Kumparan Logo

Mainan Kekinian vs Tradisional, Mana yang Lebih Baik untuk Anak?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak main pop it. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak main pop it. Foto: Shutter Stock

Mainan menjadi salah satu benda yang tidak bisa dijauhkan dari anak-anak. Selain sebagai media hiburan, mainan tertentu juga bisa menstimulasi anak sehingga sangat mendukung tumbuh kembangnya.

Inilah mengapa mainan anak menjadi hal yang cukup penting bagi si kecil. Bahkan ada juga mainan keinian yang sempat viral dan digemari anak-anak. Mulai dari squishy, slime, pop it, hingga yang terbaru adalah mainan tradisional lato-lato.

Ya Moms, sebenarnya baik mainan modern dan tradisional yang sempat viral sama-sama punya manfaat untuk anak-anak. Tapi sebenarnya mana yang lebih baik untuk si kecil, ya?

Lebih Baik Mainan Kekinian atau Tradisional untuk Anak?

Ilustrasi anak memainkan slime berwarna hijau kekuningan Foto: Shutterstock

Moms, mainan modern seperti slime, squishy, dan pop it, ternyata juga bisa mendukung tumbuh kembang si kecil lho. Menurut psikolog anak, Kanti S. Pernama, M.Psi., Psikolog, permainan yang memberikan hands on experience secara nyata dan bisa dimanipulasi secara langsung dapat membantu proses belajar anak.

“Contohnya slime itu teksturnya sangat beragam dan bisa menjadi input sensori buat anak-anak. Ada yang teksturnya lengket, ada yang lebih licin, ada yang agak dingin-anget, kasar-halus,” jelas Kanti saat dihubungi kumparanMOM beberapa waktu lalu.

Selain itu, anak-anak juga bisa memanipulasi slime dengan mengubah bentuknya sendiri. Gerakan tangan yang aktif saat mengolah slime ini dapat menstimulasi kontrol dan kekuatan jari serta tangan si kecil, Moms.

Lantas, bagaimana dengan mainan tradisional?

Kereta mainan anak-anak yang terbuat kayu. Foto: phildaint/Shutterstock

Jika dilihat dari bentuknya permainan tradisional umumnya perlu dilakukan secara fisik. Artinya butuh dimanipulasi seperti diputar, dibalik, dan butuh dilakukan secara nyata dengan gerakan melompat, lari, atau jongkok. Sehingga, permainan tradisional memang dinilai bermanfaat untuk menstimulasi tumbuh kembang anak.

“Permainan tradisional juga umumnya membutuhkan interaksi langsung dengan orang lain atau teman sebaya, di mana ada inisiasi interaksi dan respons nyata, serta ada konflik dan resolusi konflik yang nyata juga,” lanjut psikolog anak yang berpraktik di Rumah Dandelion itu.

Proses ini dapat menstimulasi kemampuan sosio emosional anak seperti, kemampuan memahami ekspresi dan bahasa tubuh, pengenalan emosi, berbagi, menunggu giliran, maupun kemampuan berkomunikasi asertif. Pada akhirnya, semua hal tersebut akan mendukung tumbuh kembang si kecil menjadi lebih optimal.

kumparan post embed

Jadi, baik mainan modern kekinian yang viral atau tradisional, selama itu dapat memberikan pengalaman secara langsung dan nyata, artinya sama-sama baik untuk si kecil, Moms. Bahkan permainan jenis ini juga dianggap menjadi pilihan yang lebih baik daripada gadget.

“Beberapa permainan gadget ada yang bisa menstimulasi perkembangan motorik anak, misalnya dengan teknologi VR/AR, namun gerakan yang dihasilkan umumnya tidak memerlukan kekuatan atau koordinasi mata-tangan yang spesifik. Tidak memerlukan interaksi nyata, sehingga anak tidak banyak mendapat kesempatan berlatih kemampuan komunikasi,” pungkas Kanti.