Mom
·
16 Oktober 2020 18:22

Peran Orang Tua saat Dampingi Anak Belajar dari Rumah

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Peran Orang Tua saat Dampingi Anak Belajar dari Rumah (17416)
Anak belajar dari rumah pakai laptop. Foto: Shutterstock
Saat pandemi virus corona terjadi, sistem pembelajaran anak mau tak mau harus diubah untuk sementara waktu. Ya Moms, jika biasanya si kecil melakukan segala aktivitas belajarnya di sekolah, kini ia harus belajar dari rumah.
ADVERTISEMENT
Kondisi ini pun tak dipungkiri bisa membuat sebagian besar orang tua stres karena ketidaksiapan dirinya mendampingi anak belajar dari rumah. Ya, di sinilah peran kita sebagai orang tua benar-benar diuji, Moms.
Jangan sampai, kekhawatiran Anda sebagai orang tua di masa seperti ini, justru membuat si kecil merasa tak nyaman. Karena apa yang kita lakukan, secara tidak sadar juga dikenali anak. Ya Moms, demikian yang disampaikan Fajriyatul Hidayah, S.Pd, Terapis Edukasi/Orthopedagog.
"Karena ketidaksiapan orang tua, orang tua juga mengatasinya dengan cemas, enggak percaya diri mengajar anak-anak mereka. Itu juga dipelajari anak-anak mereka. Pasti kebaca sama anak, anaknya bisa ngikut," ujar perempuan yang akrab disapa Fajri dalam Instagram Live bersama Petak Pintar dengan tema 'Susah Belajar dari Rumah: Haruskah Waspada Masalah Kesulitan Belajar?' yang digelar beberapa waktu lalu.
Peran Orang Tua saat Dampingi Anak Belajar dari Rumah (17417)
ilustrasi orang tua bersama anak tercinta Foto: Shutterstock

Orang Tua Bisa Posisikan Diri sebagai 'Pendidik'

Orang tua juga harus menyadari bahwa pendidikan anak yang pertama berasal dari rumah. Sekolah hanyalah sebagai fasilitator saja. Saat proses pembelajaran dilakukan di rumah, masih kata Fajri, seharusnya orang tua dapat memosisikan dirinya sebagai 'pendidik' bukan guru. Terlebih menurutnya keberhasilan anak adalah tanggung jawab orang tua.
ADVERTISEMENT
"Kalau orang tua memposisikan diri sebagai guru memang susah. Kalau orang tua memposisikan diri sebagai pendidik kita enggak bertanduk (marah). Kalau sebagai guru kan mau enggak mau harus ada yang dikejar kurikulumnya, materi harus tersampaikan," tuturnya.
Lantas apa bedanya pendidik dengan guru?
Fajri kembali melanjutkan bahwa sebenarnya guru selain menjadi pengajar ia juga pendidik. Namun, perannya di sekolah adalah mentransfer ilmu. Sementara, posisi orang tua sebagai pendidik adalah mengubah sesuatu menjadi lebih baik.
"Jadi nanti anak mungkin bisa lebih survive, bisa membentengi diri, melawan tantangan zaman, dan sebagainya," ujar Fajri.
Peran Orang Tua saat Dampingi Anak Belajar dari Rumah (17418)
Ilustrasi ibu dan anak sedang belajar dari rumah. Foto: Shutterstock

Mengenal Anak Lebih Dekat

Ketika orang tua lebih dekat dengan anak di masa pandemi ini, itu artinya orang tua tentu bisa mengenali karakter anaknya seperti apa. Apalagi kini sudah hampir 6 bulan proses belajar dilakukan di rumah, orang tua harus bisa menghargai kekurangan maupun kelebihan anak.
ADVERTISEMENT
Fajri menyarankan agar orang tua tak memaksa anak harus selalu bisa melakukan hal apa yang kita perintahkan atau sesuai dengan konsep dan keinginan kita. Ada baiknya, orang tua dapat melihat potensi si kecil ada di bidang apa dan telusuri lebih dalam lagi potensinya itu.
"Kenapa ada hal yang suka bikin kita marah-marah? Karena kita suka berekspektasi sesuai dengan apa yang kita inginkan dan sebenarnya anak kita bukan di situ (bidangnya)," pungkasnya.
Peran Orang Tua saat Dampingi Anak Belajar dari Rumah (17419)
Ilustrasi ibu menemani anak belajar. Foto: Shutterstock

Konsisten dengan yang Diperankan

Moms, ketika Anda mendampingi anak belajar di rumah, Anda harus konsisten dengan apa yang Anda perankan. Jangan sampai, Anda hanya sewaktu-waktu saja dapat menemaninya belajar atau hanya sesekali mengecek pekerjaannya. Padahal, si kecil sebenarnya butuh kehadiran Anda untuk membantunya dalam mengerjakan tugas misalnya. Menurut Fajri, konsistensi Anda dalam mendampingi si kecil belajar juga sangat berdampak pada perkembangannya.
ADVERTISEMENT
"Konsistensi orang tua sebenarnya ngajarin anak buat konsisten juga. Kalau dalam prosesnya kita selalu marah dengan kesalahan, mungkin anak juga akan marah dengan kesalahan orang lain. Bisa jadi seperti itu. Jadi, kita harus berhati-hatilah," tutupnya.