Kumparan Logo

Orang Tua Terlibat Kejahatan, Bagaimana Cara Lindungi Anak dari Cyberbullying?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi cyberbullying. Foto: SB Arts Media/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cyberbullying. Foto: SB Arts Media/Shutterstock

Beberapa waktu terakhir ini, media pemberitaan di Indonesia diramaikan oleh kasus yang menjerat eks Kadiv Propam Ferdy Sambo. Ia menjadi tersangka dalam dugaan pembunuhan berencana pada mendiang Brigadir Yosua.

Tak hanya kelanjutan dari progres penyelidikan, hal lain yang menjadi sorotan publik adalah kondisi anak Sambo dan istrinya, Putri Candrawathi. Mereka diketahui memiliki empat anak berusia 21 tahun, 17 tahun, 15 tahun, dan 18 bulan. Mirisnya anak-anak tersebut menjadi sasaran cyberbullying di media sosial akibat perilaku orang tuanya.

Menangggapi hal tersebut, psikolog anak Irma Gustiana mengingatkan keluarga dan masyarakat semestinya melindungi anak pelaku kejahatan dari cyberbullying. Sebab anak-anak tersebut bukan bagian dari perilaku orang tuanya.

“Memang rasanya pasti tidak enak ketika orang tua menjadi sorotan seperti ini, tetapi yang paling penting adalah meyakinkan juga kepada mereka bahwa apa yang terjadi dan dilakukan oleh orang tua yang melakukan kejahatan itu tidak ada hubungannya dengan dia,” ungkap wanita yang akrab disapa Ayang Irma tersebut.

Lantas, bagaimana sebaiknya keluarga dan masyarakat melindungi anak dari cyberbullying akibat tindak kejahatan yang dilakukan orang tuanya?

Cara Melindungi Anak dari Cyberbullying akibat Kejahatan Orang Tua

Ilustrasi anak korban cyberbullying. Foto: Shutter Stock

1. Jelaskan Apa yang Terjadi

Menurut Irma, cyberbullying yang diterima anak akibat kejahatan orang tua mungkin terasa lebih berat dibanding perundungan di kalangan pertemanan. Untuk itu, keluarga bisa menjelaskan pada anak tentang apa yang terjadi, dan pastikan untuk selalu memberikan dukungan.

“Kalau anak-anak itu memang relatif lebih besar dan dewasa, mereka sudah bisa diajak diskusi kan mengenai apa yang sedang terjadi dan meyakinkan mereka bahwa selama proses yang sedang berlangsung mereka akan tetap akan aman,” jelas Ayang.

2. Batasi Aktivitas Anak di Media Sosial

Cyberbullying di media sosial biasanya dilakukan oleh akun-akun anonim dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Untuk menghindari dampaknya pada kondisi psikologis anak, sebaiknya ajak anak untuk membatasi aktivitasnya di media sosial untuk sementara waktu sampai semua masalah itu mereda.

3. Tidak Menghakimi Anak

Ilustrasi anak korban cyberbullying. Foto: Shutter Stock

Tak hanya cyberbullying, anak mungkin bisa juga menerima komentar negatif dari tetangga, atau orang-orang di sekitarnya. Sebagai anggota keluarga dekat, pastikan Anda tidak menghakiminya serta menawarkan bantuan jika diperlukan.

“Jadi intinya, anak-anak ini kan membutuhkan perlindungan ya, dan tugasnya negara juga kita sebagai anggota masyarakat adalah melindungi mereka,” tutur Ayang.

4. Ajari Anak untuk Melaporkan Cyberbullying

Menurut Irma, anak akan merasa aman dan nyaman jika punya orang dewasa yang dipercaya. Untuk itu, anggota keluarga sebaiknya bisa menjadi tempat bagi anak untuk mencari perlindungan. Dengan begitu, anak akan merasa aman saat melaporkan cyberbullying pada keluarganya.

“Terima dulu bentuk ceritanya seperti apa dan bebaskan dia untuk menceritakan apapun yang ingin diceritakan, lalu tawarkan bantuan apa yang membuatnya merasa aman dan nyaman itu. Dan kalau mereka takut ya berikan keyakinan gitu kalau mereka bisa melaporkan apapun tindakan intimidasi yang mereka terima,” pungkas psikolog yang juga founder Ruang Tumbuh ini.

kumparan post embed