Psikolog: Pelaku Pelecehan Seks pada Anak Belum Tentu Pedofil
ยทwaktu baca 4 menit

Awal minggu ini, seorang pria asal Caringin, Kabupaten Sukabumi yang berinisial DD diringkus Jajara Polres Sukabumi karena diduga melakukan pelecehan seksual kepada 12 anak-anak. Kapolres Sukabumi, AKBP Nasriyadi, menyebutkan, tersangka menjalankan aksi bejatnya di sebuah gubuk yang di Kampung Coblong, Sukabumi. Para korban diikat tangannya lalu digantung ke atas atap gubuk bambu hingga akhirnya dicabuli satu per satu.
DD diketahui tidak mempunyai pekerjaan dan belum menikah, bahkan disebut tetangganya mempunyai gangguan jiwa karena sering keliling kampung dengan tujuan yang tidak pasti. "Tapi setelah kita cek tes kesehatan di spesialis kejiwaan (psikiater) didapati tes kesehatannya sehat dan tidak terganggu kejiwaannya, dan memang terdapat penyimpangan seks dari hasil tes kesehatan jiwanya," ujar AKBP Nasriadi saat dihubungi oleh kumparan, Selasa (25/9).
Bila penyimpangan seks yang dimaksud di sini adalah pedofilia, maka kasus dari Kampung Coblong ini menambah lagi daftar panjang kasus pedofilia di Indonesia.
Terkait hal ini, Anda perlu memahami bahwa tidak semua pelaku pelecehan seksual pada anak serta merta dapat disebut pedofil, Moms. Menurut psikolog dari HIMPSI Jaya (Himpunan Psikolog Indonesia Wilayah DKI Jakarta), Edward Andriyanto Soetardho M.Psi pedofilia seringkali disalahartikan. Karena banyak kesalahan pemahaman tentang pedofilia, saat ini sulit untuk mendapatkan data mengenai penderita pedophilia.

"Pedofilia sendiri adalah bagian dari parafhilia, yaitu sebuah kondisi di mana seseorang memiliki ketertarikan secara seksual dan memuaskan diri mereka dengan cara membayangkan atau terlibat dalam hubungan seksual dengan hal-hal ekstrim atau tidak lazim," papar Edward yang juga berpraktik di Klinik Psikologi Sauh, Jakarta Selatan, pada kumparanMOM, Kamis (27/9).
"Pedofilia adalah mereka yang memiliki ketertarikan atau memuaskan hasrat mereka dengan membayangkan atau melakukan hubungan seksual dengan anak yang berusia 13 tahun ke bawah. Mereka bisa saja tertarik dengan anak yang berlawan jenis atau sama jenis kelamin dengan mereka," Edward meneruskan, "Variasi perilaku mereka beragam, mulai dari membayangkan, melihat, menelanjangi, menyentuh, oral seks, menyentuh atau meminta disentuh di bagian kelamin, anal seks, penetrasi vaginal."

Lantas bagaimana ciri-ciri seseorang pedofil? Menurut Edward, seorang psikolog klinis biasanya akan memastikan apakah orang tersebut memiliki ketiga ciri di bawah ini:
1. Fantasi, dorongan, atau perilaku yang berulang dan intens untuk melakukan hubungan seksual dengan anak yang belum memasuki masa puber (umumnya berusia 13 tahun atau lebih muda) setidaknya selama 6 bulan.
2. Dorongan ini menimbulkan stres secara signifikan, kegagalan berfungsi secara sosial, pekerjaan, atau keberfungsian lainnya.
3. Orang tersebut setidaknya berusia 16 tahun atau usianya 5 tahun lebih tua dari anak.
Jadi bila ada satu saja dari ketiga ciri ini yang tidak sesuai dengan seseorang, maka ia tidak bisa didiagnosis pedofilia, meski melakukan pelecehan seksual pada anak. Dengan kata lain, tidak semua pelaku pelecehan seksual pada anak adalah seorang pedofil. Sebaliknya, tidak semua pedofilia memiliki dorongan untuk melakukan pelecehan.
"Bila diberi penanganan medis dan psikologis yang tepat, seorang dengan pedofilia akan lebih mampu menahan diri untuk tidak menuntaskan dorongan mereka," Edward menegaskan.

Demikian juga, orang yang melakukan pelecehan seksual pada anak, bisa saja bukan pedofil dan sebenarnya memiliki dorongan untuk melakukan hubungan seksual dengan orang dewasa yang sewajarnya. Tetapi mungkin mereka tidak dapat memenuhi dorongan mereka kepada objek seksual mereka karena satu dan lain hal.
Inilah akhirnya kenapa mereka memenuhi dorongannya kepada anak-anak bisa yang memiliki peluang untuk melapor lebih kecil. Anak punya keterbatasan bahasa atau ketakutan yang mereka miliki atas orang dewasa yang melakukan pelecehan kepada mereka.
Tidak hanya itu, anak-anak juga kurang memiliki tenaga untuk melawan sehingga lebih mudah bagi orang dewasa untuk menguasai si anak. Jadi pelaku melakukan pelecehan karena kesempatan dengan anak-anak lebih besar.
Lalu bagaimana seharusnya kita sebagai orang tua menyikapi semua ini? Teruslah berhati-hati dan waspada, Moms! Perhatikan selalu siapa-siapa saja yang berinteraksi atau ada di sekitar anak Anda. Selain itu, pastikan Anda mengajari anak beberapa hal yang dapat melindungi dirinya dari pelecehan seksual yang bisa Anda baca di sini.
