Kumparan Logo

Saat Anak Dipukul Teman, Harus Membalasnya atau Tidak?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
14
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak jadi korban bully. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak jadi korban bully. Foto: Shutterstock

Perundungan atau bullying merupakan masalah yang kerap muncul di lingkungan sekolah atau pertemanan anak. Tak hanya secara verbal, beberapa pelaku perundungan terkadang juga melakukan kekerasan fisik pada anak, misalnya saja memukul.

Sebagian orang tua mungkin akan mengajarkan anak untuk membalas pelaku jika mendapat kekerasan fisik, seperti dipukul atau ditendang. Namun, apakah bijak mengajarkan hal itu ke anak?

Kata Ahli soal Apa yang Harus Dilakukan Anak saat Dipukul Teman

Apa yang perlu dilakukan saat anak dipukul teman? Foto: Shutterstock

Menurut psikolog klinis anak, remaja, dan keluarga Roslina Verauli, M.Psi., Psi., mengajari anak untuk membalas perlakukan kasar dari temannya justru bisa membuat anak menjadi pelaku kekerasan.

“Bila kita mendukung anak untuk segera membalas aksi temannya, artinya kita sedang mendukung anak untuk menampilkan perilaku agresif daripada sedang membuat perlindungan atas dirinya sendiri.” jelas Vera, sapaan akrabnya, dalam salah satu unggahan Instagram Reels-nya.

Tak hanya itu, anak juga berisiko mendapatkan konsekuensi hukum atas tindakannya jika membalas kekerasan temannya.

“Saat anak dilatih untuk melakukan aksi agresif, maka agresivitas anak akan potensial menimbulkan luka pada anak lain, bahkan bekas. Artinya, anak sedang melakukan aksi kekerasan. Aksi kekerasan itu sudah memiliki konsekuensi hukum. Apakah kita bagi orang tua saat anak potensial untuk memperoleh sanksi hukum? Tentu tidak,” lanjut Vera.

Lantas, Apa yang Harus Diajarkan Orang Tua?

Ilustrasi anak menjadi korban kekerasan teman. Foto: Shutter Stock

Daripada mengajari anak untuk membalas perilaku kasar dari temannya, orang tua sebaiknya melatih anak untuk membela diri dan berani melakukan penolakan atas kekerasan tersebut.

“Yuk, kita latih anak untuk mampu defense atas dirinya, untuk mampu memberikan proteksi atas dirinya, bukan secara fisik, namun secara verbal,” kata psikolog yang praktik di RS Pondok Indah, Jakarta Selatan ini.

"Latih anak untuk mengatakan tidak. (Misal) 'Hei, apa ini, gue enggak suka dipukul'," tambahnya.

Selain itu, penting bagi orang tua untuk mengajari anak untuk menyimpan bukti dan melaporkan tindak kekerasan ke orang-orang di sekitarnya, seperti guru, teman, atau pada orang tua sendiri.

Menurut Vera, langkah-langkah tersebut bisa mencegah anak untuk tidak menjadi pelaku kekerasan di masa depan seperti yang dilakukan temannya tersebut.

“Jangan sampai upaya kita untuk mendorong anak, mendukung anak melakukan proteksi atas dirinya justru kelak menjadi petaka karena anak malah belajar menjadi pelaku kekerasan,” pungkasnya.

kumparan post embed