Ngeri! Alat Bedah Nyangkut di Perut Ibu Ini Selama 18 Bulan Usai Operasi Caesar

9 September 2023 10:26 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Alat Bedah Nyangkut di Perut Ibu Ini Selama 18 Bulan Usai Operasi Caesar. Foto: MAD.vertise/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Alat Bedah Nyangkut di Perut Ibu Ini Selama 18 Bulan Usai Operasi Caesar. Foto: MAD.vertise/Shutterstock
ADVERTISEMENT
Bagi ibu yang melahirkan lewat operasi caesar, mungkin masih akan merasakan nyeri dan sakit di bagian perut beberapa minggu setelah persalinan. Namun, tidak bagi wanita asal Auckland, Selandia Baru, yang justru merasakan sakit perut selama 1,5 tahun usai operasi caesar. Kok bisa?
ADVERTISEMENT
National Institutes of Health merilis laporan mereka terkait kasus ini pada Senin (4/9) kemarin. Dikutip dari People, Morag McDowell, Komisaris Health and Disability Commissioner Selandia Baru-- sebuah yayasan yang fokus pada hak-hak kesehatan dan disabilitas-- melaporkan seorang wanita menderita sakit perut kronis selama 18 bulan usai menjalani operasi caesar di Auckland City Hospital pada tahun 2020. Wanita yang tidak disebutkan namanya itu sudah menjalani pemeriksaan, namun dokter tidak kunjung menemukan penyebab sakitnya.
Lalu pada 2021, ia menjalani pemeriksaan CT scan perut. Lalu, ditemukan bahwa ada retraktor Alexis (Alexis Wound Retractor/AWR) ekstra besar berdiameter 6 inci atau sekitar 17 cm tertinggal di perutnya. AWR adalah alat yang digunakan untuk menarik kembali tepi luka selama operasi, Moms.
Ilustrasi bedah. Foto: Gorodenkoff/Shutterstock
Pihak rumah sakit yang memeriksa juga ternyata luput dari beberapa pemeriksaan yang seharusnya dilakukan. Padahal, saat mengunjungi UGD, ia juga telah menjalani pemeriksaan x-rays.
ADVERTISEMENT
Setelah ditemukan penyebabnya lewat CT scan perut, AWR yang disebut seukuran piring makan itu kemudian segera dikeluarkan.
"AWR tidak terdeteksi dalam sinar-X karena merupakan 'benda yang tidak dapat tembus sinyal radio'," ungkap McDowell.

Kronologi Alat Bedah Tertinggal saat Operasi Caesar

Dikutip dari New York Post, wanita itu harus menjalani operasi caesar karena mengalami plasenta previa, atau kondisi di mana plasenta menutupi seluruh atau sebagian pembukaan rahim.
Dalam laporannya, McDowell melaporkan dokter bedah menyatakan retraktor luka yang biasa digunakan untuk operasi caesar ternyata terlalu kecil untuk wanita tersebut. Oleh karena itu, dokter kemudian memilih retraktor ekstra besar.
Ilustrasi Operasi Caesar. Foto: DedOK Studio/Shutterstock
Selain itu, seorang perawat yang ikut dalam operasi caesar tersebut menceritakan bahwa AWR tidak disertakan dalam penghitungan alat. Sebab, selama ini alat tersebut tidak termasuk dalam daftar barang yang perlu dihitung dan dicatat.
ADVERTISEMENT
"Penghitungan tidak termasuk AWR karena kemungkinan alat itu tidak masuk sepenuhnya ke dalam luka. Karena sebagian dari retraktor harus tetap berada di luar tubuh pasien" kata perawat itu yang dikutip dari laporan tersebut.
"Perlu dicatat bahwa retraktor adalah sebuah tabung bulat berbahan lembut terbuat dari plastik transparan. Alat ini dipasang pada dua cincin di masing-masing sisinya. Ini adalah benda besar, seukuran piring makan. Biasanya, alat ini akan diangkat setelah sayatan rahim ditutup, dan sebelum kulit dijahit," lanjut McDowell.
Usai temuan ini, McDowell memutuskan dewan kesehatan setempat telah melanggar hak pasien. Pihaknya juga merekomendasikan agar dewan kesehatan mengeluarkan permintaan maaf tertulis pada pasien, dan ke depannya memasukkan AWR dalam penghitungan alat bedahnya.
ADVERTISEMENT
"Sebagaimana tertulis dalam laporan saya, perawatan yang diberikan jauh di bawah standar. Dan telah mengakibatkan penderitaan berkepanjangan pada wanita tersebut," tulis McDowell.