Memahami Sutura Bayi, Mana yang Normal dan Tidak?

15 Juli 2021 10:01 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Memahami Sutura Bayi, Mana yang Normal dan Tidak? Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Memahami Sutura Bayi, Mana yang Normal dan Tidak? Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Hal yang wajar bila tulang tengkorak atau kepala bayi baru lahir lunak dan beberapa dari mereka terlahir dengan bentuk kepala yang berbeda-beda. Ya, ada bayi yang lahir dengan kepala bulat, lonjong, agak peyang, atau bahkan rata.
ADVERTISEMENT
Mengapa demikian? Karena ini bertujuan untuk mempermudah proses kelahiran bayi melalui jalan lahir, utamanya bila ibu melahirkan normal atau secara pervaginam.
Perlu Anda ketahui pula, Moms, bahwa tulang tengkorak bayi belum sama seperti anak yang lebih besar atau orang dewasa lainnya yang tampak seperti satu tulang bulat. Tengkorak bayi terdiri atas enam lempeng tulang yang disatukan oleh jaringan kuat namun fleksibel yang disebut sutura. Seiring berjalannya waktu, sutura ini akan mengeras dan menyatukan lempeng-lempeng tengkorak menjadi lebih kuat.
Sutura pun bermanfaat untuk memudahkan kepala bayi mengalami perubahan bentuk. Sehingga, hal ini mempermudah proses kelahiran bayi melalui jalan lahir seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.
Namun rupanya, ada sutura bayi yang normal dan tidak normal lho, Moms. Kira-kira seperti apa? Berikut penjelasan dari dokter.
ADVERTISEMENT

Penjelasan soal Sutura Bayi yang Normal dan Tidak

Sutura Bayi yang Normal
Ilustrasi bayi baru lahir. Foto: Shutter Stock
Moms, selain memudahkan bayi keluar ke jalan lahir, manfaat lain dari sutura ialah memungkinkan tulang tengkorak bayi untuk terus membesar mengikuti perkembangan otaknya. Namun sebagai orang tua, Anda tak perlu panik karena perubahan bentuk kepala bayi ini bersifat normal dan tidak mempengaruhi kualitas otaknya. Demikian yang dijelaskan oleh Dokter Spesialis Anak, dr. Caessar Pronocitro, SpA., MSc.
"Saat lahir, umumnya lingkar kepala bayi berada di antara 32-37 sentimeter," ujar dokter yang praktik di RS Pondok Indah, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan tersebut kepada kumparanMOM.
Terkait soal lingkar kepala bayi yang perlu dipantau secara berkala, dr. Caessar kembali menjelaskan bahwa lingkar kepala bayi rata-rata akan bertambah 5 sentimeter dalam usia 0-3 bulan, 4 sentimeter dalam usia 3-6 bulan, 2 sentimeter di usia 6-9 bulan, 1 sentimeter di usia 9-12 bulan, dan 2,5 sentimeter di usia 1-2 tahun.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, lingkar kepala dan kondisi kepala bayi perlu dipantau secara berkala oleh dokter untuk mengetahui apakah perkembangan kepala bayi tersebut adalah normal. Biasanya, hal ini dilakukan dokter saat kunjungan imunisasi.

Sutura Bayi yang Tidak Normal

Memahami Sutura Bayi, Mana yang Normal dan Tidak? Foto: Shutter Stock
Kendati demikian, menurut dr. Caessar, ada pula beberapa kondisi sutura yang tidak normal. Di antaranya adalah sutura yang menyatu terlalu cepat atau biasa dikenal juga dengan sebutan kraniosinostosis (craniosynostosis) dan sutura yang terpisah.
Kraniosinostosis merupakan kelainan di mana salah satu atau lebih sutura menutup atau menyatu terlalu cepat. Umumnya, kondisi ini mulai terlihat pada beberapa bulan pertama kehidupan bayi.
"Derajat dari kraniosinostosis dipengaruhi oleh beberapa sutura yang menyatu terlalu cepat. Tanda yang dapat diamati orang tua diantaranya penambahan lingkar kepala bayi yang lambat atau bahkan tidak ada sama sekali seiring bertambahnya usia anak," papar dr. Caessar.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, kondisi abnormal lain, masih kata dr. Caessar, adalah sutura yang terpisah terlalu lebar. Penyebab yang paling sering adalah meningkatnya tekanan di dalam tulang tengkorak sehingga membuat sutura meregang dan lempeng-lempeng tulang tengkorak menjadi terpisah satu sama lain.
"Tanda yang dapat ditemui adalah penambahan lingkar kepala yang terlalu cepat dan ubun-ubun yang menonjol," tutupnya.