Persiapan Program Bayi Tabung seperti yang Dilakukan Asmirandah
·waktu baca 3 menit

Pasangan Asmirandah dan Jonas Rivanno dikabarkan akan kembali menjalani program bayi tabung untuk anak keduanya. Ya Moms, metode ini pernah dilakukan Asmirandah saat hamil anak pertamanya, Chloe.
Saat ini, Chloe sudah tumbuh dengan sehat dan pintar di usianya yang hampir menginjak 3 tahun. Menurut Asmirandah, putrinya itu kini sudah siap untuk punya adik.
“Kayaknya Chloe sudah siap punya adik, tapi kita enggak mau yang buru-buru nih, langsung pokoknya harus jadi. Yang penting agak santai menjalankan programnya dan tetap mengikuti apa kata dokter," ujar Asmirandah di kawasan Serpong Utara, Tangerang Selatan, kepada kumparan beberapa waktu lalu.
Wanita berusia 33 tahun itu juga mengaku pernah mengalami keguguran pada program bayi tabung sebelumnya di tahun 2020. Oleh karenanya, kini ia tidak mau terburu-buru dan memilih untuk mengatur pola hidupnya lebih sehat agar program hamilnya berjalan lancar.
Lantas, apa saja yang perlu dipersiapkan saat menjalani program bayi tabung?
Persiapan untuk Melakukan Program Hamil dengan Bayi Tabung
Program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) menjadi salah satu alternatif bagi pasangan yang kesulitan hamil melalui pembuahan alami. Bayi tabung dilakukan dengan cara menggabungkan sel telur dan sperma di luar tubuh. Kemudian, sel telur yang sudah dibuahi dan sudah dalam fase siap akan dipindahkan ke dalam rahim wanita.
Banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk menjalani program IVF, seperti kesehatan tubuh, finansial, dan terutama kondisi fisik serta mental pasangan suami istri. Sebab, perjalanan dari program ini akan sangat panjang dan menyita energi, Moms.
Sebelum melakukan serangkaian prosedur bayi tabung, pasangan akan melakukan skrining awal untuk mengetahui riwayat kesehatan, berapa lama usia perkawinan, siklus haid, frekuensi berhubungan seks, hingga kemungkinan riwayat konsumsi obat-obatan.
Prosedurnya berkisar antara 2-4 minggu dalam satu kali siklus, tergantung dari kondisi calon ibu. Selama rentang waktu itu, calon ibu akan diminta melewati berbagai prosedur lain, di antaranya:
Mengonsumsi obat-obatan.
Suntik hormon untuk memproduksi sel telur.
Tes darah atau USG untuk menentukan kesiapan pengambilan sel telur.
Pengambilan sel telur.
Mempertemukan sel telur dengan sperma pasangan.
Menyimpan embrio hasil pembuahan sel telur dan sperma yang telah dipertemukan untuk memastikan perkembangannya maksimal.
Setelah embrio cukup matang, dokter akan memasukkan semacam tabung penyalur yang disebut kateter ke dalam vagina hingga sampai ke dalam rahim. Dua minggu setelahnya, calon ibu akan diminta untuk melakukan tes kehamilan. Hasilnya, tentu saja ada yang berhasil dan ada pula yang tidak. Oleh karenanya, dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk melakukan lebih dari satu siklus sampai berhasil hamil.
Penyebab Program Bayi Tabung Ada yang Berhasil dan Gagal
Menurut Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dr. Arie Adrianus Polim,D.MAS, SpOG(K), keberhasilan bayi tabung bergantung pada usia dan gaya hidup calon ibu. Adapun usia optimal dari wanita untuk keberhasilan proses bayi tabung yaitu sekitar 23-35 tahun. Lebih dari usia tersebut, tingkat keberhasilannya cenderung lebih rendah.
Ada juga faktor embrio, anatomi rahim, kondisi hormonal, dan kondisi sperma calon ayah juga mempengaruhi keberhasilan program bayi tabung yang dijalani oleh setiap pasangan.
“Kemudian masalah anatomi rahimnya, misalnya ada suatu kondisi yang patologis misalnya salurannya ada pembengkakan, ada kista, itu juga bisa mempengaruhi keberhasilan. Kondisi hormonal, contohnya orang yang mengalami polycystic ovary syndrome atau PCOS juga akan mempengaruhi kualitas embrio. Tapi faktor pria juga perlu diperhatikan, bukan hanya sel telur, sel sperma juga yang menjadi faktor yang utama,” jelas dr. Arie pada kumparanMOM.
