Kumparan Logo

Penyebab dan Gejala Katarak Kongenital pada Anak

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penyebab dan Gejala Katarak Kongenital pada Anak. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Penyebab dan Gejala Katarak Kongenital pada Anak. Foto: Shutterstock

Katarak umumnya terjadi pada orang dewasa dan lanjut usia. Oleh karena itu, tak heran jika gangguan mata ini dikenal dengan istilah ‘mata tua’. Meski begitu, katarak juga bisa terjadi pada usia kanak-kanak, bahkan ada juga beberapa bayi yang lahir dengan kondisi katarak. Kondisi ini pun disebut sebagai katarak kongenital.

Mengutip Verywell Health, gejala umum katarak kongenital sama seperti katarak pada orang dewasa, yakni terdapat bintik putih keruh di bagian lensa mata. Akibatnya, sistem penglihatan anak bisa terganggu, seperti penglihatan tampak lebih buram, berbayang, hingga berujung kebutaan.

Nah Moms, untuk mengetahui lebih jelas seputar katarak kongenital, simak beberapa penjelasan berikut ini.

Gejala Katarak Kongenital pada Anak 

ilustrasi pemeriksaan katarak pada anak. Foto: Shutter Stock

Menteri Kesehatan RI tahun 2014-2019, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Faried Anfasa Moeloek, Sp.M(K), bintik putih pada lensa mata bayi baru lahir tidak selalu terlihat secara kasat mata. Sehingga, sebagian besar kondisi ini terdeteksi saat dokter melakukan pemeriksaan pada mata bayi. Namun sebenarnya, bintik putih tersebut sudah bisa terlihat sejak bayi di dalam kandungan, yaitu melalui pemeriksaan USG. Hanya saja, beberapa dokter dan orang tua terkadang kurang memperhatikan hal tersebut.

“Bisa dari dalam kandungan, ada bintik putih kecil gitu di mata si janin ini, tapi jarang banget ketahuan. Jadi, ya bisa terlihat waktu dokter lakukan pemeriksaan mata setelah lahir,” kata dr. Nila, dalam konferensi pers Penyaluran 2025 Kacamata Khusus untuk Anak dengan Katarak Kongenital dari Keluarga Pra-Sejahtera yang diselenggarakan oleh Optik Tunggal.

Selain timbul bintik putih, anak dengan katarak kongenital biasanya kurang tanggap atau responsif terhadap cahaya, gerakan mata tidak terkendali, dan mata tampak lebih putih ketika terkena cahaya.

Penyebab Katarak Kongenital 

Penyebab paling umum katarak kongenital adalah infeksi virus rubela. Pasalnya, sekitar 25 persen kasus katarak kongenital di RSCM disebabkan oleh infeksi virus rubela, sementara di rumah sakit Cicendo sekitar 90 persen.

“Penyebab paling sering katarak ini virus rubela. Sekitar 25 persen kasus katarak kongenital di RSCM itu karena rubela, sementara di rumah sakit Cicendo itu sekitar 90 persen, kata dr. Nila yang menjabat sebagai Menkes pada 2014-2019 ini.

kumparan post embed

Biasanya, infeksi virus ini ditularkan dari ibu selama masa kehamilan. Selain katarak, infeksi virus rubela juga berpotensi tinggi untuk menyebabkan sindrom rubela kongenital yang terdiri dari penyakit jantung bawaan, gangguan pendengaran, keterlambatan pendengaran, dan keterlambatan berbicara. Akibatnya, anak dengan katarak kongenital pun berpotensi tinggi mengalami beberapa gangguan tumbuh kembang tersebut, Moms.

Oleh sebab itu, dr. Nila mengimbau agar ibu hamil dan anak-anak mendapatkan imunisasi campak rubela sedini mungkin. Sebab, sampai saat ini, baru sekitar 76 persen penyalurannya. Jika dihiraukan begitu saja, dampak infeksi virus rubela ini dapat memengaruhi fungsi otak anak di kemudian hari.

Apakah Katarak Kongenital pada Anak Bisa Sembuh?

Peluncuran 2025 kacamata khusus katarak dari Optik Tunggal. Foto: Dok. Optik Tunggal

Jawabannya tidak, Moms. Katarak yang terjadi pada anak-anak akan berlanjut hingga dewasa dan lanjut usia. Namun menurut dr. Nila, ada beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, mulai dari operasi mata katarak, menggunakan kacamata khusus, melakukan pemeriksaan fungsi organ tubuh, hingga beberapa jenis terapi lain.

Dari beberapa cara di atas, hal utama yang perlu dilakukan orang tua adalah melakukan operasi pengangkatan katarak sebelum usia 6-10 minggu agar perkembangan visual anak semakin optimal. Setelah itu, anak perlu diberikan kacamata khusus sedini mungkin agar terbiasa digunakan hingga usia dewasa, mengingat ukuran lensa yang digunakan pada pasien katarak cukup tebal dan berat.

kumparan post embed