Remaja di Inggris Kini Dibantu Balita untuk Mengatasi Masalah Mental di Sekolah
ยทwaktu baca 4 menit

Kehadiran anak-anak balita tidak hanya membuat orang tuanya bahagia, tetapi anak-anak remaja lainnya yang berisiko mengalami masalah kesehatan mental. Di Inggris, kini ada sebuah proyek yang melibatkan anak-anak balita untuk turut menemani beberapa anak remaja di sekolah. Apa yang para balita ini lakukan?
Nah Moms, beberapa orang tua mengaku khawatir anak-anak remaja mereka tidak mau pergi ke sekolah setelah libur musim panas berakhir, serta minimnya keterlibatan di kelasnya.
Masalah ketidakhadiran di sekolah dianggap telah menjadi masalah besar, sehingga membuat sebuah lembaga amal mencoba menciptakan program baru. Sebab, sebuah penelitian menunjukkan, seorang remaja yang terlibat dan bertanggung jawab atas anak yang lebih muda dalam lingkungan terkendali di sekitarnya, maka dapat lebih banyak dampak positif terhadap keterlibatan mereka di sekolah dan waktu pembelajaran.
Sejak pandemi COVID-19 khususnya, ketidakhadiran siswa remaja di sekolah hampir dua kali lipat. Pada tahun ajaran 2024/2025, 17,79 persen siswa terus-menerus tidak hadir, yang berarti mereka kehilangan 10 persen atau lebih sesi belajar di sekolah.
Data menunjukkan dari 10 hari saja ketidakhadiran mereka di sekolah, maka mengurangi separuh peluang untuk mendapatkan nilai minimal 5 dalam pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika.
Cerita Anak Remaja di Inggris yang 'Ditemani' Balita
Dikutip dari BBC, Siena (13) mengaku tidak menyangka akan belajar banyak tentang komunikasi dan kepercayaan diri dari seorang anak berusia tiga tahun. Ia menjadi bagian dari proyek yang memasangkan remaja dengan balita dari tempat penitipan setempat, sebagai upaya membantu meningkatkan kehadiran dan keterlibatan para remaja ini di sekolahnya.
Siena mengaku ia sering mengalami kecemasan, sehingga tidak masuk ke sekolah. Tetapi, kehadiran anak-anak balita di sekolah mereka rupanya turut mengajari Siena lebih banyak hal tentang cara berkomunikasi dan belajar lebih percaya diri.
"Dan lucunya, seorang balita yang mengajari kami banyak hal! Ini sangat membantu saya. Balita yang dipasangkan ke saya telah tumbuh besar dan saya senang melihatnya," ucap Siena kepada BBC Morning Live.
Lalu ada Miller (12), murid lain yang mengaku kesulitan untuk tetap diam di kelas karena ia mengaku memiliki lebih banyak energi. Namun, sesi belajar sambil ditemani anak balita rupanya telah membantunya lebih fokus pada tugas-tugas sekolahnya. Miller dipasangkan oleh seorang balita bernama Andrew (3), dan kini sudah sangat dekat, lho!
"Saya agak gugup dan butuh waktu dua minggu untuk menyetujui proyek (ditemani balita) ini karena saya sangat pemalu. Saat dia [Andrew] melihat saya kini, dia berlari menghampiri dan memeluk saya!" kata Miller.
Selain membantu mengembangkan kepercayaan dirinya, Miller mengaku sesi ini membantunya merasa lebih tenang dan mengurangi energiknya di dalam kelas.
Bagaimana Awal Mula Proyek Ini Dicanangkan?
Direktur Layanan Power2 --lembaga amal yang menjalankan proyek ini--, Sam Marcus, menyebut proyek tersebut baru ada di dua kota, London dan Manchester. Lembaga ini menawarkan berbagai program bimbingan kepada anak dengan segala usia, dan selama bertahun-tahun sudah membantu 27.000 anak dan remaja untuk kembali bersekolah.
Proyek khusus ini berlangsung selama 16 minggu, di mana para remaja akan diajak untuk mengunjungi tempat penitipan anak setempat seminggu sekali dan masing-masing membimbing satu anak balita. Pemasangan anak remaja dengan balita juga dilakukan matang-matang, Moms.
"Sering kali berdasarkan kepribadian, jadi balita yang sangat ceria mungkin dipasangkan dengan remaja yang pemalu. Atau balita yang pemalu dipasangkan dengan remaja yang aktif dan energik. Ini membantu menciptakan berbagai sisi yang lebih lembut di dalam diri mereka," ungkap Marcus.
Dengan mendapat pasangan yang mungkin memiliki kepribadian berbeda, maka diharapkan dapat membantu membangun kepercayaan diri dan tanggung jawab. Serta, mendorong mereka untuk hadir di sekolah karena memiliki rasa tanggung jawab, yang sering kali tidak diberi kesempatan untuk menjalankan posisi tersebut.
"Jika seorang anak membuat keributan di kelas, itu karena mereka sering kali tidak diberi kesempatan untuk membuktikan dirinya lebih dari itu. Kami membantu remaja tersebut menjadi panutan yang positif bagi anak-anak balita," jelas Marcus.
Biasanya, para remaja turut akan diajak untuk mengikuti sesi refleksi setelah kunjungan ke tempat penitipan anak, sekaligus membahas hubungan sehat dan positif yang mereka jalani.
Hasil penelitian dari studi ini menunjukkan, 78 persen anak muda yang mengikuti proyek tersebut mengalami peningkatan sikap positif selama pembelajaran, dan 83 persen mengalami peningkatan harga diri.
Tidak hanya bagi anak-anak remaja, tetapi dampaknya juga turut dirasakan oleh para balita yang berpartisipasi. Menurut seorang pendamping di tempat penitipan anak, Lisa, anak-anak balita di tempatnya sering kali mengalami keterlambatan bicara atau kesulitan berteman. Namun, setelah adanya proyek ini, banyak dampak positif yang terjadi pada para balita tersebut.
"Mereka senang sekali punya orang spesial [yang hadir] setiap Jumat. Senang sekali melihat mereka punya waktu berduaan [dengan siswa yang lebih tua] dan berlarian dengan para remaja itu setiap minggu," tutup Lisa.
