Saran Psikolog soal Komunikasi yang Baik Antara Ibu dan Support System
ยทwaktu baca 3 menit

Setiap ibu pasti ingin memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Namun, ada kalanya Anda bisa merasa sedih karena hal-hal yang dilakukan ternyata tidak seperti harapan.
Padahal, Anda tidak semestinya merasa seperti itu kok, Moms. Menurut psikolog anak sekaligus Co-Founder Tiga Generasi Saskhya Aulia Prima, M.Psi, di dunia ini tidak ada ibu yang benar-benar sempurna. Karena, setiap wanita pun memiliki batasan kapan ia mampu dan tidak mampu dalam menjalankan perannya. Maka dari itu, Saskhya menyarankan untuk bisa memiliki support system untuk mengoptimalkan peran sebagai seorang ibu.
"Kan penginnya jadi ibu yang sempurna, terus jadi berpikir semua perlu kita kerjain. Tapi namanya bunda kan manusia, ada beberapa hal yang harus dibantu agar optimal ," kata Saskhya dalam acara Kick Off Cussons Bintang Kecil 2022 secara virtual.
Ada kalanya kita pun membutuhkan orang lain untuk membantu memaksimalkan peran Anda sebagai ibu. Suami mungkin bisa jadi orang terdekat yang bisa diandalkan. Tetapi ada kalanya suami berhalangan karena bekerja atau memiliki aktivitas lain yang tak bisa ditinggalkan. Jadi, meminta bantuan dari anggota keluarga atau kerabat lain kerap menjadi salah satu solusinya.
Nah Moms, agar kehadiran support system bisa optimal, pastikan Anda bisa berkomunikasi dengan baik.
Pentingnya Komunikasi yang Baik Antara Ibu dan Support System
Anda mungkin pernah merasa kesulitan mengungkapkan butuh bantuan. Terkait itu, Saskhya menyarankan untuk menggunakan teknik komunikasi sandwich. Apa maksudnya?
"Kalau aku biasanya pakai teknik komunikasi sandwich sama orang tua, aku buka sama sesuatu yang baik dulu. Seperti, 'makasih ya sudah jagain, jemput anak. Tapi kemarin baru dapat info jangan main gadget terus-terusan. Ditutup dengan, 'boleh enggak Mama Papa bantuin cucunya makin oke lagi? Kalau main gadget cuma segini aja'. Itu salah satu teknik komunikasi yang baik, taruh message di tengah, terakhir minta bantuan," jelas Saskhya.
Jadi, bila dianalogikan, komunikasi sandwich adalah berkomunikasi secara terstruktur, yang dimulai dari positif-negatif-positif. Cara ini diyakini bisa menyampaikan pesan secara positif tanpa ada yang perlu merasa tersinggung.
Cara tersebut bisa juga diterapkan kepada suami, bila selama ini komunikasi yang terjalin belum cukup terbuka. Saskhya berpesan agar pasangan suami istri perlu ngobrol setiap hari, dan ungkapkan keinginan Anda bila membutuhkan bantuan. Apalagi, pekerjaan rumah tangga hingga pengasuhan anak memerlukan kerja sama dengan suami.
"Hasil penelitian sebenarnya ayah-ayah pengin bantu tapi enggak tahu mau bantu apa dan enggak percaya diri. Belum lagi misalnya minta tolong gendong anak [dikomentari] kurang ini itu. Jadi harus ada waktu juga enggak apa-apa kasih waktu ayah untuk berinteraksi dengan anak. Karena bapak-bapak ini secara otak beda dengan bunda. Kalau ayah fokus problemnya apa. Jadi kita kasih tahu butuh bantuannya apa," tutur Saskhya.
Selain mendapat support system, ia turut berpesan bagi setiap ibu untuk memiliki keseimbangan hidup. Jangan lupa untuk memperhatikan kondisi fisik, makanan, dan olahraga. Ketiga hal ini penting dilakukan karena bisa memengaruhi mood seseorang agar lebih tenang dalam menjalankan aktivitasnya.
"Standarnya perhatikan fisik, makanan sehat, dan olahraga. Kenapa? Supaya emosional dan hormon terbantu, biar lebih tenang. Karena 90 persen hormon yang berkaitan dengan mood dipengaruhi makanan dan aktivitas fisik," pungkasnya.
