Penyebab Balita Menahan Napas saat Marah
·waktu baca 2 menit

Ada saja perilaku balita yang bisa mengejutkan orang tua setiap harinya. Misalnya saat ngambek atau marah, kebanyakan anak mungkin akan menangis atau berteriak agar apa yang diinginkan dituruti oleh orang tuanya.
Selain itu, ternyata ada juga balita yang justru mencari perhatian dengan menahan napas saat marah. Ya Moms, Anda mungkin akan melihat si kecil menahan napas dengan ekspresi marah hingga wajahnya memucat.
Bila menemukan kondisi itu, beberapa ibu mungkin saja merasa cemas. Lantas, kenapa ya ada balita yang suka menahan napas saat marah?
Alasan Balita Menahan Napas saat Marah
Dokter anak di Nemours Children’s Health, Amy W. Anzilotti, MD, menjelaskan di laman Kids Health, perilaku itu disebut dengan mantra penahan napas sianosis yang dilakukan anak saat marah, kaget, frustasi, stres, atau kesakitan.
Menahan napas saat marah merupakan perilaku umum dan normal pada anak-anak yang sehat terutama di usia balita. Saat kondisi ini terjadi mungkin terlihat menakutkan bagi orang tua, sebab, si kecil akan menahan napas hingga wajahnya pucat membiru.
Hal ini akan dimulai ketika anak merasa kesal karena mendapatkan masalah atau menginginkan sesuatu yang tidak dapat dimiliki. Menurut dokter anak Renee A. Alli, MD, anak-anak awalnya akan akan menangis, kemudian menghembuskan napas dengan sangat keras, tetapi tidak menarik napas lagi.
Wajah anak, terutama di sekitar bibir akan membiru dengan cepat kemudian pingsan. Dalam beberapa kasus yang ekstrim, anak juga bisa mengalami kejang namun tidak memberikan dampak jangka panjang.
Meski begitu, mantra menahan napas ini biasanya tidak berbahaya bagi anak-anak dan berlangsung paling lama satu menit. Bila sampai pingsan, anak akan segera tersadar dan kondisinya kembali normal. Si kecil mungkin akan merasa lemas dan berkeringat karena menahan amarah.
Anak-anak umumnya tidak dengan secara sengaja melakukan hal ini saat marah, Moms. Sianosis merupakan respon alami tubuh anak terhadap peristiwa yang tiba-tiba terjadi. Refleks mengubah pola pernapasan, detak jantung dan tingkat tekanan darah yang akhirnya membuat si kecil pingsan.
Karena ini merupakan respons alami tubuh, maka tidak ada cara yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. Jika hal ini sudah pernah terjadi, orang tua mungkin bisa membantu dengan menjaga kestabilan emosi anak agar kemungkinan refleks ini muncul menjadi berkurang.
