Mengenal Hipotonia pada Bayi, Kelainan yang Membuat Otot Lemas
ยทwaktu baca 3 menit

Setiap orang tua tentu ingin bayi yang dilahirkan dalam kondisi sehat dan normal. Namun tak dimungkiri ada beberapa gangguan yang dapat terjadi pada bayi baru lahir, salah satunya hipotonia atau sindrom floppy baby.
Ya Moms, hipotonia merupakan kelainan otot akibat kurangnya tonus otot pada bayi. Tonus otot adalah kontraksi atau ketegangan yang dibuat oleh otot itu sendiri. Dikutip dari Mom Junction, sebagian besar kasus hipotonia terjadi karena gangguan saraf yang mengkontrol gerakan ini. Kondisi ini umumnya terjadi pada bayi baru lahir, atau beberapa bulan setelah lahir.
Bayi yang mengalami hipotonia memiliki tonus otot yang buruk, sehingga sulit menggerakan anggota tubuhnya dan terlihat sangat lemas. Maka dari itu, beberapa dari bayi hipotonia mungkin mengalami keterlambatan perkembangan motorik. Lalu, apa penyebabnya?
Penyebab Hipotonia pada Bayi
Penyebab paling umum dari hipotonia adalah kelainan pada kontrol saraf tonus otot. Selain itu, beberapa gangguan saraf yang mempengaruhi kinerja otak dan sistem saraf pusat juga dapat menyebabkan hipotonia, yaitu:
Cerebral palsy atau gangguan saraf yang melibatkan koordinasi dan gerakan anggota tubuh.
Meningitis atau infeksi pada selaput luar otak.
Cedera pada otak dan sumsum tulang belakang.
Perdarahan di dalam tengkorak.
Ensefalitis atau infeksi otak.
Atrofi otot tulang belakang atau kelainan genetik yang mempengaruhi tonus otot.
Tak hanya itu, beberapa kelainan bawaan, seperti down syndrome, penyakit Tay-Sachs, sindrom Prader-Willi, gangguan autisme, hingga kelahiran prematur juga berperan langsung pada kondisi ini.
Gejala Hipotonia pada Bayi
Tanda atau gejala hipotonia pada bayi yang perlu diwaspadai mencakup:
Sulit mengendalikan gerakan kepala dengan baik.
Gangguan makan, seperti sulit mengisap dan menelan.
Tidak dapat menahan beban pada otot bahu atau leher akibat kekuatan otot yang lemah
Mudah lelah dan sering rewel
Tonggak perkembangan motorik, seperti merangkak, duduk, berbicara, berjalan, dan makan jadi terhambat.
Nah Moms, biasanya kelainan otot ini tidak dapat disembuhkan jika penyebab yang mendasarinya tidak dapat diatasi. Namun bila disebabkan oleh kelahiran prematur misalnya, mungkin dokter bisa melakukan beberapa perawatan dan pelatihan untuk mengoptimalkan perkembangan si kecil.
Dokter anak atau ahli saraf anak biasanya akan merancang program pelatihan keterampilan sesuai dengan usia dan kebutuhan bayi. Beberapa perawatan yang bisa dilakukan adalah:
Fisioterapi: untuk bantu memperkuat otot dan meningkatkan koordinasi gerakan anggota tubuh.
Terapi okupasi: untuk melatih keterampilan dasar, seperti makan, memegang botol susu, mengunyah, dan menelan.
Terapi wicara dan bahasa: untuk membantu bayi mempelajari keterampilan berbicara dan bahasa sesuai dengan usianya.
Menggunakan alat bantu: untuk membantu pergerakan anggota tubuh bayi, salah satunya alat penyangga kaki.
