Kumparan Logo

Penyebab Keram Perut pada Ibu Hamil yang Perlu Diwaspadai

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penyebab Keram Perut pada Ibu Hamil yang Perlu Diwaspadai. Foto: PR Image Factory/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Penyebab Keram Perut pada Ibu Hamil yang Perlu Diwaspadai. Foto: PR Image Factory/Shutterstock

Ibu hamil sering kali mengalami berbagai ketidaknyamanan fisik, mulai dari payudara yang lebih sensitif, nyeri punggung, hingga rasa tidak nyaman seperti keram di area perut. Meski keram dan nyeri perut bisa menjadi bagian normal dari perubahan tubuh selama kehamilan, kondisi ini juga bisa menjadi tanda peringatan yang perlu diwaspadai.

Mengutip What to Expect, ketidaknyamanan di perut saat hamil umumnya tidak berbahaya, namun dalam beberapa kasus, bisa mengindikasikan masalah yang membutuhkan perhatian medis. Seperti infeksi saluran kemih, keguguran, persalinan prematur, atau preeklamsia.

Lantas, apa saja penyebab nyeri atau keram perut pada ibu hamil?

Penyebab Keram Perut pada Ibu Hamil

1. Gangguan Lambung

Ilustrasi ibu hamil gangguan lambung. Foto: comzeal images/Shutterstock

Kembung merupakan salah satu hal yang sering dikeluhkan ibu hamil. Biasanya gangguan lambung ini diakibatkan meningkatnya kadar progesteron, yaitu hormon yang melemaskan otot polos di saluran pencernaan, sehingga sistem pencernaan Anda melambat. Hal ini dapat menyebabkan perut kembung dan sembelit. Keduanya dapat menyebabkan rasa keram di perut.

Ibu hamil dapat mencegah masalah pencernaan dengan mengonsumsi makanan kaya serat, makan beberapa kali sehari dalam porsi kecil, makan dengan perlahan, dan cukupi kebutuhan air putih.

2. Keram Setelah Orgasme

Keram selama dan setelah orgasme adalah hal yang normal dan tidak berbahaya pada kehamilan berisiko rendah. Hal ini disebabkan oleh peningkatan aliran darah ke area panggul dan kontraksi rahim normal yang terjadi saat Anda orgasme. Keram ini cenderung tidak membahayakan bayi.

Artinya, Anda masih aman melakukan hubungan seks, Moms. Meski begitu, agar lebih aman, mintalah saran dokter untuk mengetahui kapan waktu yang tepat berhubungan intim ketika hamil.

3. Aliran Darah ke Rahim

Ilustrasi ibu hamil. Foto: Shutterstock

Selama kehamilan, tubuh Anda mengirimkan lebih banyak darah dari biasanya ke rahim. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan di area tersebut. Berbaring untuk beristirahat atau berendam dalam air hangat dapat membantu meredakan nyeri kehamilan ini.

4. Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Infeksi saluran kemih bisa muncul tanpa gejala. Kendati demikian sering kali menyebabkan nyeri atau tekanan di area panggul. Gejala lain meliputi urine beraroma tidak sedap, keruh, berdarah, timbul rasa nyeri, dan rasa terbakar saat buang air kecil. Masalah ini juga sering mengakibatkan demam atau keinginan untuk buang air kecil lebih sering. Ya Moms, ISK bisa menjadi serius jika tidak diobati.

5. Dehidrasi

Ilustrasi ibu hamil minum air putih Foto: Shutter Stock

Dehidrasi bisa memicu kontraksi Braxton Hicks, yaitu kontraksi ringan atau "kontraksi latihan" yang umumnya mulai terasa di pertengahan kehamilan. Meski kondisi ini normal, dehidrasi yang parah dapat meningkatkan risiko persalinan prematur, menurut sejumlah penelitian. Rasa haus mungkin tampak sepele, tetapi penting untuk menjaga asupan cairan agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik.

Oleh karena itu, disarankan ibu hamil untuk minum air setidaknya 10 gelas per hari untuk mencegah dehidrasi. Salah satu cara mudah mengenalinya adalah dengan memperhatikan warna urine. Jika berwarna kuning pucat atau hampir bening, itu tanda tubuh Anda cukup cairan.

kumparan post embed