Kumparan Logo

Memahami Peer Pressure atau Tekanan dari Teman Sebaya yang Bisa Dialami Anak

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak praremaja kena peer pressure. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak praremaja kena peer pressure. Foto: Shutterstock

Usia praremaja sampai remaja mungkin bisa dikatakan sebagai momen anak untuk mendapatkan banyak teman. Mulai dari yang sebaya ataupun tidak. Oleh karena itu, tak heran bila banyak perilaku baru yang ditunjukkan oleh si kecil.

Bahkan, kemungkinan Anda akan melihat kebiasaan baru yang dilakukan oleh anak padahal sebelumnya ia tidak pernah melakukannya. Apa penyebabnya? Biasanya hal itu disebabkan oleh peer pressure atau tekanan dari teman sebaya.

Melansir American Psychological Association, tekanan teman sebaya mungkin memiliki nilai sosialisasi yang positif, tetapi mungkin memiliki konsekuensi yang negatif untuk kesehatan mental dan fisik anak.

Ilustrasi anak praremaja kena peer pressure. Foto: Shutterstock

Sementara mengutip Mom Junction, tekanan teman sebaya adalah situasi di mana anak praremaja merasa terdorong untuk melakukan sesuatu karena ingin menjadi bagian dari lingkaran sosial dan merasa dihargai. Tak jarang tekanan teman sebaya menyebabkan beberapa hasil yang merugikan dan suasana tak menyenangkan di rumah.

Dalam beberapa kasus, si kecil mungkin lebih mementingkan pendapat teman sebayanya daripada pikirannya sendiri. Oleh karena itu, tekanan teman sebaya dapat membuat anak melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan. Anak Anda seperti itu enggak, Moms?

Contoh Tekanan dari Teman Sebaya

Ilustrasi anak praremaja kena peer pressure. Foto: Shutterstock

Tekanan dari teman sebaya sebenarnya tidak selalu bersifat negatif, tergantung jenis lingkaran sosial anak. Perilaku ini bisa membuat anak melakukan hal yang positif juga, Moms. Misalnya, berpartisipasi dalam kompetisi, bergabung dengan kelompok hobi, dan mengikuti kebiasaan yang baik, seperti makan makanan sehat, olahraga, dan sejenisnya.

Namun, Anda juga perlu waspada jika anak memilih kebiasaan yang tidak sesuai dengan usianya dan menjurus pada aktivitas negatif atau bahkan kriminal. Misalnya, minum minuman beralkohol, merokok, mengkonsumsi narkoba, berhubungan seks, dan melakukan kegiatan ilegal.

kumparan post embed

Kapan Orang Tua Perlu Khawatir?

Ilustrasi anak praremaja kena peer pressure. Foto: Shutterstock

Tekanan teman sebaya yang negatif bisa menjadi masalah jika tidak segera dihentikan. Waspadai jika anak mengalami:

  • Perubahan perilaku yang tiba-tiba, tidak menentu, dan bersifat agresif.

  • Berbicara dengan suku kata tunggal dan menarik diri dari anggota keluarga dan lingkungan sosial.

  • Tampak tertekan atau cemas sepanjang waktu.

  • Mudah marah karena hal yang sederhana.

  • Perubahan penampilan fisik yang membuatnya tampak tidak sehat.

  • Kehilangan nafsu makan atau kesulitan makan.

  • Berpikir negatif tentang kehidupan.