Ketua IDAI: Anak Lebih Berisiko Alami Diabetes Tipe 2 dan Bisa Jadi Epidemi
ยทwaktu baca 3 menit

Umumnya diabetes merupakan penyakit yang dialami orang dewasa. Tapi, ternyata anak-anak dan remaja juga memiliki risiko yang sama lho, Moms.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), frekuensi penderita diabetes meningkat di seluruh dunia. Bahkan, anak-anak juga berisiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 atau diabetes melitus.
Menurut Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A (K)., diabetes adalah penyakit yang tidak menular tapi bisa menjadi epidemi.
"Artinya kejadiannya meningkat pesat luar biasa di seluruh dunia termasuk negara kita. Kalau melihat epidemi penyakit tidak menular, berarti ada sesuatu yang salah mungkin dalam gaya hidup," ungkap dr. Piprim dalam media briefing yang diadakan IDAI secara virtual, pada Rabu (1/2).
Menurutnya, diabetes tipe 2 biasanya dialami orang dewasa usia 40 tahun ke atas, tapi kini juga banyak anak dan remaja yang mengalaminya.
Kenapa Anak dan Remaja Bisa Alami Diabetes Tipe 2?
Diabetes termasuk new lifestyle diseases atau penyakit yang berkaitan dengan gaya hidup baru seseorang. Kondisi ini diawali dengan resistensi insulin dan hiperinsulin cronic, di mana kadar insulin terus bertambah hingga sel-sel tubuh tidak mampu menggunakan gula darah dengan baik.
Moms, penyakit diabetes tipe 2 ini sangat berkaitan dengan pola makan. Jika makanan anak sejak awal sudah tinggi glikemiks, gula, tepung, serta tinggi minyak trans fat berupa junk food, maka gula darahnya akan akan cepat naik kemudian menurun lagi secara drastis.
"Mereka lapar lagi, makan yang seperti itu lagi terus menerus sehingga insulin terus diproduksi dalam darah. Insulin terus tinggi kemudian pankreas bekerja terlalu over sehingga terjadilah diabetes," lanjut dr. Piprim.
Tak hanya itu, kebiasaan anak-anak saat ini yang sangat lekat dengan gadget juga bisa menjadi faktor pemicu. Sebab, penggunaan gadet membuat anak-anak malas bergerak dan kurang tidur. Menurut dr. Piprim, kebiasaan ini bisa mempercepat penyakit degeneratif, penuaan dini, dan inflamasi kronik pada si kecil, Moms.
Risiko Bila Anak Alami Diabetes Tipe 2
Kasus diabetes tipe 2 sudah menyerang anak sejak tahun 2010 dan kini meningkat hingga 70 kali lipat di mana 1.645 anak mengalaminya per tahun 2023 ini. Bahkan, pandemi COVID-19 menjadi salah satu penyebab peningkatannya.
Menurut Ketua Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi IDAI, dr. Muhammad Faizi, diabetes melitus dapat mempengaruhi kualitas hidup anak dalam jangka panjang karena tidak bisa sembuh sehingga penting untuk dicegah.
"Anak yang sudah terdeteksi mengidap diabetes melitus itu tidak akan bisa sembuh karena memang hingga kini belum ada obatnya. Anak yang mengidap diabetes diharuskan mengkonsumsi insulin seumur hidupnya untuk bisa menyeimbangkan kadar gulanya yang baik untuk tubuh," ujar dr. Faizi.
Selain itu, diabetes yang tidak ditangani dengan baik juga bisa merusak fungsi jantung, pembuluh darah mata, ginjal, saraf, serta risiko kronis seperti kematian.
Kendati demikian, anak bisa dikategorikan sembuh saat sudah tidak mengkonsumsi obat dan insulin. Jadi, insulin menjadi kunci utama karena seiring bertambahnya usia anak, akan semakin memburuk pula fungsi tubuh dan produksi insulinnya secara alami.
Mengingat bahaya diabetes tipe 2 bagi kesehatan anak, dr. Faizi sangat mengimbau orang tua untuk rutin mengecek status kesehatan anak. Apalagi jika si kecil mengalami kelebihan berat badan dan menunjukkan tanda-tanda diabetes yaitu 3P, plofagi (banyak makan), polidipsi (banyak minum), dan poliuri (banyak buang air kecil).
"Orang tua harus rutin memeriksakan anak untuk mencegah komplikasi akibat diabetes. Perlu peran orang tua juga untuk mengawasi asupan makanan dan gaya hidup anaknya, karena kualitas hidup anak menjadi prioritas utama," pungkas dr. Faizi.
