila sampai jari atau kukunya luka, bila kebiasaan berlanjut sampai di atas usia normal mungkin Anda bisa berkonsultasi lebih lanjut ke dokter terkait," tutupnya.

kumparan post embed

------

kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!