Mom
·
3 September 2018 18:10

Konsultasi dengan Psikolog Kini Bisa Dilakukan di Puskesmas

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Konsultasi dengan Psikolog Kini Bisa Dilakukan di Puskesmas (33991)
ilustrasi konsultasi dengan psikolog (Foto: Thinkstock)
Menemui psikolog belum menjadi hal yang umum bagi masyarakat Indonesia. Setidaknya bila dibandingkan dengan menemui dokter atau bidan. Ada juga yang pergi berkonsultasi dengan psikolog tapi melakukannya secara diam-diam karena malu atau takut dianggap punya gangguan jiwa.
ADVERTISEMENT
Padahal seharusnya tidak demikian, Moms! Tiap individu sebenarnya punya masalah yang bisa didiskusikan dengan psikolog. Mulai dari rasa cemas berlebihan, tidak percaya diri, hingga depresi.
Stigma itulah yang berusaha dilawan para psikolog, termasuk Anna Deasyana, M. Psi., psikolog yang praktik di Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
“Kami berusaha melawan stigma bahwa yang datang ke psikolog itu adalah orang-orang dengan gangguan jiwa atau enggak bisa selesaikan masalah. Sebenarnya banyak orang yang butuh, tapi terhalang biaya yang tidak terjangkau untuk kalangan tertentu. Bisa juga karena malu,” papar Anna saat ditemui kumparanMOM pada Senin (3/9).
Kini hanya dengan membayar 7 ribu rupiah, semua orang bisa ‘ngobrol’ dengan psikolog di puskesmas. Biaya ini sudah termasuk biaya administrasi sebesar 2 ribu rupiah. Tapi bila Anda memiliki BPJS Kesehatan, Anda dapat memperoleh layanan ini secara gratis!
Konsultasi dengan Psikolog Kini Bisa Dilakukan di Puskesmas (33992)
Anna Deasyana, psikolog di Puskesmas Mampang Prapatan. (Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan)
Selain Puskesmas Mampang Prapatan, ada 6 puskesmas kecamatan lain yang menyediakan layanan konsultasi psikologi, yakni Puskesmas Pancoran, Kemayoran, Pasar Rebo, Kramat Jati, Matraman dan Taman Sari. Layanan ini dibuka setiap hari Senin hingga Jumat pukul 07.30 - 16.00 WIB.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya Puskesmas Mampang Prapatan sudah mempunyai poli jiwa. Namun poli itu ditujukan untuk menangani pasien yang sudah didiagnosis punya gangguan jiwa, dilaporkan orang-orang di lingkungannya punya masalah mental yang ‘tampak’, dan kontrol obat.
“Kesehatan jiwa tak hanya berhenti di poli jiwa saja, masih butuh konsultasi psikologi. Akhirnya ketika kami punya anggaran untuk hire seorang S2 psikolog dan diizinkan oleh Dinas Kesehatan, lalu kami jalankan di sini,” jelas dr Tri Resopimiarti, Kepala Puskesmas Mampang Prapatan yang menjalankan program ini sejak Juni 2018 lalu.
Konsultasi psikologi di puskemas ini lebih ditujukan untuk warga yang membutuhkan tempat ‘curhat’. Klien bisa ngobrol dengan psikolog untuk membantunya lebih mengenal diri sendiri, menemukan coping mechanism yang tepat, hingga kemudian mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.
ADVERTISEMENT
Tapi agar dapat melayani lebih banyak masyarakat, tiap sesi konsultasi dibatasi untuk 45 - 60 menit. Anna juga menjelaskan kalau layanan psikolog di puskesmas ini hanya sebatas konseling. Jika dirasa masalah klien cukup mengkhawatirkan, Anna biasanya meminta klien untuk datang lagi beberapa hari kemudian.
“Kalau pasien punya tendency yang mengkhawatirkan seperti self-harm (menyakiti diri sendiri), nyilet tangan atau segala macam, saya minta dia untuk datang lagi beberapa hari kemudian. Saya kasih ‘PR’ untuk mengidentifikasi masalahnya lebih dalam dan mengecek progress dia,” imbuh Anna.
Konsultasi dengan Psikolog Kini Bisa Dilakukan di Puskesmas (33993)
Ilustrasi anak bertemu psikolog (Foto: Thinkstock)
Sementara untuk pasien yang sudah didiagnosis mengalami gangguan jiwa serius, pasien itu akan dirujuk ke poli jiwa, RSUD, atau RSUK terdekat.
Anna mengungkapkan, saat ini sehari paling banyak ia menerima 4 klien. Bahkan biasanya, dalam sehari hanya satu atau dua klien yang datang. Namun menurutnya, empat klien dalam sehari itu sudah cukup banyak mengingat kesadaran masyakarat yang rendah atas kesehatan jiwa.
ADVERTISEMENT
Kebanyakan klien yang menemuinya di Puskesmas Mampang Prapatan berusia 18-30 tahun. Umumnya, mereka merasakan kecemasan umum yang bisa menjadi serius jika tidak dibicarakan dengan ahlinya.
“Yang banyak saya temui adalah klien dengan rasa cemas, insecure, takut untuk ngomong di depan umum. Kebanyakan insecurity umum yang kalau enggak diberesin akan mengacaukan kehidupan dia ke depannya,” imbuh Anna.
Wah, semoga saja akan ada lebih banyak puskesmas yang memiliki fasilitas layanan serupa ya, Moms!