kumparan
8 Des 2018 11:49 WIB

Moms, Waspadai Radang Vagina pada Anak Perempuan Anda

Waspadai radang vagina pada anak perempuan yang belum mencapai pubertas (Foto: Shutterstock)
Moms, pernahkah anak perempuan Anda mengeluhkan rasa sakit atau gatal pada vaginanya? Bisa juga, anak tidak mengeluh tapi tampak sering menggaruk kemaluannya? Segera waspadai, Moms! Mungkin ia menderita peradangan pada daerah vulva dan vagina yang disebut vulvovaginitis atau vaginitis.
ADVERTISEMENT
Anda mungkin heran, bagaimana mungkin anak perempuan Anda yang mengalami masalah ini? Wajar saja, karena umumnya orang mengkaitkan infeksi vagina dengan aktivitas seksual.
Tapi Anda perlu mengetahui bahwa anak perempuan yang belum mencapai pubertas sangat rentan terhadap vaginitis untuk alasan yang tidak berhubungan sama sekali dengan masalah seks. Vaginitis adalah masalah ginekologi yang umum dialami wanita baik dewasa maupun anak-anak.
Agar lebih jelas, yuk, simak penjelasan lebih lengkapnya di sini.
Anak menangis saat bermain. (Foto: Thinkstock)
Apa itu vaginitis?
Dilansir laman About Kids Health, vaginitis adalah peradangan atau iritasi pada kulit halus di area genital. Peradangan ini dapat menyebabkan nyeri, gatal, kemerahan dan rasa terbakar.
Kadang-kadang anak perempuan yang mengalami vaginitis akan mengeluarkan sedikit cairan dari vaginanya. Anda dapat mengamati hal ini dengan memperhatikan noda yang memiliki bau cukup kuat pada celana dalam anak.
anak menangis (Foto: Thinkstock)
Apa penyebab vaginitis pada anak?
ADVERTISEMENT
Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan vaginitis pada anak. Penyebab yang paling umum adalah iritasi pada kulit kelamin yang dapat diakibatkan gesekan pakaian pada kulit, kelembaban, infeksi kulit (misalnya karena jamur), infeksi bakteri atau cacing dari area anus atau pelecehan seksual. Masalah kulit lainnya, seperti eksim, juga dapat mempengaruhi kulit kelamin.
Selain iritasi kulit, beberapa hal ini menjadi faktor yang meningkatkan risiko anak perempuan mengalami vaginitis:
1. Tubuh anak perempuan masih rentan
Kulit di area genital anak perempuan lebih tipis dan halus dibandingkan wanita dewasa. Kulit yang tipis dan halus ini mudah teriritasi. Anak perempuan juga belum memiliki rambut kemaluan atau lemak di daerah kemaluan yang dapat menjadi pelindung. pH vagina anak juga masih tinggi, menciptakan lingkungan yang subur bagi bakteri untuk tumbuh.
ADVERTISEMENT
Kelak ketika anak perempuan tumbuh dan tubuhnya mulai menghasilkan lebih banyak hormon estrogen untuk melindungi saluran vagina, kulit di area genitalnya pun akan menebal. Rambut di area genital yang kelak tumbuh juga akan memberi perlindungan tambahan pada area ini.
Ilustrasi dua anak perempuan bermain pasir (Foto: Pixabay)
2. Anak perempuan sangat aktif
Seperti halnya anak laki-laki, anak perempuan juga bisa saja lebih aktif dibandingkan orang dewasa. Banyak hal yang dilakukannya yang dapat mengiritasi kulit di sekitar vagina. Misalnya, bermain pasir, naik perosotan atau papan jungkat-jungkit, main air, maupun memakai pakaian renang atau baju balet yang ketat.
Ingatkan anak perempuan untuk tidak menahan pipis (Foto: Thinkstock)
3. Anak perempuan suka menahan pipis
Anak-anak perempuan yang sedang asyik bermain, sering menahan pipis (buang air kecil) atau lupa pergi ke kamar kecil. Atau mereka ingat untuk pergi pipis, tapi tidak menyeka atau membersihkan kelamin mereka dengan baik dan benar. Ketika ini terjadi, bakteri dari anus bisa masuk ke vagina. Celana dalam yang kotor juga dapat membawa bakteri bersentuhan dengan vagina dan kulit di sekitarnya.
ADVERTISEMENT
Itulah sebabnya, Anda tetap perlu membantu menyeka anak atau memandikannya untuk memastikan kelamin anak telah dibersihkan dengan seksama. Pastikan juga anak mengerti kalau kelaminnya harus dibersihkan dari depan ke belakang dan tidak boleh sebaliknya.
4. Posisi saat buang air kecil
Beberapa anak perempuan terbiasa buang air kecil dengan lutut yang rapat atau kurang terbuka lebar. Hal ini meningkatkan kemungkinan air seni akan naik ke vaginanya dan menyebabkan infeksi.
Ilustrasi anak memilih pakaian (Foto: Shutterstock)
5. Faktor eksternal seperti pakaian, sabun dan cuaca
Jenis pakaian (kain) dan sabun tertentu terutama yang mengandung pewangi dapat mengiritasi kulit anak. Selain pakaian dan sabun, udara dingin yang kering maupun panas dan kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan iritasi pada kulit, terutama jika dikombinasikan dengan pakaian renang basah atau pakaian ketat.
Ilustrasi anak diperiksa oleh dokter. (Foto: Thinkstock)
Bagaimana mengobati vaginitis pada anak?
ADVERTISEMENT
Bila Anda mencurigai anak mengamalami vaginitis, segeralah bawa anak menemui dokter keluarga atau dokter anak yang Anda percaya. Tergantung pada masalahnya dan seberapa parah gejalanya, dokter mungkin akan merujuk anak ke dokter kandungan.
Selain bertanya tentang kesehatan anak Anda dan melakukan pemeriksaan fisik, dokter umumnya akan memastikan bahwa tidak ada infeksi atau masalah kulit yang memerlukan perawatan. Kadang-kadang, dokter melakukan swab vagina atau pemeriksaan cairan dari vagina dengan usapan lembut untuk mengamati infeksi.
Dokter juga akan mengajukan pertanyaan dan memeriksa anak Anda untuk memastikan bahwa ia belum pernah mengalami pelecehan seksual.
Agar anak tetap nyaman dan tidak merasa takut, jelaskanlah pada anak perempuan Anda tentang pemeriksaan yang akan ia jalani, Moms. Gunakan kata-kata sederhana yang mudah dipahami anak dan yakinkan anak Anda akan selalu mendampinginya selama pemeriksaan berlangsung.
ADVERTISEMENT
Setelah pemeriksaan, dokter akan memberi tahu Anda apa pengobatan terbaik yang bisa diberikan untuk si kecil.
Ilustrasi ibu dan anak. (Foto: Thinkstock)
Bagaimana mencegah vaginitis pada anak?
Bantu anak perempuan Anda agar terhindar dari risiko peradangan vagina ini dengan beberapa kebiasaan dan rutinitas sederhana. Karena kulit gadis kecil Anda rentan, apa pun yang dapat Anda lakukan untuk membantu menjaga area genitalnya tetap bersih, kering dan sehat akan membantu.
Agar lebih jelas, Anda dapat mengikuti tips dari buku Apa Kata Dokter yang ditulis dr.Sony Prabowo Sp.A. berikut ini:
1. Jaga daerah kemaluan anak sebersih mungkin.
2. Hindari berendam air panas atau berenang di kolam dengan chlorin yang terlalu tinggi. Setelah berenang atau bila celananya basah, segera ganti dengan yang kering.
ADVERTISEMENT
3. Pilihlah pakaian katun untuk anak dan pastikan sabun yang digunakan anak cukup lembut untuk kulitnya.
Ilustrasi anak perempuan naik sepeda (Foto: Pexels)
4. Kurangi aktivitas yang terlalu banyak memberikan tekanan langsung pada daerah kemaluan anak perempuan. Misalnya terlalu lama naik sepeda, menunggang kuda dan sebagainya.
5. Usahakan anak tidak sering memakai celana yang terlalu ketat atau yang dapat menganggu sirkulasi udara ke area kelaminnya. Jangan lupa, cuci pakaian anak dengan deterjen ringan dan pastikan area kelamin anak (setelah mandi) benar-benar kering sebelum mengenakan pakaian.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan