Kumparan Logo

Kenapa Kasus Alergi pada Anak Semakin Banyak? Ini Penjelasan Dokter

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Anak Alergi Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anak Alergi Foto: Shutterstock

Belakangan ini, orang tua mungkin semakin sering mendengar anak mengalami alergi. Gejalanya pun beragam, mulai dari bersin-bersin, gatal pada kulit, batuk, hingga gangguan pada saluran cerna. Lantas, mengapa kasus alergi pada anak seolah semakin banyak?

Dokter Spesialis Anak, dr. Reza Fahlevi, Sp.A(K), menjelaskan ada beberapa perspektif yang dapat menjelaskan kondisi tersebut. Menurut dr. Reza, salah satunya adalah meningkatnya kesadaran orang tua terhadap gejala alergi pada anak. Jika dahulu gejala seperti sering bersin, gatal, atau batuk mungkin dianggap sepele, kini orang tua lebih peka dan membawa anak untuk diperiksa.

"Kalau dulu anak-anak yang sering bersin pagi hari, sering gatal atau batuk, itu dianggap sepele ya, tidak dicari pengobatannya. Tapi sekarang orang tua sudah aware dengan gejala-gejala alergi," ujar dr. Reza kepada kumparanMOM beberapa waktu lalu.

Ilustrasi anak alergi. Foto: Shutter Stock

Kondisi tersebut membuat lebih banyak anak yang mendapatkan pemeriksaan dan diagnosis alergi. Dengan kata lain, peningkatan angka diagnosis tidak selalu berarti jumlah anak yang mengalami alergi benar-benar meningkat.

Ada Hipotesis Higiene

Faktor lainnya yang disebut dr. Reza adalah hipotesis higiene. Dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak saat ini cenderung memiliki pola hidup yang lebih bersih dan paparan terhadap berbagai mikroorganisme menjadi lebih rendah. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan meningkatnya risiko munculnya penyakit alergi.

Namun, dr. Reza menegaskan bahwa hipotesis ini bukan berarti orang tua perlu membiarkan anak bermain kotor atau hidup tanpa menjaga kebersihan.

Ilustrasi Anak Main. Foto: Shutterstock

"Ini hanya hipotesis dan bukan berarti dengan hipotesis ini lantas kita membiarkan anak kita untuk bermain kotor atau jorok. Enggak seperti itu konsepnya," tegasnya.

Anak Lebih Banyak Beraktivitas di Dalam Rumah

Kurangnya aktivitas anak di luar rumah juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Menurut dr. Reza, anak-anak sekarang cenderung lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah atau kamar, termasuk berada di ruangan ber-AC.

Lingkungan dalam rumah dapat menjadi tempat berkembangnya berbagai alergen. Misalnya, kelembapan yang mendukung pertumbuhan spora jamur serta keberadaan tungau debu.

Ilustrasi alergi pada anak. Foto: wisely/Shutterstock

Di sisi lain, ketika anak beraktivitas di luar rumah, mereka juga dapat terpapar polusi udara. Paparan alergen maupun polusi tersebut dapat mencetuskan munculnya gejala pada anak yang memang memiliki bakat alergi.

"Paparan terhadap alergen-alergen ini semakin banyak. Dan kalau dia keluar juga polusi tinggi. Sementara hal-hal ini, paparan alergen kemudian ada polusi, itu juga bisa mencetuskan anak-anak yang sudah punya bakat alergi muncul gejala alerginya," kata dr. Reza.

Kapan Anak Perlu Dibawa ke Dokter?

Gejala alergi pada anak dapat muncul di berbagai bagian tubuh, termasuk kulit, saluran pernapasan, maupun saluran pencernaan.

Jika orang tua menemukan gejala yang dicurigai sebagai alergi, dr. Reza menyarankan agar anak diperiksakan ke dokter anak. Bila memungkinkan, pemeriksaan juga dapat dilakukan oleh dokter spesialis anak konsultan alergi-imunologi.

Dengan pemeriksaan yang tepat, penyebab dan jenis alergi pada anak dapat diketahui sehingga penanganannya pun bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak ya, Moms.

kumparan post embed