Kumparan Logo

Overprotektif ke Anak? Bisa Jadi Itu Dampak Trauma Pengasuhan Orang Tua

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Ibu dan Anak Foto: Bangkok Click Studio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ibu dan Anak Foto: Bangkok Click Studio/Shutterstock

Sebagai orang tua, kita pastinya ingin memberi yang terbaik untuk anak. Mulai dari memastikan anak makan cukup, hingga terhindar dari kesulitan.

Meski begitu, jika dilakukan dengan sikap overprotektif, maka bentuk kasih sayang tersebut justru bisa menimbulkan dampak buruk untuk tumbuh kembang anak. Kira-kira, apa yang membuat orang tua bersikap overprotektif, ya?

Bentuk Trauma yang Sering Tidak Disadari Orang Tua

Ilustrasi anak dan ibu mertua. Foto: NTshutterth/Shutterstock

Psikolog Klinis, Ratih Zulhaqqi, M.Psi, Psikolog, mengatakan dalam praktik sehari-hari, pola tersebut kerap muncul tanpa disadari. Banyak orang tua merasa sedang membantu anak, padahal justru mengambil alih kemandirian mereka.

“Dengan dalih supaya anak saya aman. Tapi setelahnya, ibu mengeluhkan kalau anaknya belum mandiri. Lalu waktu ditanya, ternyata semua pekerjaan anak dibantu,” kata Ratih kepada kumparanMOM beberapa waktu lalu.

Contohnya terlihat dari kebiasaan sederhana, seperti menyuapi anak karena dianggap makan terlalu lama, atau memandikan anak agar lebih cepat dan rapi.

Padahal, pola overprotektif seperti ini dapat berdampak pada anak, mulai dari menurunnya kemandirian hingga meningkatkan kecemasan. Dalam jangka panjang, anak bisa kesulitan mengatur emosi dan menghadapi tantangan.

Lebih jauh, Ratih menjelaskan bahwa pola ini sering berakar dari trauma orang tua sendiri.

"Sebenarnya tanpa sadar itu berasal dari trauma yang kita miliki, yang takut salah atau tidak sempurna,” jelasnya.

Nah Moms, jika Anda mulai menyadari pola ini di rumah, tidak perlu langsung menyalahkan diri sendiri. Justru, ini bisa menjadi langkah awal untuk memperbaiki pola asuh.

Cobalah memberi ruang pada anak untuk belajar mandiri secara bertahap, dan bila perlu, konsultasikan dengan profesional. Ini bukan berarti tidak sayang, tetapi memberi kesempatan anak tumbuh sesuai tahap perkembangannya, Moms.