Kumparan Logo

Memukul dan Mencubit Bayi saat Nangis, Bahaya Enggak Sih?

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bayi menangis atau rewel. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi menangis atau rewel. Foto: Shutter Stock

Menjadi orang tua bukanlah tugas yang mudah dilakukan. Sebab ibu dan ayah perlu membagi waktu antara mengurus kebutuhan rumah tangga, pekerjaan di kantor, dan anak-anak. Apalagi bila usia si kecil masih bayi dan komunikasinya masih terbatas. Sehingga, mungkin saja ibu dan ayah pernah kelepasan meluapkan emosi yang tidak terkontrol, terutama saat bayi menangis.

Bentuk luapan emosi yang mungkin dilakukan ibu dan ayah adalah memukul dan mencubit. Beberapa orang tua ada yang beranggapan memukul merupakan hukuman untuk mendisiplinkan si kecil sejak dini. Sebagian orang tua lainnya ada yang kelepasan memukul bayi mereka karena stres atau frustasi ketika tangisan bayi sulit dihentikan. Tapi, bolehkah hal tersebut dilakukan?

Penjelasan soal Dampak Memukul dan Mencubit Bayi saat Nangis

Seorang bayi berusia 6 bulan menangis di tempat tidur. Foto: Littlekidmoment/Shutterstock

Moms, penting dipahami bahwa bayi belum mengetahui perbedaan perilaku yang benar dan salah. Bahkan, sekadar menyampaikan keinginannya saja belum bisa. Sehingga, salah satu cara mereka berkomunikasi adalah menangis.

Jika ibu dan ayah menunjukkan perilaku kasar seperti memukul dan mencubit, hal tersebut akan berbahaya untuk bayi, meskipun pukulan Anda tidak keras. Sebenarnya memukul anak pada usia berapa pun terbukti sangat mempengaruhi kesehatan mental dan fisik anak-anak. Selain itu, mengutip Healthy Children, memukul anak saat menangis juga dapat menimbulkan dampak lain. Beberapa di antaranya adalah:

  • Hukuman fisik, seperti memukul dan mencubit terhadap anak di bawah usia 18 bulan dapat meningkatkan kemungkinan cedera fisik.

  • Penggunaan hukuman fisik yang berulang dapat menyebabkan perilaku agresif dan pertengkaran antara orang tua dan anak di kemudian hari.

  • Hubungan antara orang tua dan anak menjadi tidak harmonis.

  • Meningkatkan potensi anak menjadi pemberontak dan agresi di masa depan.

Sebagai gantinya, ibu dan ayah bisa melakukan beberapa cara positif lainnya untuk menenangkan si kecil saat menangis. Misalnya, mengalihkan perhatian bayi dengan aktivitas dan mainan, atau berikan pujian dan reward berupa camilan kesukaan si kecil bila tangisan sudah mereda. Kemudian, ibu dan ayah perlu mengambil waktu sendiri untuk menenangkan dan introspeksi diri. Mungkin ada beberapa hal atau kondisi yang membuat bayi tidak nyaman pada saat itu.

kumparan post embed