Kumparan Logo

kumparanMOM Festival Hari Anak Hadirkan Talkshow DBD, Ini yang Perlu Dipahami!

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Talkshow “Pentingnya Perlindungan Demam Berdarah pada Anak” di kumparanMOM Festival Hari Anak 2025. Foto: dok. kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Talkshow “Pentingnya Perlindungan Demam Berdarah pada Anak” di kumparanMOM Festival Hari Anak 2025. Foto: dok. kumparan

Bermain di luar ruangan, jadi salah satu alternatif yang menyenangkan sekaligus bermanfaat untuk mendukung tumbuh kembang anak secara fisik, mental, dan sosial.

Suasana inilah yang terasa sepanjang Festival Hari Anak 2025 di Taman Anggrek, Gelora Bung Karno, Minggu (27/7). Anak-anak berlarian, tertawa, mencoba berbagai aktivitas fisik. Aktivitas tersebut menjadi momen ideal bagi tumbuh kembang mereka.

Namun, bermain di luar tentu tak sepenuhnya tanpa risiko. Salah satu ancaman kesehatan yang sering luput diantisipasi adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Lingkungan terbuka yang tampak bersih pun bisa menjadi tempat nyamuk Aedes aegypti berkembang biak jika tidak dirawat dengan baik.

Karena itu, kumparanMOM menghadirkan sesi edukatif bertajuk “Pentingnya Perlindungan Demam Berdarah pada Anak” bekerja sama dengan kampanye Cegah DBD. Sesi ini menghadirkan dr. Attila Dewanti, Sp.A (K) dan Tasya Kamila yang berbagi wawasan, pengalaman, serta langkah konkret pencegahan DBD dalam keluarga.

Fase Paling Bahaya: Saat Demam Turun

Salah satu peserta talkshow bertanya kepada dr. Attila. Foto: dok. kumparan

Salah satu miskonsepsi paling umum, kata dr. Attila, adalah menganggap anak sudah sembuh saat suhu tubuh mulai turun. Padahal, justru fase ketiga sampai kelima hari setelah demam adalah titik kritis yang harus diwaspadai.

“Banyak orang tua merasa lega begitu demam reda. Padahal, itu bisa jadi masa di mana trombosit turun dan risiko syok meningkat,” jelasnya.

Apalagi, gejala awal DBD seperti demam tinggi, lemas, dan muntah sering dikira flu biasa. Karenanya, ia menyarankan agar tak menunggu terlalu lama.

“Kalau hari pertama sudah demam tinggi dan tak kunjung membaik meski diberi obat penurun panas, langsung cek dengan tes NS1,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan bahwa DBD tidak pandang usia, dan infeksi kedua atau ketiga justru bisa lebih berbahaya. Vaksinasi menjadi langkah preventif jangka panjang yang penting dipertimbangkan.

Wujud Sayang, Bukan Sekadar Proteksi

dr. Attila menjelaskan upaya pencegahan DBD dengan 3M Plus. Foto: dok. kumparan

Bagi Tasya Kamila, upaya perlindungan dari DBD bukan hanya soal medis, tapi juga bentuk kasih sayang sebagai orang tua.

“Waktu ulang tahun anakku, salah satu hadiahnya adalah vaksin DBD. Karena menurutku ini bukan cuma proteksi, tapi investasi kesehatan keluarga,” ungkapnya.

Ia menambahkan, tdak perlu diulang tahunan.“Jadi saat anak bermain di luar, kita lebih tenang,” ucapnya.

Namun, perlindungan tidak berhenti di vaksin saja. dr. Attila mengingatkan pentingnya prinsip 3M Plus: menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas, dan upaya-upaya pencegahan gigitan nyamuk lainnya.

Menurutnya, pencegahan terbaik adalah kombinasi antara imunisasi dan kebiasaan hidup bersih di rumah.

Agar anak bisa bebas bermain tanpa cemas, orang tua perlu membekali diri dengan pengetahuan dan langkah perlindungan yang menyeluruh.

Yuk, cari tahu lebih banyak soal vaksinasi dan pencegahan DBD di www.cegahdbd.com. Karena perlindungan terbaik dimulai dari rumah, dan dari orang tua yang peduli.

C-ANPROM/ID/QDE/0955 | Jul 2025