Kumparan Logo

Pentingnya Perusahaan Punya Kebijakan Ramah Keluarga Bagi Ibu Bekerja

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Ibu bekerja. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ibu bekerja. Foto: Shutter Stock

Pandemi COVID-19 banyak membuat perusahaan melakukan penyesuaian agar hak-hak ibu yang bekerja dapat tetap terpenuhi. Sebab, tidak sedikit wanita yang harus bekerja di rumah (work from home) sambil mengurus rumah tangga.

Ya Moms, situasi pandemi yang menuntut anggota keluarga banyak beraktivitas di rumah, tentu memerlukan perlakuan khusus agar aktivitas pekerjaan dan kegiatan di rumah tetap berjalan seimbang.

Apa yang bisa perusahaan akomodir dalam membuat aturan ramah keluarga kepada pekerja perempuannya?

Buat Workshop hingga Sediakan Kebutuhan Ibu Bekerja

Terkadang kita khawatir, apakah perusahaan sudah benar-benar mengakomodir ibu bekerja yang harus dibarengi mengurus suami dan keluarga yang di rumah selama pandemi?

Menurut Psikolog Rosdiana Setyaningrum, perusahaan memiliki peranan penting untuk mengenalkan pentingnya hak wanita sebagai ibu maupun karyawan.

"Bagaimana perusahaan bisa berperan? Ada workshop, itu menurut saya penting di perusahaan, bisa tentang parenting, mengurus keuangan, keluarga, bagaimana self healing. Kalau di workshop sama pentingnya kita memberikan edukasi terhadap para ayah. Para laki-laki, karena enggak bisa kita mengejar hak perempuan tanpa edukasi tentang kewajiban suami, ayah, hak dan kewajiban seimbang," ujar Rosdiana dalam webinar 'Perusahaan Ramah Keluarga: Dukung Ibu Siapkan Generasi Maju' yang diselenggarakan Danone Indonesia, beberapa waktu lalu.

Ilustrasi ibu bekerja. Foto: Shutterstock

Selain workshop, perusahaan juga diharapkan bisa menyiapkan berbagai fasilitas yang mengakomodir kebutuhan wanita, khususnya yang memiliki anak. Mulai dari cuti melahirkan, disediakannya ruang ASI, hingga daycare bagi karyawati yang ingin menitipkan anaknya selama bekerja.

"Kemudian peer support, itu seperti apa? Ini adalah lingkungan yang lebih fleksibel dan empatik. Jadilah yang baik di antara yang baik, support sesama perempuan, jangan saling menjatuhkan. Jadilah peer yang baik, karena kita enggak tahu kapan kita butuh support. Buatlah jadi lingkungan yang empati, bisa mengerti perasaan teman-teman kita dan membantu saat dibutuhkan," tutur Rosdiana.

Perusahaan Diminta Kurangi Bias terhadap Ibu Bekerja

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) Maya Juwita mengungkapkan banyak hal positif apabila perusahaan menerapkan kebijakan ramah keluarga terhadap pekerjanya.

Ilustrasi ibu bekerja. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

"79 persen perusahaan di Indonesia mengalami produktivitas yang meningkat sebagai dampak dari flexibel dan remote working, ini survei International Labour Organization/ (ILO). Sebenarnya policy ini it's good for business, juga baik untuk anak-anak. Cuti melahirkan yang lebih panjang juga menurunkan tingkat kematian bayi, meningkatkan waktu eksklusif untuk ASI dan imunisasi juga meningkat," ungkap Maya.

Namun Moms, perusahaan harus terlebih dahulu mengurangi bias terhadap pekerja perempuannya. Menurut Maya, aturan sebagus apa pun namun perusahaan yang melaksanakan masih bias, maka tidak akan berjalan efektif.

kumparan post embed

"Yang harus dilakukan pertama kali oleh perusahaan adalah mengurangi biasnya, karena bagaimana pun juga aturan dan praktik di perusahaan yang melaksanakan orang, organisasi perusahaan terdiri dari manusia. Mau aturan sebagus apa pun kalau yang melaksanakannya punya bias ya enggak jalan. Bias ini bukan hanya laki-laki ke perempuan, tapi bisa juga perempuan ke perempuan. Namun, kita tidak bisa menghilangkan bias sama sekali, semua orang punya bias di kepalanya," ungkap Maya.

Selain itu, dalam merumuskan kebijakan tersebut, perusahaan juga turut menyeimbangkan kebijakan terkait waktu, sumber daya dan layanan agar tetap memadai meski pekerjanya ada yang bekerja di rumah.

"Kebijakan tersebut perlu akomodir berbagai bentuk keluarga dan situasi kerja standar. Serta mempertimbangkan berbagai peran perempuan sebagai pekerja dan pengasuh," tutup dia.