Panduan Isolasi Mandiri untuk Ibu Hamil dan Nifas yang Positif COVID-19
ยทwaktu baca 4 menit

Virus corona memang dapat menyerang siapa saja, tak terkecuali pada ibu hamil dan mereka yang sedang menjalani masa nifas. Ya, beberapa ibu hamil mungkin khawatir bila ia terpapar COVID-19 hal ini akan berdampak pada janin di dalam kandungannya.
Belum lagi, kini hampir sebagian besar rumah sakit sudah terisi penuh dengan pasien COVID-19 yang bergejala sedang hingga berat. Untuk itu, bagi mereka yang terpapar COVID-19 dan tanpa gejala atau bergejala ringan, disarankan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah.
Nah, bagi Anda ibu hamil maupun sedang dalam masa nifas dan bergejala ringan atau OTG, berikut ada panduan isolasi mandiri yang dapat Anda lakukan dari Dr. dr. Yuyun Lisnawati, SpOG(K)-KFM. Yuk, disimak baik-baik, Moms.
Syarat Isolasi Mandiri bagi Ibu Hamil
dr. Yuyun menjelaskan, bahwa ada beberapa syarat isolasi mandiri bagi ibu hamil. Apa saja?
-Bila dokter menyatakan ibu hamil dapat melakukan isolasi mandiri.
-Ibu hamil harus mampu melakukan pemantauan terhadap dirinya sendiri.
-Rumah atau lokasi isolasi mandiri memungkinkan.
-Usia kehamilan kurang dari 37 minggu.
-Ibu hamil tidak memiliki komorbid, seperti hipertensi, obesitas, autoimun, penyakit jantung atau paru, dan lainnya.
-Adanya akses pemantauan, seperti melapor RT/RW setempat.
Selain itu, syarat lokasi isolasi mandiri bagi ibu hamil maupun ibu yang sedang dalam masa nifas, yakni rumah atau kamar tidur memiliki ventilasi yang baik, ada kamar atau ruang terpisah dari anggota keluarga lain, lingkungan mendukung, tidak serumah atau satu lokasi dengan kelompok risiko tinggi (seperti bayi, lansia, keluarga dengan imun rendah, dan komorbid).
"Bila memang serumah, sebaiknya ibu hamil berada di ruangan terpisah dengan anggota keluarga yang negatif. Ibu hamil juga harus patuhi protokol kesehatan meski hanya di rumah saja, begitu pula dengan anggota keluarga di rumah," kata dr. Yuyun dalam Webinar Awam Seri 3 bersama RSUP Persahabatan bertema "Panduan Isolasi Mandiri pada Ibu Hamil, Anak, dan Bayi dengan COVID-19" yang dihelat Rabu (14/7).
Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Selama Isolasi Mandiri
Selama isoman, masih kata dr. Yuyun, ibu hamil maupun ibu hamil diimbau untuk tidak pergi keluar rumah, seperti pergi bekerja, sekolah, atau ruang publik lainnya. Selain itu, Anda juga dianjurkan untuk tidak menggunakan transportasi publik, keluar rumah sekadar untuk membeli makanan, bahkan tidak boleh menerima tamu --termasuk keluarga atau sahabat.
"Keluar rumah hanya jika kondisi mendesak, seperti ke rumah sakit atau layanan kesehatan untuk kontrol ke dokter atau bidan," ujarnya.
Aktivitas Ibu Hamil selama Isoman
Tak dapat dipungkiri bila beberapa ibu hamil yang melakukan isoman mungkin akan merasa jenuh atau bosan berada di ruang berbeda dengan anggota keluarga lain yang tidak positif COVID-19. Untuk itu, dukungan keluarga sangat berperan penting dalam situasi saat ini, Moms.
Ya, anggota keluarga lain mungkin bisa menanyakan kabar lewat telepon atau video call ibu hamil yang sedan isoman. Anggota keluarga juga bisa memngingatkan ibu hamil untuk meminum obat.
Selain itu, ibu hamil juga perlu melakukan aktivitas lain seperti berjemur di bawah sinar matahari selama 15-20 menit, makan makanan bergizi, minum yang cukup, istirahat yang cukup setidaknya 6-8 jam, minum obat (seperti zat besi, asam folat, vitamin D, dan kalsium) yang baik untuk tumbuh kembang janin di dalam kandungan, lakukan olahraga ringan, hingga konsultasi dengan dokter secara online (telemedicine).
"Ibu hamil juga perlu meningkatkan ibadah, berpikir positif, jangan stres. Bagi ibu hamil yang bekerja mungkin capek. Ambil manfaat isoman ini sebagai me time. Lakukan sesuatu yang menyenangkan, seperti mendengarkan musik, yoga, atau membaca buku," pungkas dr. Yuyun.
Berapa Lama Harus Isoman?
Terkait berapa lama ibu hamil maupun ibu yang sedang dalam masa nifas harus isolasi mandiri, ini kembali ke petunjuk tenaga kesehatan setempat. Karena merekalah yang bisa memastikan kapan Anda sudah bisa selesai isoman.
Namun biasanya bila Anda tanpa gejala atau OTG, isolasi mandiri dilakukan 10 hari sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi. Sedangkan, pasien dengan gejala ringan 10 hari sejak munculnya gejala ditambah dengan 3 hari bebas gejala demam dan gangguan pernapasan.
"Jika gejala masih dirasakan, maka isolasi bisa diperpanjang," ujarnya.
Kapan Harus ke Rumah Sakit?
Ibu hamil maupun ibu yang sedang dalam masa nifas disarankan untuk ke rumah sakit bila mengalami salah satu tanda atau beberapa tanda di bawah ini, seperti:
-Gejala bertambah berat
-Sesak napas, napas terasa berat, dan frekuensi napas lebih dari 24 kali permenit
-Saturasi oksigen kurang dari 95 persen
-Gerakan janin melemah atau tidak dirasakan
-Tanda bahaya kehamilan dirasakan, seperti pecah ketuban, pendarahan, demam tinggi, bengkak kaki, tangan, atau wajah.
-Tanda bahaya nifas dirasakan, seperti demam, luka bekas operasi caesar, payudara bengkak, hingga pendarahan lewat jalur lahir.
