Kumparan Logo

Marak Modus Penculikan 'Salah Gandeng Anak' Psikolog Minta Untuk Ajarkan Ini

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi penculikan anak. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penculikan anak. Foto: Shutterstock

Belakangan, cerita mengenai dugaan modus “salah gandeng” anak ramai dibicarakan oleh orang tua di media sosial. Anak disebut tiba-tiba digandeng orang yang tidak dikenal, kemudian diajak bercanda atau berbicara seolah-olah sudah mengenalnya.

Kabar tersebut bahkan dikaitkan oleh sebagian orang dengan dugaan sindikat penculikan anak. Namun, belum ada konfirmasi resmi yang menyatakan bahwa cerita mengenai modus tersebut merupakan bagian dari satu sindikat penculikan tertentu.

Meski begitu, kewaspadaan tetap penting. Orang tua dapat membekali anak dengan pengetahuan sederhana agar mereka tahu apa yang harus dilakukan jika sewaktu-waktu terpisah dari orang tua.

Anak Perlu Tahu Nama Orang Tua hingga Siapa yang Bisa Dimintai Tolong

Ilustrasi penculikan anak. Foto: Shutterstock

Psikolog Pendidikan sekaligus Co-Founder Rumah Dandelion, Agstried Elisabeth Piether, M.Psi., Psikolog, mengatakan ada beberapa hal yang perlu diketahui dan dihafalkan anak untuk berjaga-jaga jika terpisah dari orang tua.

1. Anak perlu mengetahui nama orang tuanya. Menurut Agstried, anak sebaiknya tidak hanya mengetahui panggilan seperti Ibu atau Ayah, tetapi mulai dikenalkan dengan nama orang tua. Jika sudah mampu, anak juga dapat diajarkan nama lengkap.

2. Anak yang lebih besar dapat mulai dilatih untuk menghafalkan nomor telepon orang tua. Penghafalan dapat dilakukan secara bertahap agar anak lebih mudah mengingatnya.

3. Anak perlu tahu kepada siapa harus meminta pertolongan ketika tersesat atau terpisah.

“Satpam/polisi yang berseragam, ajari untuk melihat lambang tag-nya. Dengan begitu, anak memiliki gambaran mengenai orang dewasa yang dapat dicari ketika membutuhkan bantuan di tempat umum," jelas Agstried pada kumparanMOM, Selasa (6/10).

Ajarkan Anak “Stop, Teriak, Lari” Jika Dibawa Paksa

Ilustrasi Penculikan Foto: Shutterstock

Selain mengetahui identitas orang tua dan orang yang bisa dimintai bantuan, anak juga perlu diberi pemahaman mengenai apa yang harus dilakukan ketika ada orang yang tidak dikenal mencoba membawanya.

Agstried mengatakan orang tua sebaiknya mengajarkan anak untuk tidak melepaskan gandengan ketika berada di tempat ramai dan tidak mengikuti orang yang tidak dikenal.

Jika anak dibawa secara paksa, orang tua dapat mengajarkan metode “stop, teriak, lari”.

“Berhenti bergerak, teriak minta tolong, lalu lari ke arah satpam atau petugas keamanan lainnya,” kata Agstried.

Orang tua juga dapat memberikan briefing singkat sebelum membawa anak ke tempat yang ramai.

"Misalnya, mengingatkan bahwa banyaknya orang di sekitar membuat risiko terpisah menjadi lebih besar sehingga anak perlu tetap dekat dan bergandengan tangan," jelasnya.

Jika anak sampai terpisah dari orang tua, Agstried menyarankan untuk segera meminta bantuan dari pusat keamanan atau security di lokasi.

Orang tua juga sebaiknya membawa atau menyimpan foto terbaru anak yang dapat ditunjukkan kepada petugas dan orang-orang yang membantu pencarian.

"Saat mencari anak, jangan hanya meneriakkan namanya. Sebutkan juga ciri-ciri fisiknya agar orang di sekitar lebih mudah mengenali. Misalnya, “Anak laki-laki, baju hijau gambar dinosaurus, namanya Dodi!," pesannya.

Dengan cara tersebut, informasi yang diterima orang-orang di sekitar menjadi lebih spesifik sehingga mereka dapat ikut membantu mencari.