Kumparan Logo

Remaja 18 Tahun Kena Faringitis karena Rokok dan Vape, Simak Bahayanya!

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rico Thomas Dwi Ardhana (18) asal Klaten, mengidap bronkitis dan faringitis akut usai 7 tahun merokok dan vape. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Rico Thomas Dwi Ardhana (18) asal Klaten, mengidap bronkitis dan faringitis akut usai 7 tahun merokok dan vape. Foto: Dok. Pribadi

Remaja 18 tahun asal Klaten, Jawa Tengah, Rico Thomas Dwi Ardhana, harus bolak-balik dirawat di rumah sakit. Dalam setahun terakhir ia harus masuk rumah sakit hingga 4 kali. Penyebabnya ialah karena memiliki kebiasaan merokok dan mengisap rokok elektrik alias vape.

Rico mengaku, gejala awal yang dirasakannya adalah sesak napas, nyeri di bagian dada kanan, serta pegal di bagian dada dan punggung.

video story embed

"Demam naik-turun selama sebulan. Setelah itu dibawa ke Rumah Sakit JIH Solo, lalu didiagnosis faringitis akut, bronkitis akut, dan laryngopharyngeal reflux disease,” kata Rico saat dihubungi.

Bahaya Rokok Elektrik atau Vape

Menanggapi hal tersebut, Dokter Spesialis Anak, dr. Aisya Fikritama, Sp.A menyebut, rokok elektrik atau vape seringkali dianggap lebih sehat daripada rokok konvensional yang berbahan baku tembakau.

Ilustrasi Vape. Foto: Shutter Stock

"Tetapi kenyataannya vape pun juga enggak lebih aman dibandingkan rokok biasa. Karena keduanya sama-sama menyebabkan gangguan kesehatan, " ujar Dokter Aisya kepada kumparanMOM.

Dokter Aisya menjelaskan, di dalam vape terkandung nikotin, karsinogen, serta bahan toksik atau kandungan racun lainnya. Bahan-bahan inilah yang berisiko membahayakan kesehatan paru-paru.

"Jadi adalah hal yang tidak benar kalau rokok elektronik lebih aman karena mereka sama-sama ada kandungan ini meskipun tidak mengandung tar. Ternyata rokok elektronik itu juga tetap ada bahan karsinogen yang menyebabkan kanker, " imbuhnya.

Dampak Vape Bagi Tubuh

Menurut Dokter Aisya, banyak komponen dalam rokok elektronik yang tidak terdapat pada rokok konvensional begitu pula sebaliknya. Di sisi lain, baik vape atau rokok elektronik bisa menyebabkan adiksi atau ketagihan.

Ilustrasi vape. Foto: REUTERS/Adnan Abidi

Dalam jangka panjang, merokok dan mengisap vape juga bisa menyebabkan masalah paru-paru seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asma, dan juga kanker paru.

Secara keseluruhan, kata dr. Aisya, dampak vape pada paru mulai dari iritasi, gejala pernapasan, bronkitis, asma, PPOK, pneumonia, paru-paru bocor, hingga kanker paru.

"Dan asap rokok konvensional merupakan penyebab kerusakan terhadap paru yang serupa dengan rokok elektronik" kata Dokter Aisya.

Kemudian, vape dapat meningkatkan risiko penyakit paru termasuk asma, 30% lebih besar daripada tidak merokok sama sekali. Risiko asma juga lebih besar jika pernah jadi perokok konvensional.

kumparan post embed