Kualitas Hubungan Suami Istri Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental, Benar Enggak Ya?
ยทwaktu baca 2 menit

Tak dapat dimungkiri, cekcok dalam rumah tangga adalah hal yang sulit dihindari. Kondisi ini wajar terjadi dalam setiap hubungan, mengingat setiap orang punya pola pikir tersendiri yang terkadang berbeda dengan pasangannya.
Meski demikian, cekcok yang berlarut-larut bisa membuat komunikasi dalam rumah tangga semakin buruk. Bahkan disebut-sebut bisa mempengaruhi kesehatan mental suami maupun istri. Benarkah demikian?
Apakah Kualitas Hubungan Suami Istri Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental?
Menurut Psikolog Klinis Dewasa dari Tiga Generasi, Issara Rizkya, M. Psi, Psikolog., hal yang penting diperhatikan oleh pasangan suami istri adalah membangun komunikasi dan waktu yang berkualitas. Dengan seperti itu, kerja sama, keharmonisan rumah tangga, dan kesehatan mental keduanya akan terjaga.
"Hal-hal yang harus diperhatikan adalah komunikasi dan waktu bersama yang berkualitas terus dibangun," kata Issara, kepada kumparanMOM, Selasa (11/10).
Ya Moms, Issara menjelaskan, salah satu aspek dalam kesehatan mental adalah relasi sosial. Ketika relasi dengan pasangan terjaga baik, maka hal tersebut juga akan mendukung aspek-aspek lainnya dalam kesehatan mental. Misalnya, perasaan akan menjadi lebih bahagia, dapat menjalani fungsi dan tugas masing-masing dengan optimal, hingga memiliki motivasi dan semangat tinggi untuk menjalankan aktivitas. Sebaliknya, jika kualitas hubungan suami istri kurang terjaga, maka berdampak pada kesehatan mental menjadi kurang baik, seperti stres atau depresi.
Bukan hanya itu, kualitas hubungan suami istri juga dapat mempengaruhi emosi dan kemampuan kognitif keduanya, Moms. Sehingga, baik suami maupun istri, mungkin akan merasa sulit untuk mengambil keputusan dan akan berdampak pada perkembangan anak.
"Saat suami dan istri memiliki hubungan yang buruk, misalnya sering bertengkar, maka akan menimbulkan emosi negatif pada keduanya yang mungkin saja berdampak pada kemampuan kognitifnya, misalnya kesulitan dalam menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan," ungkap Issara.
Oleh karena itu, pasangan suami istri perlu membangun komunikasi yang baik, apalagi setelah mempunyai anak. Pasalnya, peran dan tanggung jawab keduanya akan berbeda sehingga memerlukan penyesuaian masing-masing. Jika penyesuaian itu tidak berjalan dengan baik, maka dapat menimbulkan prasangka negatif terhadap pasangan sendiri, salah satunya merasa punya kemampuan yang lebih besar. Akibatnya, prasangka tersebut dapat menimbulkan kurangnya rasa percaya diri pada pasangan, dan masalah mental lainnya yang lebih kompleks.
