Saat Anak Bertanya: Kenapa Paskah Kali Ini Kita #DiRumahAja?

Virus corona membuat Paskah kali ini berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ya Moms, sesuai imbauan Presiden Jokowi, tak ada ibadah maupun perayaan Paskah di Gereja.
Kita tahu hal ini memang perlu dilakukan demi kebaikan dan keselamatan bersama. Tapi untuk anak, rasa kecewanya mungkin lebih dalam karena ia jadi kehilangan momen-momen khas Paskah yang mungkin telah lama dinanti-nanti.
Mulai dari beribadah bersama keluarga di gereja, lomba menghias dan mencari telur, dapat bingkisan Paskah, juga bermain pertunjukan atau teater drama penyaliban Kristus.
Lantas, bagaimana sebaiknya kita menjelaskan kondisi ini pada anak?
Yuk, ikuti tips dari Pastor Paroki Tyas Dalem Kroya, Jawa Tengah, RD. Frans Kristi Adi Prasetya.
"Orang tua bisa bilang, kita tidak merayakan di gedung Gereja, melainkan di hati dan di rumah ini, yakni keluarga. Keluarga disebut juga gereja kecil, lho," katanya kepada kumparanMOM, belum lama ini.
Maksudnya, bagi umat Katolik, keluarga adalah gereja kecil karena keluarga merupakan persekutuan dasar dan persemaian iman. Sebagai panggilan khas Katolik, keluarga diharapkan menjadi tempat yang tepat untuk setiap anggotanya mengalami kehangatan cinta, saling menghormati dan mempertahankan kehidupan.
Pastor yang juga Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Purwokerto, Jawa Tengah ini kemudian melanjutkan alasan yang bisa masuk logika anak-anak dan bisa kita tiru, Moms. "Hari-hari ini banyak banget orang sakit, nama penyakitnya COVID-19, yang disebabkan oleh virus corona. Para pemimpin Gereja tidak ingin banyak umat tertular satu dengan yang lain, jika masih tetap mempertahankan kerumunan umat dalam peribadatan."
"Ingat, virusnya bisa menular dengan mudah, lho! Yaitu bisa menempel di buku-buku panduan, di bangku-bangku gereja, karena bisa saja dibawa oleh umat lain. Belum lagi, kalau umat lain ada yang batuk atau bersin tapi tidak ditutup dengan lipatan siku bagian dalam. Penularannya pun akan makin cepat. Yesus, kan ingin agar umatnya sehat dan bahagia, bukan malah saling sebarkan sakit. Jadi karena alasan itulah, Paskah tahun ini kita merayakan di rumah dalam keluarga," sambungnya.
Namanya anak-anak, kadang mereka baru bisa menerima kalau temannya juga 'bernasib sama', Moms. Dalam hal ini, kita bisa saja menyertakan anak lain turut jadi alasan.
"Tidak cuma keluarga kita saja, lho. Keluarga teman-temanmu juga. Di Gereja, hanya Romo (Pastur) dan petugas liturgi, itupun hanya sedikit dan sederhana yang misa di Gereja. Syukurlah, kita dibantu dengan berbagai macam media yang bisa menyiarkan secara online, entah lewat Youtube streaming, Instagram Live, Facebook Live, sehingga kita bisa ngikut romo misa dari rumah," tambah pastor yang akrab disapa Romo Kristi ini.
Nah selanjutnya, merayakan Paskah di rumah bukan berarti asal-asalan, Moms. Lantas, apa yang perlu keluarga kita lakukan?
"Mari kita rayakan Paskah ini dengan gembira dan penuh semangat di keluarga kita masing-masing bersama gereja seluruh dunia. Apa yang bisa kita lakukan? Ikut misa bersama keluargamu. Siapkan meja, pasanglah salib meja, diapit dua lilin bernyala. Lalu siapkan TV, komputer, atau hpmu untuk mengikuti misa online. Rasakan indahnya kebersamaan dalam keluarga. Ikuti ketentuan-ketentuan mengikuti misa online dengan baik, yakni: ikut dari awal sampai akhir, pakai pakaian yang pantas, tidak nyambi ini itu, tidak boleh sambil ngemil, berdoa dengan khusuk, juga dengan hati gembira," tutupnya.
Sudah siap meneruskan tips dari Romo Kristi di atas kepada anak-anak, Moms?
****
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran coronavirus. Yuk, bantu donasi sekarang!
