Kumparan Logo

Orang Asia Suka Punya Anak Laki-laki, Tapi Anak Perempuan Lebih Membahagiakan

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi keluarga berencana mencari uang tambahan. Foto: shisu_ka/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi keluarga berencana mencari uang tambahan. Foto: shisu_ka/Shutterstock

Apa pun jenis kelaminnya, memiliki anak adalah anugerah yang patut disyukuri. Namun dalam beberapa budaya seperti budaya Asia, masih terjadi bias gender, di mana orang tua lebih suka anak laki-laki ketimbang perempuan.

Tapi di sisi lain, para orang tua Asia merasa lebih bahagia ketika memiliki anak perempuan. Hal ini diungkap dalam riset yang dilakukan oleh sejumlah peneliti dari Business School Monash University Malaysia pada 2023.

Penjelasan Riset Kenapa Punya Anak Perempuan Lebih Menyenangkan

Ilustrasi ibu dan anak perempuan. Foto: Dragon Images/Shutterstock

Para peneliti menyebut, tinggal bersama anak perempuan bisa berdampak baik bagi keuangan dan kesehatan. Studi tersebut menemukan bahwa tinggal bersama anak perempuan dikaitkan dengan kebahagiaan dalam empat cara, kata pemimpin peneliti Niaz Asadullah dari Monash University Malaysia.

Yakni:

1. Peningkatan kesehatan bagi para ibu saat lansia.

2. Mengurangi kesepian bagi para orang tua saat lansia.

3. Mengurangi rasa sakit atau kekhawatiran emosional pada ibu saat sudah lansia, dalam kasus anak perempuan yang memiliki hubungan baik dengan orang tuanya atau memiliki pendidikan universitas atau lebih tinggi

4. Peningkatan kondisi ekonomi bagi orang tua lansia, di mana anak perempuannya mempunyai pendidikan universitas atau lebih tinggi

“Analisis kami menegaskan bahwa perempuan lanjut usia yang tinggal dengan setidaknya satu anak perempuan lebih mungkin dilaporkan berada dalam kondisi kesehatan yang baik,” kata Profesor Asadullah, dikutip dari ABC.

Menurut Asadullah, orang tua yang tinggal dengan anak perempuan yang memiliki hubungan baik dengan mereka juga mengaku lebih tenang, nyaman, dan tidak terlalu khawatir.

“Bagi pria dan wanita lanjut usia, dibandingkan hidup sendiri, hidup bersama anak perempuan juga berhubungan positif dengan kondisi keuangan yang baik.” imbuh peneliti yang juga profesor di bidang ekonomi pembangunan ini.

Mengenai berkurangnya rasa kesepian, Profesor Asadullah mengatakan yang penting adalah tinggal bersama setidaknya dengan satu anak.

“Hal ini terjadi tanpa memandang jenis kelamin anak-anak tersebut, dan hal ini berlaku baik bagi pria maupun wanita lanjut usia,” katanya.

Profesor Asadullah menunjuk Thailand sebagai contoh utama dalam hal ini.

“Penelitian kami di Thailand, sebuah negara Asia yang tidak memiliki warisan pemilihan jenis kelamin dalam hal kesuburan, menegaskan bahwa anak perempuan juga memiliki arti yang sama bagi orang tua di masyarakat lanjut usia.”

“Dibandingkan dengan Tiongkok dan Vietnam, Thailand menawarkan konteks menarik di mana kita dapat menyelidiki kembali hubungan antara kebahagiaan di masa tua dan gender anak-anak,” katanya.

Namun Profesor Asadullah juga mengatakan penting untuk mengakui keterbatasan dalam penelitian tersebut, seperti kemauan atau kemampuan seorang anak untuk merawat orang tuanya yang lebih tua.

Kenapa Punya Anak Laki-laki Lebih Disukai di Beberapa Negara?

Ilustrasi anak laki-laki. Foto: Shutter Stock

Profesor Asadullah mengatakan penelitian mengkonfirmasi sebagian besar orang lanjut usia di Vietnam tinggal bersama dengan seorang anak laki-laki yang sudah menikah.

Demikian pula di India, hingga 79 persen lansia tinggal bersama anak laki-laki.

“Itu dibandingkan dengan hanya 39 persen yang tinggal bersama anak perempuan,” katanya.

Di Tiongkok, hanya 4,8 persen ayah dan 6,5 persen ibu yang memilih untuk tinggal bersama anak perempuan mereka.

Profesor Asadullah mengatakan jumlah anak laki-laki lebih disukai sebagian besar karena tradisi patriarki.

“Hal ini berkisar dari rendahnya nilai ekonomi perempuan, buta huruf perempuan, tradisi budaya hingga struktur sosial patrilineal.”

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membenarkan hal ini. Menurut WHO, preferensi anak laki-laki umumnya dipandang sebagai bias yang ditentukan secara sosial. Dalam masyarakat patriarki, pasangan lebih memilih untuk membesarkan anak yang memiliki karakteristik, status, dan potensi ekonomi yang diterima secara budaya.

Pada bulan Juni, laporan PBB mengungkapkan bahwa bias terhadap perempuan hampir sama dengan satu dekade lalu dan ketidaksetaraan gender masih stagnan.

Profesor Asadullah mengatakan kemudahan akses terhadap teknologi untuk aborsi berdasarkan jenis kelamin juga memperkuat bias pro-anak dalam kesuburan.

Di Asia, perempuan mengalami berbagai bentuk diskriminasi ekonomi dan pengucilan sosial sepanjang siklus hidup mereka.

“Lebih sedikit perempuan yang bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri. Di antara mereka yang beruntung mendapatkan pekerjaan, kesenjangan gender dalam hal gaji menciptakan kesenjangan gender dalam dana pensiun hari tua," katanya.

“Jika digabungkan, pola-pola ini membuat perempuan memiliki pendapatan dan tabungan yang lebih sedikit di hari tua dibandingkan laki-laki," tutup Prof Asadullah.